Pendiri Koperasi Zulkifli Bantah Punya Tanggungan Rp146 Miliar

Kuasa Hukum Zulkifli, Abdul Wahab Adinegoro (Berkacamata) saat Konferensi Pers (Agus Salam/Jatim TIMES)
Kuasa Hukum Zulkifli, Abdul Wahab Adinegoro (Berkacamata) saat Konferensi Pers (Agus Salam/Jatim TIMES)

JATIMTIMES, PROBOLINGGO – Setelah digugat soal tanggungan ke koperasi Mitra Perkasa sebesar Rp146 miliar dan kasus dugaan atas permohonan dan penerimaan fasilitas kredit dari Bank Bukopin cabang Probolinggo, akhirnya Zulkifli Chalik buka suara.

Melalui kuasa hukumnya Abdul Wahab Adinegoro, pendiri koperasi yang berkedudukan di Jalan Panglima Sudirman tersebut, membantah. Abdul Wahab menyebut, kliennya hanya memiliki tanggungan Rp 5,3 miliar. Karena itu pihaknya akan menggugat balik Wily Sukamto, menejer yang sekaligus ketua koperasi saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Wahab ke sejumlah wartawan, Jumat (14/9) sekitar pukul 14.30, di jalan Suroyo rumah tinggal kliennya. Pria asal Malang itu mempertanyakan angka sebesar itu. Sebab, jika dihitung tanggungan Zulkifli tidak sebesar itu. “Tanggungan klien kami sekitar Rp5 miliar. Angka Rp146 itu, tidak benar,” katanya.

Abdul Wahab heran, mengapa Wily menggugat kliennya sebesar itu, padahal sebelumnya Welly mengaku, tanggungan kliennya Rp17 miliar. Kemudian, keduanya bertemu untuk mengklirkan permasalahan tersebut. “Saya tanya ke pak Willy, tanggungan pak Zul katanya Rp17 miliar. Setelah mereka berunding, akhirnya ketemu angka Rp15 miliar,” tandasnya.

Dijelaskan, antara kliennya dangan penggugat sama-sama memiliki tanggungan Zulkifli memiliki tanggungan ke Willy, begitu juga Willy mempunyai tanggungan ke Zulkifli. Sehingga setelah keduanya berunding, hutang yang awalnya Rp17 miliar, turun menjadi Rp15 miliar. “Pak Wily sepakat, pak Zul memiliki kewajiban Rp15 miliar,” tambahnya.

Kemudian lanjut Abdul Wahab, Kliennya akan menyelesaikan kewajibannya. Keduanya kemudian akan melakukan perjumpaan hutang. Pada pertegahan Juli 2018, perjumpaan hutang dilaksanakan dan tanggungan Zulkifli turun menjadi Rp6,3 miliar. “Hutang klien saya berkurang, karena kewajiban pak Wily di sejumlah bank dibayar oleh pak Zul. Jadi hutang klien kami tinggal Rp6,3 miliar,” jelasnya.

Namun, saat ini hutang kliennya hanya sebesar Rp 5,3 miliar. Sebab, pada saat akan dilakukan pertemuan hutang di depan notaris untuk melegalkan kesepakatan yang telah dirembuk sebelumnya, Welly meminta uang sebesar Rp 500 juta, yakni tanggal 23 Juli 2018 dan permintaan Wily dikabulkan dengan cara ditransfer. Pada tanggal 26 Juli saat perjumpaan hutang di depan notaris berlangsung, yang bersangkutan meminta lagi uang Rp500 juta.

Alasannya, uang tersebut untuk anggota koperasi yang tengah menunggu pencairan di kantornya. Karena itu, usai menerima uang dan membaca konsep perjanjian kesepakatan hutang-piutang, Wily berpamitan ke koperasi. Wily tidak menandatangani akta kesepakatan hutang-piutang yang dibuat notaris hingga saat ini. “Apa maksudnya, kok sebelum tanda tangan sudah meninggalkan kantor notaris. Kalau dipidana, ini penipuan,” lanjut Abdul Wahab.

Memang diakui, sebelum perjanjian ditandatangani kedua pihak, perjanjian tersebut tidak mengikat. Namun konsep perjanjian itu tidak akan dibuat, sebelum ada kesepakatan sebelumnya. Zulkifli tidak akan mengeluarkan uang Rp1 miliar, kalau tidak ada kesepakatan sebelumnya. “Ya, kalau memang pak Wily tidak setuju atau tidak mau menandatangani kesepakatan hutang piutang, mestinya tidak perlu datang ke notaris dan tidak mau menerima uang Rp 500 juta dua kali. Dan pertemuan di notaris itu tidak akan terjadi,” tandasnya.

Dengan demikian, Wily secara lisan telah sepakat akan menandatangani akta kesepakatan, kalau Zulkifli memiliki hutang Rp6,3 miliar. Namun, hingga saat ini, willy belum menandatangani kesepakatan hutang kliennya yang telah disepakati sebelumnya. “Berarti, pak Wily hanya ingin mendapatklan uang Rp1 miliar dari klien saya. Kalau apa yang telah disepakati awal tidak dilaksanakan, ini kan nipu namanya. Setelah dapat uang, tidak tanda tangan,” tandasnya. 

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top