Menengok Sentra Industri Gula Merah Binaan Disperindag Pemkab Blitar, Sehari Produksi Hingga 1 Ton

Proses produksi gula merah yang dilakukan secara tradisional.(Foto : Ist)
Proses produksi gula merah yang dilakukan secara tradisional.(Foto : Ist)

JATIMTIMES, BLITAR – Gula kelapa atau lebih dikenal dengan gula merah atau gula jawa mungkin sudah tidak asing lagi, khususnya untuk masyarakat Jawa. Gula kelapa banyak dimanfaatkan untuk berbagai makanan dan minuman sehari-hari.

Pemanfaatan gula kelapa sebagai salah satu bahan baku pembuatan makanan ternyata tidak hanya di tingkat rumah tangga, namun gula kelapa juga banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri seperti pabrik kecap dan insdustri dodol serta jenang.

Gula kelapa merupakan industri rumah tangga yang cukup terkenal di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, salah satunya di Kecamatan Sanankulon. Sebagian besar warga desa di kecamatan tersebut merupakan pembuat gula kelapa. Bahkan kerajinan pembuatan gula jawa ini sudah dilakoni hingga turun temurun oleh warganya.

Informasi yang diterima BLITARTIMES dari Dinas Perindustraian dan Perdagangan (Disperindag) Pemkab Blitar, di Kecamatan Sanankulon sentra gula kelapa paling besar berada di Desa Sumberejo, jumlahnya mencapai 264 unit usaha. Kemudian Desa Gleduk 42 unit sedang yang berada di Dusun Jeding sedikitnya 13 unit usaha.

Industri gula kelapa tradisional ini umumnya dijual dalam bentuk cetakan tempurung buah kelapa. Per biji seberat 1 kg dan 1,5 kg. Tetapi sejak tahun 2005 salah seorang perajin, Imro’atin warga Desa Gleduk, melakukan diversifikasi bentuk cetakan. Yaitu, ukuran kecil-kecil dengan bentuk koin dan bumbung. Masyarakat setempat menamainya ceper, bumbung, dan ceplik. Dengan ukuran kecil ini 1 kg gula kelapa terdiri atas 37 butir. “Bentuknya kecil-kecil, unik dan diminati pasar,” ucap Imro’atin.

Imro’atin biasa menjual dalam kantong-kantong plastik bobot 10 dan 15 kg. Harga per kg-nya Rp 13.000. Gula kelapa ukuran kecil tersebut sejatinya gula kelapa ukuran tempurung yang didaur ulang. Imro’atin membeli dari petani dalam ukuran tempurung kelapa berat 1 kg. Setiap dua hari sekali Imro’atin mengambil di sejumlah perajin yang ada di sekitar desanya. Gula kelapa dari petani kemudian dimasak lagi, dicampur gula pasir, lalu dicetak dalam ukuran kecil-kecil.

Prosesnya, gula kelapa dari petani direbus di wajan besar. Kemudian diaduk hingga 30 menit. Setelah itu dituangkan di cetakan sesuai bentuknya. Tidak sampai 15 menit gula dalam cetakan sudah mengeras dan tinggal dipak di plastik.

Dikatakan, diversifikasi bentuk ini merupakan salah satu upaya untuk menyiasati pasar. Disebabkan semakin mahalnya harga gula kelapa, salah satu penyebanya karena persaingan dengan gula merah yang bahan bakunya dari tebu, pasar menilai harga gula kelapa terlalu mahal. ”Akhirnya, sejak tahun 2005 kami memproduksi gula kelapa dalam versi lain, yaitu ukuran kecil-kecil,” ujarnya.

Terlebih sambung dia, gulo abang bahan bakunya dari tebu, yang selisih harganya lebih murah dibanding dengan yang bahan bakunya dari kelapa. Per kg selisih harganya bisa mencapai Rp 1000. Secara fisik sama, yaitu dalam ukuran batok kelapa dan ada juga ukuran kecil-kecil. ”Konsumen tidak melihat kualitasnya, yang penting sama dan harganya lebih murah, meski secara rasa lebih enak gula kelapa,” ujarnya.

Gula kelapa ukuran kecil-kecil ini ternyata diminati pasar. Pertimbangannya praktis. Dulu, sebelum diproduksi ukuran kecil-kecil, bila ada konsumen yang hanya membeli ¼, pedagang terlebih dahulu harus membelah. Sekarang tidak. Pedagang bisa menjual butiran. Kemasan kecil-kecil ini juga banyak yang dijual di swalayan.

Permintaan pasar atas gula kelapa terus meningkat. Dalam satu hari, maksimal Imro’atin  bisa memproduksi antara 700 kg s.d 1 ton. Sementara kebutuhan pasar bisa lebih dari itu. Pasar hampir merata di Jawa Timur. ”Pasar sangat bagus mas, lebih lebih musim kemarau permintaan di sejumlah daerah meningkat,” kata Imro’atin

Gula kelapa produksi Imro’atin telah menembus pasar hampir di seluruh wilayah Jawa Timur  seperti Kediri, Tulungagung, Jombang, Sidoarjo ,Malang dan sejumlah kota – kota besar lainnya. Gula kelapa dapat bertahan hingga satu tahun tidak mencair.

Musim pembelian ramai ketika Ramadan. Mulai dari menjelang Ramadan sampai jelang Idul Fitri. Bila permintaan tinggi, tidak jarang Imro’atin  harus meminta tolong tetangga-tetangganya untuk memasak. ”Kami membayar jasa cetak, mereka modal tenaga dan kayu bakar,” terangnya.

Sementara itu Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Blitar, Widyo Guntoro mengatakan pesatnya perkembangan industri gula merah di Kabupaten Blitar ini tak lepas dari pendampingan yang dilakukan Disperindag Pemkab Blitar.Dia juga mengatakan pelaku usaha gula kelapa di Kabupaten Blitar terus menjamur dan pihaknya akan terus melakukan pembinaan agar keberadaan mereka berkembang pesat dan bisa menampung tenaga kerja dalam mengurangi angka pengangguran.

“Mereka (pembuat gula merah) sering sekali kita ajak pelatihan , yakni kemasan, cara memasarkan dan menjaga kwalitas produk, ini sangat penting mengingat di luar kabupaten blitar juga banyak pesaing yang terus berinovasi,” katanya.(*)

 

 

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top