Anggota DPR RI Eva Sundari Dorong Petani Beralih ke Pertanian Organik

Eva Kusuma Sundari (4 dari kanan) bersama petani di Desa Kedawung Kab Blitar
Eva Kusuma Sundari (4 dari kanan) bersama petani di Desa Kedawung Kab Blitar

JATIMTIMES, BLITAR – Kalangan petani di Provinsi Jawa Timur terus didorong untuk beralih ke pertanian organik sehingga bisa mandiri dan tidak bergantung pada pemerintah, khususnya terkait dengan pupuk bersubsidi.

Anggota DPR RI, Eva Kusuma Sundari, menegaskan dukungan pemerintah sangat diperlukan agar para petani  beralih ke pertanian organik. Sebagai salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk buatan pabrik. Bukan hal mudah untuk memberikan pemahaman kepada para petani untuk beralih ke pertanian organik.

“Kami mengharap Kementrian Pertanian memberikan dukungan berupa pembuatan demplot masing-masing seluas 20 hektar di Kabupaten Blitar dan Kediri sebagai bagian program pengembangan pertanian organik. Ini tugas dari konstituen yang harus saya kawal ke Kementan, meski saya di Komisi Keuangan. Saya mendukung penuh gagasan pengembangan pertanian organik, saatnya telah tiba,” kata Eva Kusuma Sundari kepada BLITARTIMES, Selasa (11/9/2018).

Bentuk perhatian Eva terhadap dunia pertanian ditunjukkan salah satunya dengan menghadiri panen padi PIM (Petani Indonesia Menggugat) di Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar pada 29 Agustus 2018. Menurut dia, PIM merupakan satu program menuju kedaulatan pangan nasional.  “Semakin luas ditanam, semakin mudah untuk mengurus sertifikat padi ini. Padi PIM ini salah satu jawaban atas program ketahanan dan kedaulatan pangan nasional selain kedaulatan benih, sekaligus penyelamatan lingkungan dan manusia karena organiK,” katanya.

Panen padi PIM di Desa Kedawung turut dihadiri beberapa PPL (petugas penyuluh lapangan) dari Kabupaten Kediri, Kota Kediri dan Kabupaten Blitar. Hadir pula perwakilan KTNA (Kelompok Tani Nelayan Andalan) Kecamatan Plemahan, Kediri.

Boeing Kristiawan selaku PPL Kabupaten Blitar, menerangkan padi ini dinamakan PIM karena penemunya menggugat beberapa hal seperti soal lingkungan (varietas organik), produktifitas (bisa mencapai 14 ton/ha), penyakit padi (tahan berbagai penyakit termasuk potong leher), biaya produksi (50-60% lebih rendah, karena pupuk organik buatan sendiri), pestisida (bila diberi pupuk kimia justru tumbuhnya PIM terganggu), kualitas (PIM bisa untuk sushi).

“Saya bermimpi bisa menyediakan padi berkualitas dengan harga murah untuk rakyat miskin. Jadi PIM ini bisa dijual di pasar-pasar sebagai beras curah,” ujarnya.

Sementara Harto petani asal Desa Kedawung yang baru panen mengaku meski hasil panen ini cukup baik yaitu 10 ton/ha, tapi dia tidak puas karena pada musim hujan kemarin panen bisa mencapai 14 ton/ha dengan tinggi 2 meter.

”Padi PIM ini sempat viral karena tingginya bisa mencapai 2 meter dengan malai bisa mencapai 1000 di musim hujan. Musim kering ini PIM masih lebih unggul karena Varietas lain di kawasan tersebut hanya maksimal 6 ton/ha dibanding PIM yang 10ton/ha,” tutupnya.

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top