Ilustrasi nyamuk(TacioPhilip)

Ilustrasi nyamuk(TacioPhilip)



Kinerja Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang kembali menjadi sorotan bersamaan dengan naiknya kasus DBD di kota pendidikan itu. Berdalih siklus demam berdarah dipicu faktor cuaca, dinkes sendiri menyebut bahwa terjadi penurunan dibanding periode sebelumnya. Dinkes juga melakukan pemantauan jentik nyamuk agar penyakit tersebut tidak mewabah.

Kepala Dinkes Kota Malang Asih Tri Rachmi Nuswantari mengakui bahwa ada peningkatan kasus dari bulan-bulan akhir 2018 lalu. Pada Januari 2019 ini, kasus DBD tercatat 19 kasus. Sementara pada Januari 2018, terdapat 9 kasus. Data tersebut berbeda dengan angka yang disebut oleh DPRD Kota Malang yang sebanyak 46 kasus. 

Asih menyebut, faktor utama peningkatan kasus DBD adalah cuaca. "Ini bisa jadi siklus lima tahunan nyamuk. Tapi yang utama adalah cuaca. Kota Malang beberapa bulan belakangan kan hujan lalu tidak hujan lalu hujan lagi. Cuaca ini menimbulkan banyak genangan air," ujarnya. 

Dia menambahkan, nyamuk Aedes Aegypti memang cepat berkembang biak di genangan air. Menurutnya, dinkes mempunyai cara jitu untuk mengurangi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD). Bukan dengan cara fogging atau pengasapan, melainkan dengan Panen Jentik Nyamuk.

Cara tersebut, lanjut Asih, dilakukan dengan menggunakan alat tampung air yang sengaja ditempatkan di sebuah tempat dengan bak tampungan terbuka. "Alat tampung air itu harus ditutupi dengan sesuatu berwarna hitam, karena nyamuk Aedes Aegypti suka dengan sesuatu berwarna gelap apalagi hitam," ujarnya. 

Selanjutnya, tunggu hingga 6 hari. Apabila jentiknya sudah ada, barulah dipanen. "Bisa dijadikan makanan ikan bisa dibuang saja," imbuhnya. Namun perlu diketahui, cara ini tidak boleh dilakukan lebih dari 6 hari sejak nyamuk bertelur di tempat tersebut. Pasalnya, setelah 6 hari, jentik akan berubah menjadi nyamuk lagi.

Perempuan berkacamata itu menegaskan bahwa cara tersebut dianggap lebih efektif dibanding fogging. Asih menyebut, pihaknya memang tidak melakukan fogging. Pasalnya, cara tersebut dinilai tidak efektif. "Beberapa tahun belakangan, fogging justru malah membantu nyamuk untuk berkembang biak. Nyamuk hanya pindah, dan tidak mengenai nyamuk yang sedang bertelur,” paparnya.

Selain itu, pihaknya telah melakukan langkah-langkah antisipasi agar wabah DBD tidak menyerang Kota Malang. Di antaranya dengan mengerahkan kader-kader posyandu untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait wabah DBD. 

Sebagai informasi, berdasarkan data Dinkes Kota Malang, pada 2016 kasus DBD tercatat sebanyak 464 kasus dengan penderita meninggal dunia sejumlah 3 orang. Pada 2017, kasus DBD sedikit turun, yakni sebanyak 105 kasus dengan kasus meninggal sejumlah 3 orang. Sedangkan pada 2018 terdapat penurunan yakni 82 kasus dengan catatan penderita meninggal dunia 1 orang. 


End of content

No more pages to load