Meneladani Kisah KH. Yasin Yusuf, Mubaligh Kharismatik Asal Kademangan Blitar

KH Yasin Yusuf semasa hidup.(Ist)
KH Yasin Yusuf semasa hidup.(Ist)

JATIMTIMES, BLITAR – Sebelum tenarnya nama-nama mubaligh seperti KH. Zainudin MZ, Ustadz Jefri Al-Bukhori, Aa Gym, KH Anwar Zahid dan lainnya, ada seorang muballigh sangat kondang dari Blitar.

Beliau adalah KH. Yasin Yusuf, lahir di Kademangan tahun 1934 dan wafat pada tahun 1992.

Sosoknya yang sangat kharismatik serta gaya ceramahnya yang khas membuat ribuan orang rela berbondong-bondong datang dan mendengarkan ceramahnya dimanapun beliau berceramah.

Meskipun jarang tersorot media, nama KH. Yasin Yusuf sudah terkenal dimana-mana, terutama di daerah Jawa Timur. 

Selama hidupnya, mubaligh kondang asal Kademangan, Blitar ini sering diundang untuk mengisi cermah di Istana Negara. 

Utamanya setiap bulan Rabi'ul Awal, tokoh NU ini selalu diminta menjadi penceramah tetap pada acara Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara Jakarta di hadapan presiden Soekarno.

KH. Yasin Yusuf dikaruniai dua orang putri dari seorang istri yang pertama. 

Namun, setelah istri pertama wafat, Kiai Yasin menikah lagi dengan Nyai Mukhtatimah yang dikenal dengan panggilan Ibu Nyai Yasin. 

Dengan Nyai Mukhtamimah, dikaruniai satu putra dan kelak menjadi pengasuh pondok yang didirikan oleh Kiai Yasin. 

Pondok pesantrennya diberinama Pondok Luqmanul Hakim yang sampai saat ini masih berdiri dan dilanjutkan oleh putra dan Nyai Mukhtatimah di Kademangan.

Dalam wawancara dengan BlitarTimes, Minggu (7/1/2019), Bu Nyai Yasin Yusuf (istri KH Yasin Yusuf) mengatakan KH. Yasin Yusuf merupakan sosok yang penuh dengan keikhlasan. 

Meskipun tidak pernah nyantri, beliau sangat pandai membaca kitab kuning dan juga berpidato diatas podium. 

Dalam kenangannya Bu Nyai Yasin Yusuf menceritakan tentang awal perjuangannya, semasa kecilnya beliau menempuh pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU), Blitar,dan tamat pada tahun 1953. 

Sambil membantu mengajar di MINU, KH. Yasin nyantri di Pesantren Bustanul Muta’alimin Dawuhan, Kauman Kepanjen Kidul Kota Blitar, dan berguru pada KH. Zahid Syafi'i (pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Muta’alimin selama 1951-1981).

“Ya namanya orang mengajar lama-lama pandai berbicara didepan orang banyak. Kayak Pak Yasin itu aslinya tidak belajar, jadi yawes ilmunya kayaknya langsung lek maringi Gusti Allah. Jadi dengan tidak sengaja, Pak Yasin itu hanya guru Madrasah, ya gak pernah mondok, sekolahnya dulu ya hanya di MINU, ngajinya dulu ya di situ,” kata Bu Nyai Yasin.

Sekitar tahun 1953 beliau pertama kali berceramah naik panggung. 

Sejak remaja sudah dikenal pandai berpidato. Gayanya berpidato khas dan berkesan. 

Beliau bisa menirukan bermacam-macam suara binatang, pesawat terbang, tembakan meriam, bom meledak, dsb. 

Ia juga sering menirukan suara Bung Karno ketika membaca teks Proklamasi. Atau suara Bung Tomo ketika menggelorakan semangat juang para pemuda untuk bertempur melawan Sekutu dalam peristiwa 10 November 1945. 

Suara beliau dengan kedua orator ulung itu terdengar persis. Ketika itu belum ada mubaligh yang mempunyai kreasi seperti dirinya.

“Pak Yasin itu ndak sengaja diundang manten di lingkungan Kayen, Kademangan. Yang mantu Pak H. Ikhrom Masjid Kayen. Kebetulan yang ngaji itu ndak datang. Akhirnya ‘yawes pak guru (Pak Yasin) aja yang ngaji. Dulu manggilnya pak guru, emang ya guru madrasah. Bisanya gitu yawes pidato Bab Manten, kan emang sudah biasa ngajar,” kenangnya.

Disitu tamu pengiring pengantin berasal dari Tulungagung menyukai gaya ceramah K.H Yasin.

Sejak itu beliau sering diundang untuk berceramah di luar kota, mulai dari pengajian maulid, pengajian manten, pengajian rutinan dll.

Dalam kenangannya Bu Nyai Yasin juga menceritakan perjuangan awal beliau berdakwah sering kali diundang oleh warga Tulungagung.

Untuk menuju ke tempat acara beliau dengan semangat tanpa lelah mengayuh sepeda ontelnya menuju lokasi acara. 

Bahkan seringkali ketika pulang larut malam dan hujan KH. Yasin Yusuf berteduh di langgar (musholla) dan pulang keesokan paginya.

