Buka Pintu Ekspor-Impor untuk Palestina, Pemkot Malang: Ikuti Kebijakan Zero Tarif

Ilustrasi emas perhiasan sebagai andalan ekspor Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi emas perhiasan sebagai andalan ekspor Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bakal membuka pintu ekspor-impor untuk Palestina. Hal tersebut mengikuti kebijakan Zero Tarif yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Kebijakan tersebut dinilai menjadi peluang pasar baru produk-produk unggulan Kota Malang.

Wali Kota Malang Sutiaji mengungkapkan, Menteri Perdagangan (Mendag) RI Enggartiasto Lukita menjelaskan bentuk dukungan negara terhadap Palestina salah satunya dengan aturan khusus dalam urusan ekonomi atau perdagangan. "Kebijakan pusat, hubungan ekspor-impor tanpa perjanjian bersyarat, seperti zero tarif. Tidak ada batasan dalam hal jumlah produk Palestina yang masuk ke Indonesia," ujar Sutiaji. 

Menurut Sutiaji, kebijakan itu merupakan peluang besar. Selain itu, juga perlu didukung secara masif terkait kebijakan peduli Palestina. "Nanti kami akan lakukan mapping (pemetaan) dan identifikasi dengan melibatkan para pelaku usaha di Malang untuk mendukung kebijakan itu," tutur pria yang juga pengurus PCNU Kota Malang itu. 

"Saya pikir banyak produk-produk Kota Malang yang bisa dijajaki untuk dipasarkan di Palestina. Namun mengingat ini kebijakan khusus, tentu tetap melalui kanal pemerintah pusat, baik itu melalui Kementerian Perdagangan maupun Kementerian Luar Negeri," tambah penghobi olahraga itu. 

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Malang Wahyu Setianto menambahkan, beberapa komoditas ekspor yang rutin diproduksi di antaranya emas dan perak, tembakau, furniture, kulit, bijih plastik, karet sintetis, hingga sabut kelapa. "Untuk saat ini negara tujuan ekspor seperti Jerman, Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Australia, Timur Tengah, Jepang, dan Makau," ujarnya.

Wahyu menambahkan, produk-produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kota Malang sebenarnya memiliki potensi besar untuk menembus pasar ekspor. Hanya saja, selama ini masalah pengetahuan akan mekanisme hingga sertifikasi produk masih menjadi kendala. "Masih banyak yang tidak tahu dan memahami prosedur dan mekanisme yang harus dilalui agar produknya bisa diekspor ke luar negeri," pungkasnya. (*)

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top