Harga Turun Drastis, Petani Tembakau Nangis

Tembakau yang sedang dijemur (foto : Joko Pramono/ TulungagungTIMES)
Tembakau yang sedang dijemur (foto : Joko Pramono/ TulungagungTIMES)

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Petani tembakau Tulungagung menangis, pasalnya di tengah panen raya tembakau, harga tembakau turun drastis. Padahal tidak sedikit uang yang harus dikeluarkan untuk menanam dan merawat bahan rokok itu. Bahkan beberapa petani harus merugi lantaran harga yang tidak bersahabat.

Keluhan itu disampaikan oleh Ridwan, petani tembakau asal Dusun Kalituri Desa Waung, Kecamatan Boyolangu. Saat ini harga tembakau di tingkat petani berkisar di harga Rp 35-40 ribu perkilo, turun drastis dibandingkan tahun kemarin yang mencapai Rp 55-60 ribu perkilo.

“Turun mas, tahun kemarin Rp 55-60 ribu, sekarang cuma Rp 35-40 ribu,” tutur Ridwan.

Ridwan menduga, turunya harga tembakau ini diakibatkan panen raya tembakau. Dari pantauan yang ada, petani tembakau dari Boyolangu hingga Campurdarat sedang panen.

“Karena ada panen raya, jadi harganya turun,” ujar Ridwan.

Untuk tembakau basah harganya mencapai Rp 350-400 ribu perkuintal. Tembakau krosok atau tembakau limbah dihargai Rp 7-8 ribu perkilo.

Namun hal berbeda disampaikan oleh petani tembakau lainya, Purnomo. Menurut pria paruh baya itu, rendahnya harga tembakau lantaran rendahnya rendemen tembakau kering. Hal itu disebabkan oleh cuaca yang cenderung panas.

"Satu kuintal polos (tembakau tanpa gula) itu rendemenya biasanya 13-14, tapi sekarang cuma 11-12, kalau pakai gula biasanya 16-17 sekarang 14-15,” tutur Purnomo.

Terjunya harga tembakau itu membuat petani menunda penjualan hasil panennya menunggu harga kembali normal.

“Bulan 3-4 nanti kalau ada kenaikan harga dikeluarkan (dijual),” imbuhnya.

Petani tembakau Tulungagng biasanya menanam 2 jenis tembakau, jenis rejeb dan sidi. Harga jenis sidi lebih tinggi dibandingkan jenis rejeb.

Rendahnya harga tembakau tak hanya dikeluhkan oleh petani. Pengepul tembakau, Suyoto pun juga keluhkan hal serupa. Dirinya harus rela menunda penjualan tembakaunya sembari menunggu harga kembali normal.

“Kita simpan dulu sampai harganya kembali normal,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Moyoketen, Kecamatan Sumbergempol itu.

Jika disimpan, maka dirinya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perawatan agar tembakaunya tidak rusak saat disimpan. Saat ini di gudangnya sekitar 20 ton tembakau masih tersimpan, menunggu harga kembali normal.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top