Suka Duka Menantu "Turu Bareng" Mertua di Tulungagung

Ilustrasi / Medsos
Ilustrasi / Medsos

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Banyak sekali problem di mana mertua dan menantu tidaklah akur. Apakah karena menantu yang dirasa mertua tidak memenuhi syarat, kurang suka atau juga mertua yang dirasa menantu terlalu posesif.

Namun banyak juga faktor yang menyebabkan menantu harus tinggal bersama mertua. Mungkin faktor finansial, karena belum memiliki cukup uang untuk membeli rumah sendiri.

Bisa juga faktor emosional, karena pasangan ingin selalu dekat dengan orangtuanya di masa tua, dan faktor-faktor lain yang jika di Tulungagung orang yang masih "Turu Bareng" bersama mertua adalah menguji kesabaran dan kesadaran menantu.

Sebagai menantu harus bisa sekuat tenaga mengambil hati sang mertua, dengan memastikan bahwa tidak akan ada pengalaman yang seperti hasil obrolan berikut ini :

1. Takut Bangun Kesiangan

Yayuk (32) yang sudah 9 tahun "tidur" bersama mertua karena suaminya merantau di Malaysia ini mengatakan  merasa lelah dengan aktivitas mengurus pekerjaan dan juga urusan rumah tangga, namun dia harus ingat untuk tidak bangun kesiangan apapun alasannya.

"Bagaimanapun kondisi saya adalah seorang isteri yang patut mengutamakan kebutuhan anak saat suami masih bekerja di Luar Negeri, saya takut bangun terlambat meski capek dan butuh istirahat, tidak enak nanti dikira saya menantu yang tidak tanggung jawab," katanya

2. Susah Saat Ada Masalah dengan Pasangan

Beda dengan Yayuk, Warga di salah satu desa di Kecamatan Karangrejo ini, sebut saja Amelia (26) hidup selama 5 tahun bersama mertua. Amel menceritakan bahwa dirinya sering punya masalah dengan suami.

"Ngempet, karena ada mertua maka harus dikonsumsi pribadi. Sulit untuk tidak menunjukkan kalau kami sedang bertengkar," paparnya

Amel sadar jika mertua ingin hidup tenang dan melihat anaknya rukun. 

Amel meminta di kontrakan atau dibuatkan rumah sendiri, namun karena suaminya hanya sebagai kuli angkut pasir maka keinginan itu belum dapat terwujud.

3. Merasa Tidak Bebas

Pria yang sudah menikah selama 12 tahun ini punya 2 anak, sebut saja namanya Azhari (40) warga di salah satu desa di Kecamatan Sumbergempol. 

Dia merasa tidak bebas bersama mertua meski istrinya adalah anak tunggal. 

"Istri saya anak kesayangan, dua belas tahun saya tidur bersama mertua. Istri menolak saya buatkan rumah," ungkap Azhari

Saat pergi bersama anak istri untuk sekedar malam minggu, Azhari tudak berani pulang sampai larut malam.

"Sebelum kami pulang mertua tidak mau tidur, tetap menunggu dan membukakan pintu. Akhirnya kami mengalah, pulang maksimal jam 22.00 Wib," katanya.

4. Menjaga Pakaian untuk Selalu Sopan

Pengalaman lain juga diungkapkan olah Tri (28) wanita malam yang kini telah mempunyai suami setia ini. 

Tri mengaku jika harus ribet ganti pakaian saat sebelum sampai rumah jika dirinya menerima panggilan sebagai pemandu lagu (purel).

"Enaknya saya di antar suami, tapi sebelum sampai rumah saya selalu cari pompa bensin atau tempat lain yang ada kamar untuk ganti pakaian. Suami tau profesi saya, tapi mertua saya tidak boleh tau dan saya selalu berangkat dan pulang dengan pakaian sopan. Apalagi jika pas dirumah," cerita Tri.

Tri menikmati hidupnya karena suami memahami dirinya, bahkan saat beribadah Tri tak mau ketinggalan untuk turut serta berjamaah bersama keluarganya. 

"Semenjak menikah saya hanya menemani bernyanyi buat tamu yang sopan, suami saya tau itu. Jadi lambat laun saya berharap berhenti dan membuka usaha toko sambil menunggu modal," katanya yang hingga kini masih freelance melayani langganannya.

5. Bungkam saat di Rumah

Keluarga Bagus (26) dan istrinya Hartini (24) ini menceritakan jika tidur bersama keluarga besar membuat watak dan kebiasaannya berubah saat di rumah.

"Saya kenal sejak kuliah, istri saya cerewet dan jika ketawa keras sekali, imbang dengan saya," paparnya

Tak mau dibuka kartunya, Hartini menimpali jika dirinya sudah menjadi "pendiam". 

"Malu juga jika ngakak dirumah, saya jadi pendiam sekarang. Tapi sekali keluar rumah kami bertengkar keras di tempat yang jauh dari mertua," timpal Hartini.

Rasa hormat dan sungkan membuat mereka berbagi waktu, seminggu itu tiga hari di rumah orang tua Bagus dan empat hari dirumah orang tua Hartini. 

"Tapi kadang dibalik, rumah mertua kami tidak jauh jadi enak dimana-mana," pungkasnya. 

 

Pewarta : Anang Basso
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top