Meskipun sering diundang berceramah hingga ke luar kota, tiap harinya beliau tetap mengajar di madrasah dan juga mengajar ngaji di langgar di waktu sore.

“Pak Yasin itu orang yang ikhlas sampai akhir hayat. Pak Yasin itu melarat, ndak pernah ada target, ndak pernah minta bayaran sekian-sekian. Dulu kemana-mana keluar kota ya naik bus umum, jaman dulu ya emang gak punya apa-apa. Sekitar tahun 1955 Pak yasin dulu juga diangkat pegawai negeri mas, tapi gak mau, beliau pilh dakwah. Sudah diangkat pegawai negeri, guru agama, tapi Pak Yasin gak mau,” terangnya.

Menurut beberapa catatan pernah suatu ketika, ada empat pemuda PKI  yang berencana membunuh ulama NU ini. 

Mereka berada di satu tempat persembunyian lalu menarik busur panahnya kuat-kuat ke arah KH. Yasin yang sedang berpidato di tengah pengajian umum warga NU. 

Tiba-tiba sebuah keanehan terjadi, keempat pemanah yang akan membunuh KH Yasin Yusuf diam seperti patung, sampai akhirnya Kiai Yasin turun panggung dan mendekati mereka. 

Setelah disentuh tangan kiai, barulah mereka tersadar, ketakutan dan minta maaf.

Melihat karomah KH. Yasin akhirnya mereka langsung bertobat dan mengucapkan kalimat syahadat di depan Kiai Yasin dan para jamaah.

Sejak itu keempat pemuda tersebut aktif di Gerakan Pemuda Ansor.

KH. Yasin Yusuf adalah ulama dan muballigh yang tidak masuk dalam pengurus NU namun dedikasinya sangat besar bagi NU. 

Salah satu pidatonya yang khas adalah meminta orang-orang untuk mencoblos Partai NU dalam pemilu 1955.

“Kalau Bapak-bapak, ibu-ibu, tidak suka dengan NU, silakan. Mau apa dengan NU, silakan. Tapi untuk pemilu kali ini, tolong, bantulah NU, sekali saja, cobloslah NU,” demikian cara Kiai Yasin membujuk jamaah. 

Tanpa kehilangan semangat yang selalu dikobarkan dalam pidatonya menjelang pemilu.

Saking berpengaruhnya KH. Yasin Yusuf pernah datang utusan dari Presiden Soeharto untuk menawarkan jabatan menjadi  angggota DPR RI namun tidak dari Partai NU. 

Namun tawaran tersebut ditolak oleh KH. Yasin Yusuf, karena beliau sangat cinta kepada NU.

KH. Yasin Yusuf adalah idola KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 

Menurut catatan Gus Dur, dalam setiap perayaan haul Sunan Bonang di Tuban, Kiai Yasin selama puluhan tahun tak pernah absen memberikan ceramah dalam acara tersebut, meski tanpa diundang panitia. 

Ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum PBNU sekitar 1986, Gus Dur pernah mendatangi undangan pernikahan putri KH. Yasin Yusuf di Kademangan Blitar. Dalam sambutannya Gus Dur bilang bahwa "Kontribusi KH. Yasin Yusuf sangat banyak untuk NU, dan NU tidak akan mampu membalas jasa-jasa beliau yang bisa saya lakukan adalah hanya bisa mendatangi undangan pernikahan putri beliau," kata Gus Dur saat itu.

KH. Yasin Yusuf juga dikenal sebagai sahabat dekat KH. Hamim Djazuli (Gus Miek). Sering Gus Miek tengah malam datang menemui KH. Yasin Yusuf di kediamannya Kademangan Blitar.

Bahkan saat KH. Yasin Yusuf meninggal datang utusan dari Pondok Ploso Kediri, bahwa Gus Miek pernah berwasiat jika KH. Yasin Yusuf meninggal maka dimakamkan disampingnya yakni makam para wali di Desa Tambak, Kecamatan Mojo Kediri. 

Padahal saat itu liang lahat untuk pemakaman KH. Yasin Yusuf sudah disiapkan di Kademangan.

Akhirnya karena permintaan dan wasiat alm. Gus Miek keluarga rapat dan memutuskan KH. Yasin Yusuf dimakamkan bersandingan dengan KH. Ach. Siddiq (Rais Am PBNU) dan KH. Hamim Djazuli (Gus Miek). 

Ribuan pelayat mengiringi kepergian sosok kharismatik dari Blitar dengan penuh rasa kehilangan. Lautan manusia mengiringi perjalanan jenazah menuju makam para wali di Kediri.

“Ciri khas ceramahnya Pak Yasin itu, kalau nyontohin jawa ya bisa nembang jawa, kalau baca dalil dalil suaranya juga merdu, menirukan dalang juga bisa, menirukan suara-suara binatang, suara mobil, suara pesawat, suara bom, suara meriam juga bisa. Sehingga ada selingannya, jadi orang mendengarkan itu tidak merasa bosan. Dan sampai sekarang belum ada yamg seperti Pak Yasin, orang-orang sendiri bilangnya juga seperti itu, banyak dai atau penceramah kayak KH Zainudin MZ terus sekarang ada KH. Anwar Zahid. Tapi memang Pak Yasin itu punya ciri khas yang sepeti itu yang sampai saat ini kayak-kayak belum ada,” tutup Bu Nyai Yasin.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top