50 Persen Lebih Desa di Tulungagung Masyarakatnya Masih Suka Buang Hajat Sembarangan

Ikustrasi jamban yang masih belum sehat
Ikustrasi jamban yang masih belum sehat

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Dari 19 kecamatan yang ada di Kabupaten Tulungagung, baru 3 yang dinyatakan Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Sembarangan (SBS). 
Namun jika dilihat dari jumlah desa, dari 271 desa/kelurahan sudah 113 desa yang ODF. Jumlah itu setara 41,7 persen.

Mayoritas perilaku buang air sembarangan ini berada di wilayah pegunungan. 
"Yang sudah ODF ada tiga kecamatan, yaitu Pakel, Tulungagung dan Kedungwaru. Untuk Kecamatan Kedungwaru baru akan dideklarasikan," terang Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tulungagung, Bambang Triyono, Senin (29/10).

Desa atau kelurahan yang dinyatakan ODF, berarti sudah punya akses ke jamban sehat permanen (JSP). JSP adalah jamban yang punya sekat air antara tempat kotoran dan dunia luar. 

Dengan demkian tidak ada serangga atau hewan yang bersentuhan dengan kotoran, kemudian berkeliaran ke permukiman warga.
Pada jamban semi permanen, seperti jamban cemplung atau plengsengan. Meski sudah berupa jamban, namun hewan seperti lalat atau tikus bisa bersentuhan dengan kotoran manusia.

"Hewan ini kalau berkeliaran ke permukiman, kemudian bersentuhan dengan makanan manusia bisa menyebarkan penyakit yang serius," tambah Bambang.
Kecamatan Sendang dan Kecamatan Kauman, kesadaran warganya masih kurang untuk buang air di JSP. Di dua kecamatan ini hanya ada satu desa yang dinyatakan bebas buang air sembarangan (ODF). 

Kemudian disusul Kecamatan Pagerwojo dengan dua desa dan Kecamatan Campurdarat dengan tiga desa. 
Biasanya, masyarakat di wilayah pegunungan dan memilik banyak sungai cenderung buang air di sungai.
"Mengubah perilaku ini yang cukup sulit. Misalnya mereka merasa tidak nyaman, kalau pantatnya tidak masuk ke dalam air saat buang air," ungkap Bambang. 
Pihaknya menargetkan tahun 2019 mendatang, seluruh wilayah Kabupaten Tulungagung sudah ODF. 

Pihak Dinkes dengan gencar melakukan gerakan pemicuan rasa jijik, rasa malu dan rasa berdosa bagi masyarakat yang masih buang air sembarangan. 
Rasa jijik karena air sungai yang jadi tempat buang air kemudian dikonsumsi. Rasa malu karena aurat kelihatan saat buang air dan rasa berdosa, karena ikut menyebarkan penyakit.

"Target kami 2019 Tulungagung sudah ODF. Karena sebenarnya desa-desa yang belum ODF itu hanya ada beberapa keluarga," tandas Bambang.  
Tekadnya pun juga ditunjang oleh Dinas PUPR dengan membangun jamban komunal.
Salah satu cara mudah pengadaan jamban di keluarga adalah lewat kredit pengadaan jamban. Kredit ini menggandeng bank, dengan nilai kredit sebesar Rp 2.000.000. Menurut 

petugas pelaksana sanitasi Puskesmas Ngantru, Muhtarom yang juga menjalankan program kredit ini, minat warga sangat tinggi. 
Setiap bulan ada lebih dari 10 pengajuan kredit jamban. Namun ada kendala, karena pihak bank tidak melayani untuk wilayah pegunungan. Selain itu ada BI checking (pemeriksaan Bank Indonesia) yang kerap mengganjal kredit.

"Syaratnya hanya foto kopi KTP, foto kopi kartu keluarga dan surat nikah. Tapi kalau kena BI checking, langsung ditolak," terang Muhtarom.
Namun menurutnya, banyak warga yang mengajukan dengan cara tunai. Muhtarom bahkan mengaku banyak melayani perumahan dan rumah-rumah baru. Untuk memudahkan kredit, Muhtarom juga menggandeng perusahaan pembiayaan dari Jakarta, 

Anggotanya saat ini sudah mencapai 3000 orang.  Perusahaan ini membebaskan Muhtarom dari tanggung jawab jika ada kredit yang macet. Namun Muhtarom diwajibkan memberi garansi konstruksi selama satu tahun.
"Kalau ada rusaknya selama garansi, saya yang bertanggung jawab. Cara ini lebih banyak diminati oleh warga yang belum punya jamban," pungkas Muhtarom.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top