KONI Banyuwangi Sesalkan Kecilnya Anggaran, padahal PAD 2018 Surplus Rp 57 M

Ki Agus Syakur alias KGS (kiri)  saat memberikan keterangan kecilnya anggaran KONI Banyuwangi.
Ki Agus Syakur alias KGS (kiri) saat memberikan keterangan kecilnya anggaran KONI Banyuwangi.

JATIMTIMES, BANYUWANGI – Kabar bahwa pendapatan asli daerah (PAD) 2018 tembus Rp 446,065 miliar atau surplus Rp 57 miliar dibanding 2017 justru membuat dada sejumlah pengurus cabang olahraga maupun KONI Banyuwangi sesak. Mereka seolah merasa dianaktirikan oleh pemerintah daerah setempat karena alokasi dana hibah untuk pembinaan dan peningkatan prestasi olahraga sangat kecil.

Pada 2019, nilai dana hibah yang dikucurkan hanya Rp 2,75 miliar atau turun 50 persen dari anggaran 2018 sebesar Rp 5,5 miliar. Nominal itu bahkan jauh lebih kecil dibanding era KONI di tangan Pebdi Arisdiawan sepuluh tahun lalu yang mencapai  Rp 4,5 miliar.

Dana hibah yang diterima induk sejumlah cabor pun bisa dibilang hancur lebur. Sekilas nilainya memang gede karena bernilai miliaran. Namun duit  itu harus dibagi ke 29 cabor serta  untuk keperluan sekretariat KONI Banyuwangi.

Wakil Ketua KONI Bidang Anggaran Ki Agus Syakur mengatakan, pihaknya mengajukan Rp 9 miliar untuk 2019. Dana itu diperuntukkan bagi pembinaan dan peningkatan prestasi atlet plus mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim 2019 yang dihelat Juni mendatang.

"Kami  mengajukan proposal anggaran tidak muluk-muluk. Itu berdasarkan realita dan pembinaan atlet serta cabang olahraganya," ungkapnya.

KONI sudah menjelaskan soal dasar angka Rp 9 miliar itu kepada Dinas Pemuda dan Olahraga serta sekda Kabupaten Banyuwangi. Nyatanya tetap saja hibah yang dialirkan jauh dari harapan awal.

"September kami sudah di-warning oleh sekda bahwa dana hibah untuk KONI dipangkas 50 persen dari tahun sebelumnya. Kami sudah berupaya memberikan penjelasan tapi tetap saja tak diindahkan dengan alasan defisit. Lha kami tahu di surat kabar (Senin 7/1/19) PAD Banyuwangi 2018 surplus 57 miliar. Mestinya pemerintah mau menyuplai anggaran KONI sesuai kebutuhan," keluh pria yang akrab disapa KGS (singkatan dari Ki  Agus Syakur) itu.

Imbas minimnya dana hibah tak hanya memaksa KONI mengurungkan niat mengirim atlet dalam ajang Porprov 2019 di Tuban, Gresik, Lamongan serta Bojonegoro. Dana pembinaan yang diterima tiap cabor pun menyusut dan membuat kening pengurus berkerut karena harus pandai memutar otak demi efisiensi.

Cabor angkat berat atau PABBSI harus menerima kenyataan mendapatkan dana terkecil di antara 29 cabor lain. Dana Rp 21,7 juta yang diterima tahun ini harus diputar untuk pembinaan atlet selama satu tahun ke depan. Tentu ini bukan perkara yang mudah.

Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) yang menerima bagian Rp 163,2 juta tak kalah pusing. Meski paling besar di antara cabor lain, POSSI harus menahan diri untuk mengirim perwakilan atletnya dalam porprov maupun kejuaraan yang lain.

"Kecilnya anggaran tahun ini bikin nangis. Kasihan anak-anak yang berprestasi namun tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah," ungkap Ketua POSSI Banyuwangi Yusuf Widodo.

Pewarta : Hakim Said
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top