Di Afrika Saat Bertamu Boleh Meniduri Istri Sang Tuan Rumah, Berikut Lima Tradisi Nyeleneh dari Suku Pedalaman Afrika

Ilustrasi chanel Daftar5 (Foto : Youtube)
Ilustrasi chanel Daftar5 (Foto : Youtube)

JATIMTIMES, MALANG – Pada masing-masing negara di dunia ini, tentunya memiliki kebiasaan berupa adat dan tradisi yang berbeda-beda.

Namun kebanyakan orang mungkin akan merinding saat mengetahui tradisi suku asli di pedalaman negara Afrika. Bagaimana tidak, hanya untuk mendapatkan seorang calon istri kesayangan, para lelaki di sana harus bertarung hingga titik darah penghabisan.

Tidak hanya itu saja, saat sahabat lama berkunjung untuk bersilahturahmi, biasanya sang tuan rumah akan memperlakukan tamunya dengan sangat istimewa. Bahkan yang paling nyeleneh, istri mereka juga dipersilahkan untuk ditiduri oleh sang tamu.

?????Merujuk pada chanel youtube Daftar5, berikut lima tradisi aneh dan nyeleneh di suku pedalaman Afrika, yang berhasil dirangkum MalangTIMES.

1 . Berdansa dengan Mayat

Biasanya para keluarga yabg ada di belahan dunia, akan bersedih dan meratapi kepergian almarmum yang telah meninggalkannya. Namun kejadian seperti ini, tidak berlaku di Madagaskar, Afrika.

Dalam lima atau tujuh tahun sekali, para penduduk asli Madagaskar akan melakukan tradisi Famadihana, atau dikenal dengan istilah mengeluarkan mayat dari dalam kubur.

Setelah jenazah berhasil dikeluarkan dari makam, mayat tersebut kemudian akan diarak keliling desa sambil menari dan bersorak gembira.

Terdapat beberapa ketentuan dalam tradisi tersebut, salah satunya pihak keluarga dan semua penduduk setempat harus bersuka cita saat menjalani perayaan yang bisa dibilang menyeramkan tersebut. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan serta simbol cinta kepada sang almarhum.


2 . Bertarung Sampai Mati Demi Mempelai Wanita

Jika di Indonesia para pria akan berjuang memberikan perhatian, untuk mendapatkan hati seorang perempuan yang mereka dambakan. Namun berbeda dengan kejadian yang ada di Negara Afrika.

Demi mendapatkan hati perempuan yang mereka sayangi, para pria di Afrika rela untuk bertarung habis-habisan di atas ring pertandingan. Meski terbilang tidak manusiawi, nyatanya pertandingan semacam ini resmi dan berlangsung secara sportif di hadapan masyarakat yang menyaksikan.

Pertarungan semacam ini akan dilangsungkan, jika kedapatan sang wanita Afrika memiliki drama cinta segitiga.

Tapi pertarungan seperti ini tidak akan terjadi jika kedua pria bersedia untuk berbagi kekasih. Namun bila kedua pria tersebut tidak ada yang mau mengalah, biasanya mereka akan bertarung untuk membuktikan siapa yang lebih kuat dan pantas mempersunting wanita tersebut.

Nantinya, siapapun yang keluar jadi pemenang, sang wanita mau tidak mau harus bersedia dinikahkan dengannya. Mirisnya dalam pertarungan seperti ini, tidak jarang pihak yang kalah mengalami luka berat. Bahkan diantaranya juga ada yang menderita cacat hingga meninggal dunia.

3 . Berbagi Istri untuk Sahabat

Mungkin kita sudah sering dan merasa lumrah ketika mengetahui jika suatu tempat tongkrongan menyediakan fasilitas free Wi Fi. Namun apa jadinya jika saat bertamu, kita akan mendapatkan servis free wife (istri).

Hal nyeleneh semacam ini bisa kita jumpai saat berkunjung ke Negara Afrika. Di sana seorang tamu diangap seperti raja, terlebih jika yang bertamu adalah sahabat lama dari desa seberang.

