Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma Gelar Demo, Ada Apa?

Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma (Foto istimewa)
Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma (Foto istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Belum lama ini, Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar demo untuk menolak kebijakan fakultas. Bersamaan dengan itu hari ini (11/1) muncul sebuah rilisan di aplikasi pesan WhatsApp yang menyatakan bahwa Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma Malang menolak kebijakan fakultas.

Dalam rilisan tersebut disebutkan bahwa mahasiswa diwajibkan untuk membeli Majalah Radix sebagai syarat untuk mengikuti UAS. Untuk diketahui, Majalah Radix merupakan salah satu majalah yang dikelola oleh Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Fakultas Pertanian. Pemberitaannya terkait kehidupan civitas akademika Fakultas Pertanian Unisma.

Rilisan yang berjudul "Aliansi Mahasiswa Fakultas Pertanian Unisma Menolak Kebijakan Fakultas" yang disebar di sejumlah grup WhatsApp itu menyebutkan alasan penolakan karena tidak ada hubungan antara UAS dan pembelian majalah. Berikut salah satu fragmen tulisan dalam rilisan tersebut.

"Memang tidak berat hanya mengeluarkan uang dengan nominal Rp.20.000,00. Tapi yang menjadi garis besar bagi kami selaku perwakilan dari mahasiswa fakultas pertanian yaitu menjadi “PERSYARATAN UAS”  seakan akan UAS yang akan kami hadapi tak akan terlaksana hanya karena jual beli tersebut. Harusnya pihak fakultas memberi arahan dalam pemasaran bukan mengorbankan mahasiswanya sendiri dalam ladang  bisnis yang tidak mempertimbangkan pihak lain. Demi kenyamanan dan keamanan bersama marilah kita selesaikan dengan cara tidak mengorbankan. Kita tidak bermaksud hanya sebagai kritisi saja. Tetapi kita mengajak dalam transformative menghadapi hal seperti ini. Mungkin, ini adalah salah satu suara kami dalam menegur kebijakan fakultas."

Koordinator Aliansi Dwi Indrawan menyatakan kebijakan yang mewajibkan mahasiswa membeli majalah Radix sebagai syarat UAS sangat tidak masuk diakal.

"Majalah itu tidak ada sangkut paut dengan UAS. Ini adalah bentuk komersialisasi pendidikan," kata Dwi Indrawan saat dihubungi melalui telepon.

Sementara itu, pernyataan mengenai mahasiswa yang dikorbankan dalam ladang  bisnis oleh pihak fakultas ditepis oleh Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Unisma Nurhayati. Nurhayati menyatakan bahwa fakultas tidak mengambil dana sepeserpun. Permintaan pembelian majalah Radix adalah permintaan dari Unit Aktivitas Pers Mahasiswa (UAPM) Radix. Nurhayati juga menunjukkan surat permohonan yang ditandatangani oleh ketua UAPM Radix untuk mewajibkan mahasiswa membeli majalah sebagai syarat UAS.

"Kebijakan itu kami ambil dari mahasiswa untuk mahasiswa. Agar penguatan Unit Aktivitas Pers Mahasiswa Pertanian berlangsung terus. Mereka tidak dapat apa-apa dari penjualan itu. Hanya untuk keberlangsungan kegiatan per mahasiswa. Dana Rp 20 ribu itu hanya untuk mengganti biaya cetak, yang mengelola UAPM fakultas, (kami) tidak mengambil dana sepeser pun," tegasnya.

Untuk diketahui, kewajiban untuk membeli majalah Radix telah diterapkan oleh fakultas sejak dua tahun yang lalu. Dan selama ini berlangsung baik dan tidak ada masalah apa-apa. Nurhayati menyatakan, baru kali ini ada oknum yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Pertanian.

"Kebijakan ini sudah berlangsung dua tahun yg lalu untuk mensupport BSO unit pers mahasiswa Majalah Radix. Dan itu berlangsung baik-baik saja dan aman-aman saja. Baru kali ini ada oknum yg mengatasnamakan aliansi mahasiswa pertanian, yang tidak jelas siapa yang mendirikan," ujar Nurhayati.

Upaya untuk mengatasi masalah ini pun telah dilakukan oleh pihak fakultas. Nurhayati menyatakan ia telah memanggil beberapa mahasiswa yang menolak kebijakan pembelian majalah Radix Kamis, 10 Januari kemarin.

"Pertemuan kemarin hari Kamis tanggal 10 Januari 2019. Mereka kami panggil karena mereka menggalang massa melalui organisasi ekstra kampus, yang seharusnya bukan tempat mereka menyalurkan aspirasinya. Seharusnya mereka melalui DPM," katanya

Meski telah melakukan pertemuan, Nurhayati mengaku tidak menemukan jalan tengah. Menurutnya, mahasiswa yang diajak diskusi tersebut tidak mampu menunjukkan bukti adanya penolakan dari mahasiswa Pertanian Unisma.

"Kami ingin tahu nama-nama mahasiswa yang menolak untuk kami berikan pemahaman. Tapi mereka tidak bisa menunjukkan bukti itu dan malah ketua aliansinya itu Sdr. Syafii mengatakan itu rahasia perusahaan," ungkapnya.

"Apa logis jawaban seperti itu. Akhirnya saya tutup diskusi itu karena tidak ada bukti argumen yang jelas," imbuhnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan hingga saat ini mereka terus melakukan kajian terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh fakultas.

"Kami akan lakukan aksi penolakan lagi. Kurang lebih sekitar 100 mahasiswa yang menolak itu," katanya.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top