Tradisi "Ampil Garwo" di Tulungagung Punah, Ini Bedanya dengan Tukar Pasangan

Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Garwo (Pinjam Istri) yang pernah disentil Konsultan PsiAmpilkologi Ifada Nur Rohmaniah ternyata benar pernah terjadi di Tulungagung. Hal itu disampaikan Rahadian Abdul Rosyid atau akrab dipanggil dengan nama Yik

"Iya dalam sejarahnya di Tulungagung dikenal tradisi Ampil Garwo atau pinjam istri," kata Yik yang juga ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kabupaten Tulungagung ini. 

Meski diakui telah punah, Yik menceritakan bahwa dari sejarah turun temurun para pejabat zaman dahulu jika kesulitan mempunyai anak mengadakan kesepakatan dengan yang dipilihnya untuk mendapatkan keturunan. 

"Jadi ini juga disepakati oleh pasangan yang dipinjam, tapi beda dengan swinger yang dilakukan dengan bebas antara suami istri di zaman sekarang. Di jaman dulu tidak ngawur," paparnya.

Jika dipandang dari sisi sosial dan agama, penyimpangan seksual baik swinger dan ampil garwo melanggar etika dan tidak baik dilakukan oleh siapapun. 

"Kelakuan seperti itu harus dihindari dengan lebih taat melakukan ajaran agama," saran Yik. 

Sebelumnya, tukar pasangan ini menurut konsultan psikologi Ifada Nur Rohmaniah merupakan penyimpangan sexual yang dipicu oleh imajinasi dan fantasi tak terkontrol pada manusia baik pria atau wanita.

"Ini berawal dari fantasi, kemudian karena butuh pelampiasan yang bersifat nyata, ide melakukan swinger atau tukar pasangan menjadi satu pilihan," ungkapnya. 

Sebagai konsultan psikologi, Ifada mengaku beberapa kali menemukan pasien yang mempunyai penyimpangan sexual termasuk swinger. 

"Mereka seperti mempunyai kelompok atau komunitas, tapi ada juga yang berlatar belakang adat atau tradisi. Itu pernah kita bahas dalam suatu diskusi beberapa waktu lalu," papar Ifada. 

Menurutnya, seorang lelaki dalam satu hari otaknya memikirkan seksual hingga 60 kali, jika tidak dapat mengendalikan diri lelaki akan selalu berjuang merayu pasangannya untuk mendapatkan variasi yang difantasikan.  

"Bahkan ada yang sampai tidak kuat melayani suami, istri tersebut membiarkan suami berbuat apapun termasuk dengan wanita lain," imbuhnya. 

Selain rawan dengan penularan penyakit infeksi menular seksual, Ifada menghimbau agar prilaku menyimpang itu dapat dikendalikan dengan menjaga hubungan harmonis dengan pasangannya.

Lebih dari itu, menonton video porno juga menjadi salah satu pemicu yang membuat orang mempraktekkan apa yang dilihatnya, memecah ketabuan dalam komunikasi suami istri perlu dilakukan.

Komunikasi terbuka dengan pasangan bisa meminimalisir fantasi dengan orang lain, adakalanya salah satu pasangan langsung mengambil kesimpulan menolak bahwa pasangan resmi pasti menolak fantasi yang ada. Padahal belum tentu, lebih baik diskusikan saja dengan pasangan.

"Setia pada pasangan dan mampu belajar kontrol diri untuk komitmen pada pasangan,sekiranya kurang bisa kontrol terhadap diri sendiri ya menghindari saja  menonton video porno," imbau Ifada. 

Pewarta : Anang Basso
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top