Di wilayah Kenya, Afrika, masih ada sebagian kelompok suku pedalaman yang menerapkan tradisi nyeleneh tersebut. Ketika ada seseorang yang bertamu ke rumahnya, sang tuan rumah bukan hanya memperlakukan tamunya layaknya seorang Raja.

Mulai dari menyediakan makanan, pakaian hingga tempat tidur sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Tidak hanya itu saja, saking diperlakukan istimewanya, sang istri dari si pemilik rumah juga bakal dipersiapkan sebagai jamuan menginap.

Tanpa perlu basa-basi, sang suami pemilik rumah akan menawari kepada tamunya apakah dia ingin meniduri istrinya. Biasanya jika sang tamu berkenan, sang suami akan tidur di halaman depan rumah sampai pagi tiba.

Hal itu juga berlaku jika mereka melakukan kunjungan balik. Nantinya tamu tersebut juga akan memperlakukan hal yang sama untuknya.

Seiring berjalannya waktu, tradisi aneh tersebut semakin jarang ditemui. Belakangan diketahui, sudah banyak relawan yang melakukan penyuluhan akan bahaya penyakit menular akibat pergaulan seks bebas.

4 . Merebus Makanan dari Bekas Air Jenazah

Biasanya, sebagian besar ibu rumah tangga yang ada di Indonesia bakal merebus daging agar terasa empuk saat disajikan. Jika biasanya air rebusan bersumber dari mata air sumur atau dari saluran PDAM setempat, namun hal semacam itu nyatanya tidak berlaku di sebagian wilayah di Afrika.

Tepatnya di suku Chewa, Malawi. Di sana, masih ada sebagian masyarakat yang menjalankan ritual upacara pemakaman yang terbilang sangat mengerikan.

Yakni ketika salah satu dari mereka ada yang meninggal dunia. Maka jenazah sang almarhum akan digorok lehernya sampai terbelah ke bagian punggung. Setelah itu mereka akan menuangkan air segar berkali-kali, hingga sisa darah serta organ dalam perut jenazah dipastikan benar-benar keluar dan bersih.

Nantinya air yang dipakai untuk membasuh mayat itu, akan dibiarkan tergenang. Kemudian mereka akan menyaringnya dan dimasukkan kedalam wadah penggorengan untuk merebus makanan. Jika masakan yang direbus tersebut sudah matang, nantinya secara bersamaan akan mengkonsumsi makanan yang direbus dengan air jenazah tersebut.

Masyarakat di Afrika percaya, jika khasiat dari air jenazah dapat melindungi seluruh penduduk suku Chewa, agar tidak diganggu oleh roh-roh jahat. Selain itu mereka juga percaya, jika merebus makanan dari air jenazah bisa berguna untuk penolak bala.

5 . Moran, Ritual Bertarung dengan Singa

Dalam menyambut masa kedewasaan seorang pria, di Suku Maasai, Kenya, Afrika diberlakun tradisi anti mainstream yang sudah dijalani sejak jaman nenek moyang mereka. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Ritual Moran.

Tradisi ini mewajibkan setiap pria yang hendak dewasa untuk bertarung dengan singa buas. Bukan dengan perlengkapan senjata senapan api, mereka hanya diperkenankan menggunakan senjata dari sebilah bambu saja.

Meski menjalankan ritual yang mewajibkan masuk kedalam hutan tidak sendirian, yakni dengan ditemani sekitar 5 sampai 7 orang, namun mengalahkan singa hanya dengan bermodal bambu tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Apalagi singa di habitatnya memang dikenal sebagai hewan predator yang hidup berkelompok. Tentunya saat menjalani ritual yang terbilang berbahaya ini, dipastikan akan ada perlawanan sengit dari kelompok raja hutan tersebut.

Mirisnya, tidak jarang dari para remaja berakhir kegagalan dalam membunuh singa. Yang ada mereka justru tewas mengenaskan akibat terkaman kuku dan taring tajam dari singa buas tersebut.

Pewarta : Ashaq Lupito
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top