KITAB INGATAN 42

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Bau Cengkeh Berpadu Kamboja

* dd nana

1/ Kisah Purba
Akan ada yang menyerah pada waktunya
Cinta beraroma cengkeh berpadu bau kamboja
Setelah jemari tak lagi saling menjaga
Dan punggung yang saling menjauh. Dan air mata
Berkisah pada sesuatu yang jauh di depan mata. Sendiri dan sepi.
Di sebuah kisah tua, masih ingatkah kau
Kisah cinta seorang puteri yang berjalan menuju masa lalu
Dengan api di mata hatinya yang telah lama dihanguskan
Cinta. Menjadi kutuk yang menggigilkan langit dan memberi
Demam para dewa.
"Aku bersumpah pada api paling suci. Cinta ini akan meremukkan daging dan tulang lelaki paling rupawan,".
Tapi waktu yang tak memiliki mata punya caranya sendiri
Membuat cerita. Membuat sesuatu menyerah pada waktunya. 
"Agar rindu dendam tanak ku ceraikan kalian. Kelak, pada suatu waktu yang telah ditentukan kalian akan menyerahkan api paling jernih. Dari mata dan hati yang telah dihitamkan kisah,".
Percayalah, di paragraf itulah semua kehendak usai pada waktunya
Pada waktu bermata buta. Hidulah, persuaan itu
Baunya serupa perpaduan cengkeh dan bunga kamboja.

2/Bisma
Bisma telah lama menuliskan kisahnya sendiri
Kisah yang akan dibaca seorang perempuan, turun temurun
Sampai waktu hampir menyerah untuk mengusiknya dan 
Membubuhi cerita yang menurutnya akan membuat pembaca 
Tertawa, menangis atau keduanya.
Tapi ini tentang Bisma, lelaki yang membaca masa lalu dan di depannya
Dengan mata terbuka. "Aku manusia merdeka. Untuk hidup dan matiku,".
Hingga seorang perempuan membaca kisahnya dan membawanya dalam sebuah mimpi panjang percintaan.
Dan ranjang pengantin telah lama disiapkan. Dari api para dewa yang paling terang paling suci yang ada di dunia.
Api yang sempat membuat seorang lelaki dirajam sepi. Dimamah rantai waktu. Kelak, aku ceritakan kisahnya padamu.
Tapi ini tentang Bisma. Lelaki yang bersetia dan merdeka pada aksara
Maka jerat percintaan dan ranjang api dewa yang disuguhkan waktu
Tak membuatnya buta.
Membuat perempuan terbakar dan akhirnya bersabda.
"Bisma, Bisma, tunggulah aku di kuruksetra. Aku bakar cinta kita dengan darah yang membuat anyir sejarah."
Aku mencium bau cengkeh berpadu bunga kamboja.

3/Srikandi
Bukan pada badik dan busur panah dirinya belajar
Untuk menuntaskan takdir. Tapi pada ikan-ikan yang hidup
Dengan ketabahan batu karang dan keikhlasan dedaunan
Yang memberi ruang hidup bagi kehidupan baru.
Semua berawal di sebuah pawon sederhana. Dimana berbagai kehidupan diawetkan dan asap dari api menjadi pemandangan paling eksotis.
Aku sering menyebutnya jantung rumah pada setiap pawon yang menawarkan kehidupan. Di sebuah senja, matanya menatap ikan-ikan yang masih menggelepar di sebuah baskom.
"Malam ini kita isi perut kita dengan merah dagingnya, nduk." ucap seorang perempuan tua dengan mata ibu malam.
Tangannya terampil merogoh isi tubuh para ikan yang matanya masih terbuka. Jernih dan tidak terbaca marah, dendam atau ketakutan. Dirinya terkesima dan hampir jatuh cinta.
Tubuh yang kehilangan isi itu diisi dengan berbagai rempah-rempah. Tapi, sebelumnya sisik-sisik baja ikan ditanggalkan terlebih dahulu.
Telanjang dan terlihat semakin tak berdaya. Padahal para ikan dulunya adalah para pejuang tak pantang. "Tapi, percayalah nduk, para ikan rela untuk dilucuti seperti ini. Demi kehidupan lainnya," ucap perempuan tua dengan mata ibu malam.
Dia terkesima dan akhirnya jatuh cinta.
Dan percayalah, aku mencium bau aroma cengkeh berpadu kamboja. 
Bau yang akan mencuci anyir darah Bisma dan air mata Srikandi di padang perang kuruksetra.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top