Spanduk Dukungan Pengembangan Bandara Jember Bermunculan

Salah satu spanduk yang terpampang di salah satu jalan di Jember (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)
Salah satu spanduk yang terpampang di salah satu jalan di Jember (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

JATIMTIMES, JEMBER – Warga merespon penghentian pelebaran jalan menuju bandara Notohadinegoro Jember yang dilakukan sepihak oleh PTPN 12 Jember beberapa waktu lalu. Tanggapan ini dituangkan dalam spanduk berukuran 1 x 5 meter yang terpasang di beberapa sudut jalan dengan lokasi strategis dan tersebar hampir seluruh kecamatan di Jember.

Dari pantauan media ini, spanduk dukungan pengembangan bandara Notohadinegoro meningkat menjadi sub embarkasi Haji dan Umroh terpampang di pertigaan Kaliputih Rambipuji, spanduk bertuliskan “PTPN XII ada di Jember seharusnya mendukung kebijakan Bupati Jember”. Spanduk itu terlihat jelas oleh pengendara yang melintas.

Tidak hanya itu, di perempatan Argopuro di Kecamatan Kaliwates, spanduk dengan tulisan “Kami Masyarakat Jember mendukung Kebijakan Bupati menjadikan Bandara Notohadinegoro menjadi Sub Embarkasi Haji dan Umroh” juga terlihat jelas. Tidak diketahui siapa yang memasang spanduk-spanduk di beberapa sudut jalan ini, namun spanduk-spanduk ini terlihat sejak 2 hari terakhir.

“Saya tidak tahu siapa yang memasang spanduk itu, tahunya saat jalan-jalan kok banyak spanduk mendukung bandara Notohadinegoro menjadi sub embarkasi Haji dan Umroh, padahal dua hari lalu spanduk ini belum ada,” ujar H. Kurniawan warga Jl. Semeru Sumbersari Jember Jumat (14/9/2018) sore.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Eko warga Rambipuji, menurut pria yang sehari-hari mangkal sebagai tukang becak ini, spanduk tentang dukungan bandara Notohadinegoro menjadi sub embarkasi sudah ada sejak dua hari lalu, “Spanduk itu sudah ada sejak dua hari lalu mas, gak tau siapa yang masang,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pengembangan bandara Notohadinegoro menjadi sub embarkasi Haji dan Umroh sejatinya sudah memasuki tahapan Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkab Jember, Angkasa Pura II dan PTPN 12 di Jakarta Juli lalu, namun pengembangan ini terancam pelaksanaanya setelah pihak kontraktor menurunkan alat berat dihentikan oleh pihak keamanan PTPN 12 Kebun Mumbulsari.

“Pelebaran jalan Itu sudah dimasukkan dalam masterplan dan masterplan itu sudah tidak ada perubahan lagi. Dari pihak PTPN XII Pusat tidak menghambat tapi saya tidak tahu hal-hal apa yang memberati sehingga sampai ada penghentian pelebaran jalan tersebut,” terang Faida kepada wartawan

Bahkan menurut bupati perempuan pertama di Jember ini, pihak Pemkab Jember sudah melibatkan TP4D dalam hal ini Kejaksaan setempat dimana dalam pihak kejaksaan juga sudah melakukan legal opinion yang menjamin bahwa proyek ini tidak ada hambatan hukum.

“Kemarin dikatakan tidak ada masterplan itu tidak benar. Masterplan pada 2017 sudah ada, dan itulah sebabnya dari Kementerian Perhubungan bisa menganggarkan Rp. 380 milyar. Namun karena tanahnya ini milik BUMN dalam hal ini PTPN XII maka Presiden Joko Widodo mengambil keputusan yang melaksanakan adalah Angkasa Pura II jadi BUMN to BUMN sinergi dengan Pemerintah Daerah,” tambahnya.

Sementara pihak PTPN 12 Kebun Mumbulsari melalui Manager Kebun Krishartono beralasan, penghentian pelebaran jalan karena tidak masuk dalam masterplan, “Kami bukan tidak mendukung kebijakan pengembangan Bandara Notohadinegoro menjadi sub Embarkasi, tapi kami belum menerima surat dari Bupati terkait pelebaran jalan masuk masterplan, karena selama ini yang masuk masterplan adalah bandaranya saja, dan dasar surat dari Bupati itulah nanti yang akan kami jadikan landasan, karena di sistem kami, aturan dari undang-undang BUMN itu harus izin komisaris dan pemegang saham,” ujar Krishartono beberapa waktu yang lalu.

Pengembangan bandara ini sendiri ditargetkan pada tahun 2019 sudah mulai dikerjakan. Pada tahun 2018 tahapan yang dilakukan adalah pelebaran akses jalan menuju ke bandara Notohadinegoro, selama ini jalan masuk ke bandara sepanjang 2 kilometer ini hanya bisa dilalui kendaraan kecil, sedangkan untuk pembangunan pengembangan bandara Notohadinegoro akan banyak kendaraan besar dan alat berat membutuhkan akses yang cukup untuk menuju Bandara. (*)‚Äč

Pewarta : Moh. Ali Mahrus
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Jember TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top