Optimalkan Penanganan TBC Anak, Dinkes Pemkab Blitar Gelar Workshop

Workshop TBC anak yang digelar Dinkes Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Workshop TBC anak yang digelar Dinkes Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Blitar menggelar workshop penanggulangan Tuberculosis (TBC) anak, Selasa (4/12/2018).

Sekalipun penyebab penyakit TBC pada anak dan dewasa sama, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis, namun ternyata gejala dan mekanisme TBC berbeda pada keduanya. Karena itulah dibutuhkan penanganan khusus untuk kasus-kasus TBC pada anak.

Workshop yang diikuti oleh pengelola TBC dan dokter umum dari puskesmas se Kabupaten Blitar dibuka oleh Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Pemkab Blitar, Eko Wahyudi. Dalam paparannya, Eko menyampaikan bahwa penatalaksanaan penanganan TBC pada anak dan dewasa tidak sama. khususnya pada identifikasi gejala, pemeriksaan, dan diagnosis.

“Kalau untuk dewasa pemeriksaannya kan melalui mikrokospis, pengambilan dahak itu. Sementara untuk TBC anak beda karena anak kan tidak bisa mengeluarkan dahak. Untuk anak pemeriksaanya melalui scooring. Untuk anak, selain batuk juga mengalami penurunan berat badan dan demam,” kata Eko Wahyudi.

Dikatakan, ada banyak faktor yang melatarbelangi TBC pada anak. Salah satunya adalah tertular dari keluarga dan orang-orang terdekat.

“Diantara keluarga anak ini mungkin ada yang sakit TBC. Jadi nanti akan discooring. Anak ini akan dinilai, gejala-gejalanya apa saja. Kemudian nanti akan diskor. Kalau di keluarganya ada yang skait TBC skornya akan 3. Kalau mengalami penurunan berat badan maka skornya 2. Kalau skornya lebih dari 5 maka dokter akan mendiagnosis yang bersangkutan menderita TBC,” paparnya.

Eko menegaskan, workshop ini sangat penting diikuti. Karena sejauh ini masih ada puskesmas di Kabupaten Blitar yang belum berpengalaman menangani penderita TBC anak. Sehingga dalam kesempatan ini Dinkes juga melaksanakan evaluasi penanganan TBC di masing-masing puskesmas.

“Ada beberapa puskesmas yang belum pernah menangani penderita TBC anak. Karena apa?, penderita TBC dewasa itu di semua puskesmas kan ada. Dan itu juga ada kontak anaknya, tapi anaknya belum dianjurkan periksa di pskesmas. Ini yang kita tekankan hari ini, anak juga harus diperiksa,” tegas dia.

Lanjut Eko menyampaikan, sejauh ini temuan kasus TBC anak di Kabupaten Blitar masih cukup minim. Meski demikian pihaknya menduga jumlah kasus TBC anak banyak yang tidak terdeteksi. Pihaknya berharap pasca workshop ini masing-masing puskesmas bisa menemukan lebih banyak penderita TBC anak.

“Penemuan, penjaringan atau penanganan TBC anak itu secara program ada target angkanya. Secara target setahun itu 200 lebih. Hanya saja untuk penemuan selama setahun ini hingga bulan November kita baru menemukan sekitar 26 penderita.  Ini perlu kita upayakan kegiatan seperti sosialisasi dan pemeriksaan terhadap kontak penderita, semisal kita temukan penderita dewasa maka kita periksa juga balita di keluarga atau lingkunganya,” tukasnya.

Orang yang terdeteksi mengidap penyakit tuberkulosis atau TBC harus segera diobati agar tidak menularkan penyakit pada orang lain. Pengobatan harus dilakukan sampai tuntas. Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menggratiskan biaya pengobatan penyakit TBC baik dewasa maupun anak-anak.

“Biaya pengobatan TBC di Kabupaten Blitar gratis, ini program pemerintah. Baik di puskesmas maupun rumah sakitsemuanya gratis,” tuntasnya.

Sementara itu narasumber dr Hidayati Utami Dewi, Dokter spesialis anak dari RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, dalam paparannya menyampaikan materi penatalaksanaan TBC pada anak dan TBC perinatal (TBC bisa terjadi pada bayi). Diharapkan petugas kesehatan Puskesmas dapat mengenali dan mendiagnosa TBC anak. Serta memberikan terapi TBC dan merujuk penderita.

“Karena memang di puskesmas itu alat-alat untuk mendiagnosa TBC itu masih kurang. Foto rongen kan belum ada, adanya di rumah sakit. Jadi nanti dirujuk ke rumah sakit untuk diagnosa. Untuk terapinya kita kembalikan ke puskesmas karena obat-obatan dari pemerintah itu sudah ada,” terangnya.

Di kesempatan ini dr Hidayati juga menyampaikan, TBC pada anak bisa dicegah dengan imunisasi BCG. Kemudian apabila ada kontak TBC di sekitar rumah maka anak harus segera diperiksakan untuk screening.

"Diagnosa TB anak memang tidak semudah diagnosis TB dewasa. Maka perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk menghasilkan diagnosa yang tepat," katanya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top