Ekspedisi Malang Purba (4)

Banyak Kecamatan di Kabupaten Malang Dulunya adalah Bekas Gunung Api di Dalam Laut

Tim Ekspedisi Malang Purba sedang berada di pebukitan Dampit dengan latar belakang batu karang, batu yang hanya ada di lautan atau bekas lautan. Dekan FMIPA UB Drs Adi Susilo M.Si, Ph.D (tengah), General Manager MalangTIMES Lazuardi Firdaus (kiri), Ketua Yayasan Garuda Khatulistiwa Rachmad Zakaria (kanan), dan para peneliti dari FMIPA UB.
Tim Ekspedisi Malang Purba sedang berada di pebukitan Dampit dengan latar belakang batu karang, batu yang hanya ada di lautan atau bekas lautan. Dekan FMIPA UB Drs Adi Susilo M.Si, Ph.D (tengah), General Manager MalangTIMES Lazuardi Firdaus (kiri), Ketua Yayasan Garuda Khatulistiwa Rachmad Zakaria (kanan), dan para peneliti dari FMIPA UB.

JATIMTIMES, MALANG – Anda pernah ke pantai-pantai di Malang Selatan? Kalau Anda pernah ke pantai di Malang Selatan, tentunya Anda akan melewati kawasan pebukitan yang jalannya naik turun dan menikung. Sebelah kanan kirinya terdapat jurang atau lembah yang mayoritas masih berupa hutan belantara.

Tentu Anda tidak akan menyangka bahwa dataran tinggi tersebut dulunya adalah lautan dalam. Tempat habitat samudera seperti paus, hiu, dan mahkluk laut lainnya hidup di daerah yang saat ini banyak terdapat pemukiman manusia.

Tim Ekspedisi Malang Purba menemukan banyak fakta bahwa sebagian kecamatan di Kabupaten Malang awalnya adalah lautan dalam. Beberapa kecamatan yang dulunya adalah lautan di antaranya adalah Bantur, Donomulyo, Pagak, Sumbermanjing Wetan, Ampelgading, Tirtoyudo, Gedangan, dan Dampit.

Tim Ekspedisi Malang Purba yang digelar MalangTIMES dan FMIPA UB (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya) telah .mengungkap sejarah sains terbentuknya Kota Malang dan Batu pada edisi sebelumnya. Sejarah ini masih belum ditulis di literasi manapun. Dan pada edisi kali ini kami akan menguak misteri terbentuknya Kabupaten Malang, terutama kawasan yang ada di Kepanjen dan Malang Selatan.

Untuk menguak asal usul Kabupaten Malang, Tim Ekspedisi Malang Purba melakukan penelusuran di kawasan pebukitan di Sumbermanjing Wetan dan Dampit. Dari hasil penjelajahan tersebut kami menemukan banyak batuan karang dan batuan hitam yang berdampingan.

Dekan FMIPA UB Drs. Adi Susilo, M.Si., Ph.D menyatakan, batuan karang hanya terdapat di lautan. "Batuan karang di sini jumlahnya sangat banyak. Ini menandakan bahwa kawasan ini dulunya adalah lautan," kata Adi sambil melihat batuan karang berukuran besar yang ada di kawasan pebukitan di Sumbermanjing Wetan.

Dia juga menunjukkan beberapa fosil ikan ataupun udang yang banyak bertebaran di kawasan itu. Batuan ini ada di darat bukan karena terbawa bencana alam seperti tsunami. Tapi daratan tersebut dulunya adalah memang lautan.

Uniknya lagi, di sekitar serakan batuan karang terdapat bebatuan hitam. Batu-batu hitam ini merupakan batuan vulkanik yang hanya terdapat di kawasan gunung berapi.

