KITAB INGATAN 40 Aku Berlindung Di Bawah Hujan

Ilustrasi puisi (PxHere)
Ilustrasi puisi (PxHere)

JATIMTIMES, MALANG – *dd nana
-Aku berlindung di bawah hujan dari segala kenangan yang  ingin dipulangkan-

1/
Percayalah, yang bara itu bukan hanya pertemuan. Tapi, ingatan yang dimatangkan jarak dan waktu. Yang tersesat tidak bisa pulang, lantas menghuni relung paling ceruk di tubuh. Dimana kita terkadang lupa atas adanya.
Maka, jangan salahkan ingatan berkecambah dan berumah di relung paling ceruk yang tak bisa kau tebak arah, warna dan aromanya itu.
Sesekali, ingatan ingin mengintip dunia luar. Melongokkan kepalanya dari ubun-ubun kita. Sampai suatu ketika. Ingatan mengenali asal usulnya.
Saat tubuh yang begitu dikehendaki rebah di sepasang tanganmu yang merapat. Dan hujan mengurung tubuh dengan sempurna.
"Kami pulang. Kami pulang. Inilah awal kita. Tubuh ranum yang tenggelam dalam pelukan lelaki tak tercatat dalam cerita."
Ingatan begitu gembira. Serupa ujung hujan yang menusuki setiap yang terbuka tanpa lelah. Mencipta lubang dan aliran-aliran. Serupa aku yang membenamkan segala yang harus dilepaskan. Pada tubuh yang sangat dikehendaki.
Hujan semakin riang menguyupkan segala yang terbuka. Meremajakan ingatan yang lama berdiam di relung paling ceruk.
"Aku harus pulang, sayang."
Ingatan terdiam kaku. Aku terpaku.
"Jangan terlalu penuh kau isi relung-relung tubuhmu. Karena yang tumbuh selalu meminta pintu. Untuk dimasuki dan dirasuki rasa hangat menentramkan."
Hujan telah lama terdiam. Kuyup yang disisakan menghujamkan parang.
Dan ingatan terus meminta pulang.

2/
Konon, hujan dicipta dari getah pohon surga
yang dijaga para malaikat agar sekat antara alam bawah dan atas tetap menjadi rahasia.
Getah-getah itu sebagian terpercik ke alam bawah sebagai anugerah bagi yang terbuka dan menengadahkan wajahnya.
"Cukuplah, tuan. Mari kita keluar," katamu yang menggampit tanganku. Menuju ke luar dimana hujan menanti dengan dada terkembang.
Dalam pelukan hujan kita akhirnya memahami. Getah pohon surga yang terpercik itu ada juga di dalam tubuh kita.
Lengket dan saling mengikat. Cinta, kata mereka memanggilnya.

3/
Suatu ketika, kau akan berhadapan dengan dirimu sendiri. Di bawah hujan yang lama dinantikan para pecinta. Semoga kau selamat dan mampu kembali pulang. Dengan dada lapang dan ingatan paling telanjang.

4/ 
Aku berlindung di bawah hujan dari ingatan yang ingin pulang. Pada tubuh yang sangat dikehendaki. Pada pintu dengan ceruk-ceruk beraroma wangi surga.
Aku berlindung di bawah hujan dan menunggumu kembali datang.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Redaksi
Publisher :
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top