No Rocky No Party: Rocky yang Bikin Meng-(Gerung)

Rocky Gerung (Ist)
Rocky Gerung (Ist)

JATIMTIMES, MALANG – Begitulah akhirnya sang filsuf, akademisi dan intelektual publik (menyadur dari biografi yang tertera di laman wikipedia) mendapat sebuah sematan dari khalayak ramai. No Rocky No Party. 

Saya jadi ingat slogan iklan produk rokok dengan sematan kepada lelaki dengan ekspresi yang mungkin kerap terlihat menjengkelkan di layar televisi bagi sebagian orang. "Gak Ada Loe Ga Rame."

Sematan kalimat tersebut memperlihatkan sebuah kapasitas individu yang entah bawaan jabang bayi atau yang dibentuk oleh perjalanan hidup. Atau yang lainnya karena adanya kepentingan lain. Kapasitas untuk meramaikan sebuah suasana di suatu ruang. Keberadaannya membuat seisi ruangan gembira. 

Saya pakai kata gembira dengan menyampirkan sematan party yang ditujukan kepada pria kelahiran Manado, Sulawesi Utara, 20 Januari 1959 ini. Party atau pesta, siapa pun akan menganggukkan kepalanya, merupakan sebuah peristiwa yang diliputi dengan gelak tawa, makanan dan minuman di mana-mana, kerlap kerlip lampu serta banyak lagi kegembiraan di dalamnya.

Tapi party Rocky Gerung bukanlah party yang seperti itu. Sesuai namanya Rocky dan Gerung, maka party yang dihadiri olehnya berubah menjadi ruangan yang panas dengan otot leher menegang, ekspresi wajah marah atau jengkel dan sebagainya dan sebagainya.

Nama Rocky mengingatkan saya kepada sosok petinju dalam film yang dibintangi Sylvester Stalone berjudul Rocky Balboa yang pertama diproduksi tahun 2006.  Film yang terinspirasi dari sepak terjang petinju bernama Rocky Marciano (1 September 1923).

Sebagai Rocky, tentunya jalan hidupnya sangat keras dan ditempa dengan begitu banyak peristiwa yang juga keras, yang membuatnya menjadi sosok yang kuat. Seperti Rocky yang kuat dalam berbagai diskusi. Kuat melontarkan pernyataan-pernyataan yang membuat kuping, otak dan hati panas lawannya. Kuat bersikukuh dengan perannya yang jahil menggelitik kekuasaan di depannya.

Rocky yang diimbuhi dengan Gerung semakin membuat pria yang pernah berkuliah di Universitas Indonesia (1979) jurusan  ilmu politik dan pindah ke jurusan ilmu filsafat dan lulus pada tahun 1986 itu emakin menjadi-jadi.

Gerung menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti raungan; tangisan keras. Sebuah kondisi di mana makhluk hidup yang melakukan 'gerung' disebabkan oleh beberapa faktor. Gerung-nya serigala adalah sebuah ajakan untuk berinteraksi, bermain bersama. Gerung-nya manusia bisa disebabkan karena duka yang sangat dalam. Gerung Rocky adalah (dimungkin-kan) karena keduanya. Satu sisi mengajak untuk bermain di ruangan yang ditempatinya. Sisi lainnya mencoba untuk menjadi "lidah" orang-orang yang membutuhkannya sebagai juru bicara (jubir).

Gerung yang ternyata membuat beberapa kalangan tidak menyukainya karena  ajakan bermain dan raungan Rocky disinyalir hanya melakukan berbagai hasutan, adu domba dan fitnah kepada penguasa. Boni Hargens  selaku direktur Lembaga Pemilih Indonesia mengatakan:  "Ada ruang kosong di dalam kepala Rocky," atas berbagai gerungan Rocky di acara ILC, Selasa (15/01/2019) malam.

Maka tak heran Gerung-(nya) Rocky dijuluki secara negatif juga, yaitu nabi palsu. 
Rocky dan Gerung yang jadi satu di tubuh  penulis buku "Hak Asasi Manusia: Teori, Hukum, Kasus". Depok: Filsafat UI Press, 2006. Telah menjadi sebuah teror. Teror yang sebagian kalangan menyebutnya party. Teror bagi mereka yang tidak sepaham dan tidak bersedia tunduk pada berbagai permainan kata-kata Rocky yang meng-Gerung-gerung.

Gerungan Rocky yang mungkin "menyebalkan" dengan mimik wajahnya tersebut. Di sisi lain sangat dinanti dalam setiap debat yang ditayangkan televisi. Seperti yang disampaikan warganet di lini masa. 

"Sangat tercerahkan oleh Om Rocky. No Rocky No Party," tulis akun Indonesia Menang.

@akdintanjung menuliskan juga, "Kalau enggak ada beliau sudah tidur,". Akun ini menyoroti acara ILC yang menurutnya tanpa kehadiran Rocky Gerung maka, acara yang dikawal Karni Ilyas menjadi hampa dan membuat mengantuk penonton. "No Rocky, No Party...." begitulah warganet menyepakati berbagai Gerungan Rocky yang membuat acara ILC menjadi ramai, panas dan membuat melek mata penonton.

Tentunya, gerungan Rocky juga mendapatkan perlawanan dari warganet lainnya. Bagi mereka kalimat-kalimat, ekspresi, lontaran jawaban Rocky, tidak etis dan di luar kesusilaan orang bercakap-cakap.

@ltfmalik menuliskan, "Rocky mencerminkan minim etika atau akhlak ketika berbicara dengan orang lain. Bicaranya memancing emosi orang lain, ketika orang lain menginterupsi atau memotong pembicaraannya malah orang lain di bilang kadal. Inikah cerminan orang hebat dan beretika."

Lepas dari pro dan kontra kepentingan orang-orang, apalagi di dunia maya yang terbelah menjadi dua menjelang Pilpres 2019 yang sangat meletihkan bagi saya melihat berbagai pertengkaran kosong itu. Gerungan Rocky memang membuat orang-orang menggerung juga. Hanyut dengan permainan dan tarian kata-kata Rocky. 

Andai saja Rocky dibiarkan saja menggerung sendirian, dan yang lain mengabaikannya. Atau menutup telinganya, seperti yang Rocky lakukan saat Boni berbicara. Mungkin Gerungan itu hanya akan menari di ruang kosong. Memantul-mantul sendiri dan tidak akan melahirkan gerungan lainnya.
Saya pribadi sudah terlalu bising dengan banyaknya gerungan. Baik dari Rocky maupun dari orang lainnya. Sekian.