Berdasarkan temuan itu, dia menjelaskan, bisanya batuan karang dari laut bersanding dengan batuan vulkanik dikarenakan adanya satu sebab. Yakni di pebukitan itu dulunya adalah gunung api yang terdapat di dalam lautan. "Malang Selatan itu dulu adalah laut dan kawasan pebukitan ini dulunya adalah gunung api aktif, tapi sekarang sudah mati," terang Adi.

Dia menambahkan, lautan di Malang Selatan ini termasuk lautan tua. Ini bisa dilihat dari rapat dan padatnya batuan karang yang ditemukan. Usia lautan di Malang berkisar 20 jutaan.

"Wilayah ini (pebukitan) pada 20 juta tahun lalu adalah lautan. Setelah adanya gesekan lempeng India dan Australia kemudian munculah gunung-gunung api. Usia gunung api di dalam lautan ini sekitar 19 jutaan," sambung pakar geologi asal Sumbermanjing Wetan tersebut.

Gunung-gunung api tersebut kemudian meletus beberapa kali dan akhirnya mati. Dan setelahnya terjadi pengangkatan daratan. Sedangkan gunung-gunung yang ada saat ini terus mengalami pergeseran. "Tiap tahunnya bergeser antara 5 sentimeter sampai 7 sentimeter. Karena itulah posisi gunung yang ada di Malang ini terus menjauhi lautan," ucap Adi.

Pergeseran gunung dan pegunungan itu, jelasnya, sangat sesuai dengan pernyataan yang ada di Alquran, yakni Surah an Naml ayat 88. Surah tersebut berbunyi, "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Dibandingkan dengan Gunung Semeru, Bromo, Welirang, Arjuno, Kawi, dan Kelud yang baru berusia 5 juta tahun, usia gunung di Malang Selatan jauh lebih tua, yakni 19 juta tahun.

Untuk Sumbermanjing Wetan, daerah yang berupa lautan adalah mulai dari Desa Druju ke arah selatan. "Mulai Desa Druju ke selatan itu semua lautan," imbuhnya.

Lantas, apa buktinya? Di daerah Desa Druju ke selatan banyak terdapat batu kapur atau gamping. Menurut Adi, apabila di suatu daerah terdapat gamping maka dulunya adalah laut yang kemudian mengalami pengangkatan. "Pokoknya yang ada batu kapur berarti dulu adalah laut," tegasnya.

Apabila ingin bereksperimen, Anda bisa melakukannya dengan cara merebus air. Merebus air yang ada di wilayah Malang Selatan akan menghasilkan kerak yang tinggi di panci dibandingkan dengan merebus air di Kota Malang. Hal ini karena kandungan kalsiumnya tinggi sehingga menempel-nempel begitu saja di panci. Begitu juga di tempat penampungan air di daerah Selatan, pasti banyak kerak-kerak di dasar penampungan.

Tidak hanya gamping saja bukti bahwa Malang Selatan dulunya adalah lautan. Adi yakin, masih ada hewan-hewan laut yang terperangkap di daerah sana.

"Kalau kita teliti, di situ akan banyak hewan-hewan laut yang masih terperangkap karena dulunya memang laut selatan," ungkapnya.

Adi mengungkapkan, adanya bekas gunung api di Malang Selatan sebenarnya adalah salah satu indikasi adanya logam mulia, yakni emas. Emas tersebut akan muncul di sela-sela batuan beku atau batuan vulkanik. Dan emasnya adalah emas primer.

Emas primer itu keluar bersamaan dengan magma dari gunung api. Bentuknya butir-butir yang berada di urat-urat batuan beku.

"Kalau di Selatan itu gunungnya sudah mati sehingga seandainya bisa membongkar gunung itu akan ada banyak emas," pungkas Adi.

Nah, dengan adanya bekas gunung api di Malang Selatan, adakah potensi tsunami seperti yang diakibatkan Krakatau di Selat Sunda?

"Kalau seperti tsunami di Krakatau itu kayaknya kita tidak berpotensi. Karena di sebelah selatan sekarang ini hampir tidak ada gunung api di laut," ujar Adi.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top