Korban Tewas Dikenal sebagai Bos Batu Marmaer dan Kayu, Sempat Ditagih Hutang

Situasi rumah Pasutri yang tewas di Campurdarat / Foto : Yohan Antoni / Tulungagung TIMES
Situasi rumah Pasutri yang tewas di Campurdarat / Foto : Yohan Antoni / Tulungagung TIMES

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Misteri penyebab tewasnya pasangan suami istri (pasutri) Didik Adi Wibowo (56) bersama istrinya Suprihatin (50) warga dusun Ngingas Desa / Kecamatan Campurdarat, Tulungagung belum terpecahkan. 

Hingga saat ini polisi masih terus melakukan penyelidikan di rumah korban. Polisi tampak melakukan upaya mencari jejak baik jejak sidik jari dan jejak lain yang mungkin  bisa ditemukan di TKP. Polisi berupaya keras menguak misteri yang menimpa keluarga pengusaha batu marmer, kayu serta penyedia  jasa pengurusan STNK ini. 

Berdasarkan keterangan sejumlah warga, beberapa hari sebelum ditemukan tewas,  Didik dan istrinya masih tampak melakukan aktivitas. Hanya saja, pada pada hari Senin (6/11) lalu, rumah korban didatangi oleh sejumlah orang. Diduga, kedatangan orang tak dikenal itu berkaitan dengan hutang piutang. 

"Tadi banyak yang bilang melihat tiga orang datang kerumah ini, orangnya mirip debt colector dan menagih hutang. Banyak tetangga yang tau, tadi juga ditanya polisi dan wartawan bilang begitu," kata salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. 

Saat dikonfirmasi, kepada desa Campurdarat Dul Jalal mengatakan bahwa selama ini keluarga korban dikenal baik-baik saja. "Dia dikenal sebagai penguasa batu marmer dan kayu," kata dia.

Selain diketahui menjadi pengusaha batu marmer dan kayu, korban juga belakangan ini membuka jasa pengurusan STNK. "Usaha itu dilakukan lantaran rumah tinggal Didik berdekatan dengan kantor Samsat di Campurdarat," ujar Jalal.

Kasus kematian pasutri ini mulanya diketahui oleh cucu korban berinisal RS (13). Dia melihat kakek dan neneknya telah tewas dengan bau yang menyengat di dalam rumah.

"Cucunya itu rumahnya Pojok (Campurdarat), dia datang kemari katanya melihat kakek dan neneknya tidur dan ada kecap tumpah di lantai," jelasnya

Karena melihat darah kering yang mirip seperti kecap itu, RS pulang dan menceritakan pada orang tuanya. "Kemudian kembali kesini bersama orang tuanya dan langsung ramai sekitar maghrib tadi," tambahnya

Zaenal juga mengatakan mencium bau busuk saat rolling door dibuka, menurutnya mayat sudah mulai membusuk
"Baunya menyengat, tadi kata petugas saat bicara sama temannya diduga tewas sudah tiga hari," kutipnya

Setelah tim forensik datang, mayat dibawa untuk dilakukan otopsi.

Sebelumnya, Kapolsek Campurdarat saat dikonfirmasi masih belum dapat memastikan penyebab kematian Suprihati, menurutnya apakah itu dugaan pembunuhan atau faktor lainnya 
"Belum, memang ada temuan mayat namun belum bisa di simpulkan, ini juga masih di identifikasi lebih lanjut. Saya juga harus melaporkan ke pimpinan dulu sebelum memberi keterangan," ungkap AKP Nengah Suteja singkat

Kapolsek berjanji jika sudah ada hasil meskipun sementara akan dirilis ke media massa. "Tunggu dulu prosesnya, nanti saya kabari," jelasnya 
 

 

Pewarta : Anang Basso
Editor : A Yahya
Publisher : Yogi Iqbal
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top