Hati-Hati, Modifikasi Kendaraan dengan Memasang Dua Alat Ini Rentan Jadi Incaran Polisi

Personel kepolisian Polres Malang saat menggelar giat Oprasi Zebra Semeru 2018, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Personel kepolisian Polres Malang saat menggelar giat Oprasi Zebra Semeru 2018, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Bagi para pecinta otomotif sebaiknya lebih teliti saat memodifikasi kendaraannya. 

Biasanya, para pecinta touring sering memasang Strobo dan Rotator di kendaraan mereka. 

Kenyataannya, itu melanggar peraturan dan bisa ditindak penilangan.

Seperti yang dialami oleh salah satu pengendara mobil ini. Meski memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), namun pria yang diketahui bernama Subi Warga sekitar Kecamatan Gondanglegi itu, harus ditilang petugas kepolisian saat melakukan giat Oprasi Zebra Semeru, Senin (5/11/2018) sore. 

“Saya ditilang karena di mobil terpasang rotator,” terang Subi.

Kepada MalangTIMES, salah satu staf Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Malang ini, mengaku tidak mengetahui jika memasang rotator merupakan tindak pelanggaran hukum. 

Setelah melakukan pembinaan, petugas kepolisian kemudian mencopot rotator yang ada di mobil Avanza tersebut. 

“Mobil yang saya kendarai ini adalah pinjaman, kemaren habis tauring. Jika harus disita petugas ya tidak apa, saya tidak tahu jika ternyata menyalahi aturan,” tuturnya.

Sebagai informasi, larangan penggunaan strobo dan rotator sudah di atur dalam Pasal 59 ayat 5 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). 

Dimana lampu biru untuk kendaraan milik Polri, kemudian rotator berwarna merah untuk ambulans, pemadam kebakaran dan kendaraan TNI. 

Sedangkan, rotator berwarna kuning digunakan untuk angkutan khusus dan patroli jalan tol.

Bagi kendaraan yang kedapatan melanggar. Maka dapat dijerat dengan Pasal 287 ayat 4 Juncto Pasal 59 dan Pasal 106 Ayat 4 huruf f atau Pasal 134 UU Nomor 22 tahun 2009 tentang LLAJ dengan hukumam maksimal satu bulan penjara atau denda Rp250 ribu.

Sementara itu, Kaur Bin Ops (KBO) Satlantas Polres Malang Iptu Edi Purnama mengatakan, pada oprasi Zebra Semeru yang diadakan sejak 30 Oktober ini, memang fokus terhadap planggaran lalu lintas yang marak dilakukan para pengguna jalan. 

Selain larangan pemasangan strobo dan rotator, razia kali ini juga fokus pada tujuh poin pelanggaran lalu lintas.

Ketujuh pelanggaran yang diincar petugas yaitu, pengemudi yang menggunakan handphone saat berkendara, melawan arus, pengendara sepeda motor yang melebihi kapasitas (membawa barang melebihi muatan dan boncengan lebih dari 1 orang), pengendara dibawah umur (17 tahun), pengemudi yang tidak mengenakan helm dan sabuk pengaman, mengendarai dengan kecepatan tinggi, serta berkendara saat dibawah pengaruh alkohol dan obat-obatan terlarang. 

“Sore ini kami melakukan razia di sekitaran Jalan Raya Talangagung tepatnya di  depan kantor samsat talangagung. Dalam satu jam sedikitnya ada 111 pengguna jalan yang melakukan pelanggaran dan kami tilang,” kata Edi saat ditemui disela-sela razia, Senin (5/11/2018) sore.

Dari jumlah tersebut, tidak memiliki SIM mendominasi para pengguna jalan ditilang polisi. 

Dimana rata-rata para pengguna sepeda motor yang ditindak petugas.

 “Selain pengendara roda dua, mobil serta kendaraan angkutan umum serta muatan juga terjaring razia. Ini tadi ada 10 pengendara truk dan mikrolet yang kami tilang, penyebabnya sama, yaitu SIM mereka mati sejak 1 hingga 2 tahun lalu,” pungkasnya.

 

Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top