Jenang Suro, Adat Warga Dusun Songgoriti yang Tak Bisa Ditinggalkan

Proses pembuatan jenang suro di pelataran Candi Supo Songgoriti, Dusun Songgoriti Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu, Rabu (12/9/2018) malam. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Proses pembuatan jenang suro di pelataran Candi Supo Songgoriti, Dusun Songgoriti Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu, Rabu (12/9/2018) malam. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

JATIMTIMES, BATU – Lestarikan budaya, warga Dusun Songgoriti Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu membuat jenang. Jenang ini khusus dibuat saat merayakan 1 suro yang digelar di pelataran Candi Supo Songgoriti, Rabu (12/9/2018) malam.

Pembuatan jenang diikuti puluhan warga. Mereka berkumpul bersama bahu-membahu membuat jenang yang diberi nama jenang Suro. Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya sejak 21 tahun silam. 

Tidak asal membuat jenang, sebelum membuat jenang ini  diawali dengan pembacaan doa terlebih dahulu.

Sebelumnya bahan-bahan untuk membuat jenang Suro sudah disiapkan terlebih dahulu. Sehingga usai membacakan doa mulai mengaduk yang dan memasukkan bahan-bahan berasal dari hasil bumi.

Antara lain kelapa 34 buah, kelapa muda empat buah, beras 17 kilogram, dan kacang tanah dua kilogram perlahan dimasukkan sambil mengucap doa.

Mereka bahu-membahu secara bergantian mengaduk jenang yang dimasak dalam tungku menggunakan bahan bakar kayu. Kemudian warga mengaduk dengan menggunakan pengaduk berbahan bambu. Panjangnya satu meter. 

Karena jenang ini dibuat dengan jumlah yang cukup banyak ketika mengaduk cukup berat. Sehingga sewaktu-waktu warganya bergiliran untuk mengaduk hingga matang. Apalagi  proses mengaduk tidak boleh berhenti, kurang lebih selama empat hingga lima jam. 

Jenang yang dibuat ini menghasilkan 15 kilogram jenang yang siap disantap oleh warga dan dipersembahkan di Candi Supo Songgoriti. Pendamping makan jeneng ini sudah dipersiapkan seperti perkedel, kering tempe, dan telur dadar.

Di waktu yang bersamaan juga diikuti dengan pembacaan macapat di area Candi Supo Songgoriti. Macapat dibacakan oleh para pelajar Songgoriti. Hal tersebut dilakukan supaya selama pembuatan jenang berjalan dengan lancar. 

“Dengan dilibatkannya para pelajar ini agar mereka tahu budaya kita adalah budaya adiluhung,” kata Sesepuh Dusun Songgoriti Kelurahan Songgokerto Wiji Mulyo.

Menurutnya kegiatan ini merupakan budaya yang tidak bisa ditinggalkan oleh warga Songgoriti. Itu sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih kepada maha kuasa.

"Sebagai wujud terima kasih kepada Allah SWT. Sudah diberi kehidupan hingga Suro," ujarnya.

Selain itu, tradisi ini jadi salah satu cara membuat warga Songgoriti lebih guyub. Dan  lebih kompak membangun Dusun Songgoriti menjadi daerah yang terus maju dibidang wisata dan sebagainya. 

“Harapannya untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang biar tidak tergeser budaya lain. Di samping itu, budaya bisa mempersatukan agama, dan kerukunan akan terjalin,” harap Wiji.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Batu TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top