Es Campur Melegenda; Dipercaya Tombo Watuk Pilek, Pelanggannya Pejabat hingga Mantan Wali Kota

Racikan es campur buatan Said di Jl Gajah Mada, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Racikan es campur buatan Said di Jl Gajah Mada, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

JATIMTIMES, BATU – Menikmatii es campur di siang bolong cukup menyegarkan badan. Apalagi jika es campurnya melegenda. Bahkan mendapatkan julukan "es campur tombo watuk pilek (es campur obat batuk pilek)''.

Es campur yang telah melegenda itu milik Mochamad Said. Dia berjualan berada di atas gerobak di samping Masjid An-Nur Jl Gajah Mada, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. 

Es campur ini sudah berdiri sejak 62 tahun silam atau sejak 1954. Kala itu, Kota Batu masih bergabung dengan Kabupaten Malang. Dan kala itu juga, tempat berjualan Said adalah pasar yang saat ini menjadi Alun-Alun Kota Batu. 

Saat itu usia Said baru 16 tahun. Bermodalkan uang Rp 1.000 saat itu, dia memantapkan niatnya untuk berjualan es campur yang khas dari Kota Batu. 

“Alasannya juga karena sederhana racikannya. Kebetulan juga waktu itu saya cuman bisa membuat es campur. Itu pun diajari  paman saya, almarhum Markatam,” kata Said, Kamis (1/11/2018)

Hingga saat ini. racikan es campur itu dengan 63 tahun silam pun tidak berbeda. Tetap ada roti, tape ketan hitam, mutiara, agar-agar, kacang hijau. Lalu diberi larutan gula, susu kental manis cokelat atau putih, terakhir pasrahan es. “Seperti gula, saya nggak pernah mencampur dengan pemanis buatan sembarangan karena kasihan nanti yang minum,” imbuhnya kepada MalangTIMES.

Bahkan saat memberikan susu cokelat pun, Said tidak tanggung-tanggung menuangkannya. Itu agar saat diseruput, rasa susu dan racikannya tetap terasa segar dan nikmat. 

Selain kenikmatannya, hal menarik lain adalah harga es ini berbeda antara pembeli umum dengan pelajar. Sebelumnya pada 7 Agustus 1954, Said menjual seharga Rp 50 sen atau setengah rupiah per porsinya. 

Saat ini, harga es Said untuk pembeli umum Rp 5.000 dan Rp 2.500 untuk pelajar. Bahkan, saat ada pelajar hanya membawa  Rp 1.000 atau Rp 2.000, Said tetap ikhlas menerimanya.

Saat ada pelajar yang hanya menemani temannya membeli es, dia biasanya menggeratiskan. ”Ya saya ingin berbagi. Kalau punya berapa gitu, saya terima,” ungkap pria dua orang anak ini.

Menurut Said, berjualan es campur ini juga banyak dukanya selama 64 tahun itu. Yakni harus berpindah hingga 19 kali. Hingga akhirnya bisa menetap di tempatnya saat ini. 

Biasanya dalam satu hari, lanjut kakek 4 cucu ini, bisa berjualan sejak pukul 10.00-21.00. Ia mampu menjual mulai dari 90-140 porsi atau mangkuk setiap harinya. “Tapi ya gitu, kalau waktu musim hujan,  sepi sekali,” tambahnya. 

Keramahan hingga candaan Said kepada setiap pelanggan membuat nyaman sehingga pelanggan bisa berkali-kali kembali menikmati es campur bikinan Siad. “Ada juga langganan saya sejak tahun 1990-an itu masih sering ke sini. Yang dari luar kota juga menyempatkan mampir,” ungkap warga Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, ini.

Bukan hanya masyarakat biasa. Mantan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko juga sering mampir ke tempat jualan Said dan minum es campur. Bahkan Eddy Rumpoko kerap menemani dan ngobrol dengan Said sampai  berjam-jam.  Begitu juga pejabat-pejabat Kota Batu.(*)

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Batu TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top