Kunjungan Naik 30 Persen, Bromo Tengger Semeru Setor Pendapatan Rp 27 Miliar

Ilustrasi, para pengunjung yang akan masuk ke kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Foto: Dokumen MalangTIMES)
Ilustrasi, para pengunjung yang akan masuk ke kawasan wisata Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Foto: Dokumen MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Pesona wisata alam di kawasan Bromo-Tengger-Semeru makin diminati wisatawan nusantara maupun wisatawan asing. Tercatat ada kenaikan kunjungan hingga 30 persen lebih sepanjang 2017-2018. Hal tersebut juga mendongkrak pendapatan negara bukan pajak (PNBP) hingga Rp 27 miliar dalam setahun. 
 

Berdasarkan data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), pada 2018 total kunjungan mencapai 853.016 orang atau naik 30,7 persen dari 2017 lalu yang tercatat ada 652.463 wisatawan. Kabag Humas BB TNBTS Syarif Hidayat merinci, kunjungan itu terdiri dari 828.247 wisatawan nusantara dan 24.769 pengunjung mancanegara. "Dari kunjungan wisatawan tersebut, kami dapat memperoleh PNBP sebesar Rp 27,3 miliar," ungkap Syarif. Pendapatan itu naik 24 persen dari 2017 lalu yang tercatat Rp 22 miliar.
 

Jumlah pengunjung dan PNBP tersebut, sambung Syarif,  masuk dari empat pintu masuk. Yakni tiga  pintu masuk wisata Bromo (penanjakan Pasuruan, Cemorolawang Probolinggo dan Coban Trisula Malang. "Serta berasal dari satu pintu masuk pendakian Ranu Pani Lumajang dan pengunjung komunitas," tuturnya.
 

Sepanjang tahun, libur panjang natal dan tahun baru menjadi salah satu momen banyaknya kunjungan wisatawan ke TNBTS. Tercatat selama libur natal pada 26-31 Desember 2018 sebanyak 37.928 wisatawan nusantara mengunjungi Gunung Bromo dan Semeru. "Sementara untuk pengunjung mancanegara yang datang selama libur natal sebanyak  167 orang," kata dia.


 

"Total PNBP yang diperoleh khusus libur natal ini sebesar Rp 1,29 miliar," imbuhnya. Usai libur panjang, mulai 3 Januari 2019 pendakian Gunung Semeru ditutup hingga waktu yang tidak ditentukan. Penutupan itu dilakukan sebagai upaya pemulihan ekosistem di kawasan tersebut. "Pemulihan ekosistem rutin dilakukan untuk menjaga keanekaragaman satwa dan tumbuhan di jalur pendakian," pungkas Syarif.

 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top