Penuhi Janji, Pemkot Blitar Tutup 8 Tempat Karaoke

Satpol PP Kota Blitar saat menyegel karaoke Hotel Puri Perdana.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Satpol PP Kota Blitar saat menyegel karaoke Hotel Puri Perdana.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Pemkot Blitar menepati janjinya menutup seluruh tempat karaoke di Kota Patria. 

Total ada 8 tempat karaoke yang ditutup pada Rabu (9/1/2019). 

Seluruh tempat karaoke tersebut disegel oleh personel dari Satuan Polisi Pamong Praja.

Petugas melakukan start dengan mendatangi karaoke hotel Puri Perdana. 

Petugas kemudian memasang tanda segel dan papan pengumuman jika karaoke sedang dalam proses evaluasi.

Kemudian dilanjutkan ke karaoke Jojo di lantai dua area Pasar Legi Kota Blitar.

Di lokasi kedua ini massa dari Forum Ormas Islam yang juga dilibatkan dalam proses penyegelan, sempat terkejut mengetahui kondisi di dalam tempat karaoke. 

Pasalnya, tempat karaoke tersebut berada di area pasar yang merupakan aset pemerintah Kota Blitar.

"Saya melihat sendiri Masyaallah, di dalam benar-benar memprihatinkan. Masyarakat Kota Blitar harus tahu kondisinya seperti apa di dalam itu, rawan dijadikan prostitusi terselubung," ungkap Ketua Forum Ormas Islam, Akbar Harir.

Petugas kemudian melanjutkan penyegelan karaoke di hotel Grand Mansion. Dengan disaksikan pengelola usaha karaoke.

Plt Kasatpol PP Kota Blitar Juari mengatakan, ada sembilan karaoke yang disegel. 

Delapan dalam proses sedangkan satu temoat karaoke yaitu Maxi Brillian sudah disegel Desember 2018 lalu.

"Hari ini ada delapan. Diantaranya karaoke di hotel Puri Perdada dan hotel Grand Mansion, karaoke Jojo, 99, Next, Go Rame, Mega dan Vivace," terang Juari.

Penutupan ini dilakukan selama Pemkot Blitar melakukan evaluasi terhadap tempat karaoke.

Dalam proses evaluasi jika ditemukan adanya pelanggaran Pemkot akan memberi sanksi penutupan selamanya. 

"Poin yang dievaluasi meliputi bangunan fisik, kegiatan dan operasional karaoke, dan juga perizinan," jelasnya.

Pengelola usaha karaoke juga ikut menyaksikan proses penyegelan ini. Mereka mengaku pasrah dan akan mengikuti instruksi Pemkot.

"Kami ikuti aturan mainya saja lah.  Evaluasi kan maksimal sepekan, setelah itu bisa buka kembali. Tapi disini ada enam karyawan yang nganggur selama itu, dan tetap harus kami bayar," ujar General Manajer Hotel Puri Perdana Nyono Geovani. 

Nyono mengaku, karaoke di dalam area hotel Puri Perdana merupakan fasilitas untuk tamu hotel. Namun lama kelamaan banyak di luar tamu hotel.

"Izinya masih ikut izin hotel. Belum ada izin sendiri. Namun kalau memang diharuskan izinya sendiri-sendiri kami akan urus perizinanya," katanya.

Sementara Franki Candra pengelola karaoke Jojo mengatakan, pihaknya  terpaksa meliburkan 30 pekerjanya selama penyegelan. 

Franki mengaku dengan kondisi ini usaha karaoke yang dikelolanya pasti akan mengalami kerugian meski tak mau menyebut nominalnya. 

Namun pihaknya mengaku akan mengikuti instruksi Pemkot. 

"Kerugian pasti tapi ya saya gak bisa menyebutkan. Kami ikuti sajalah aturan pemerintah," ucapnya.

Untuk diketahui, penutupan ini merupakan buntut dari penggerebekan Maxi Brillian oleh Polda Jatim atas dugaan menyajikan tarian telanjang. Hingga  menyebabkan gelombang unjuk rasa. 

Terakhir Forum Ormas Islam menuntut Pemkot Blitar segera mengambil sikap dengan menutup seluruh rumah karaoke.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top