Tergusur Alat Musik Modern, Pembuat Kendang Masih Berusaha Bertahan

Putut saat mencoba kendang buatanya sebelum dikirim ke pemesan (foto:  Joko Pramono/Jatim Times)
Putut saat mencoba kendang buatanya sebelum dikirim ke pemesan (foto: Joko Pramono/Jatim Times)

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Kendang atau gendang merupakan alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul. 

Alat musik ini biasanya terbuat  dari kayu yang tengahnya berlubang dan ditutup kedua sisinya menggunakan membran dari kulit binatang. 

Alat musik tradisional ini ditabuh dengan dipukul yang berfungsi mengatur ritme musik.

Sayang keberadaan alat musik ini kian tergusur oleh invasi alat musik modern. 

Tentu hal itu berdampak pada keberadaan pengrajin kendang yang ada. 

Purut Harilaksono misalnya,  pengrajin kendang dari Desa Bangoan Kecamatan Kedungwaru ini terus membuat kendang  meskipun hanya melayani pesanan. 

"Saya hanya buat (kendang) ketika ada pesanan saja," katanya.

Hasil dari membuat kendang itu cukup membantu penghasilannya sebagai seniman kendang.

Modal yang dikeluarkan untuk membuat kendang sekitar 700 ribu untuk membeli kayu nangka sebagai bahan pembuat kendang. 

Selain juga kulit sapi atau kerbau sebagai membranya, dengan harga 150-200 ribu perkilo. 

"Untuk kulit biasanya saya beli di daerah Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung di sentra (kerupuk) rambak," ujar pria 26 tahun itu. 

Pemesan kendang buatanya rata-rata seniman. Mereka biasanya berasal dari sekitar Tulungagung,  Kediri,  dan Trenggalek. 

Namun ada juga yang berasal dari luar pulau jawa seperti Papua dan Kalimantan.

Harga kendang buatanya bervariasi,  tergantung bahan, jenis dan modelnya. 

Untuk kendang ukir diharga sekitar Rp 1,5 juta, sedangkan non ukir Rp 1,3 juta. Satu kendang memakan waktu 2 minggu untuk produksinya. 

"Saya buat kendang ciblon, sabet, jaipong dan lainnya. Nah, kalau jaipong sepaket dihargai Rp. 3,5 juta," terangnya lebih lanjut. 

Perbulan biasanya Purut menerima hingga 5 pesanan kendang berbagai jenis.  

Omset yang diterimanya juga tak pasti, tergantung jumlah dan jenis dari kendang yang dipesan. 

"Kalau ditanya keuntungan perbulan rata-rata perbulan tidak bisa, karena tergantung ada pesanan atau tidak. Karena kalau kondisi seperti ini bisa ramai dan juga sepi. Tapi keuntungan dari kerajinan tersebut bisa menambah penghasilan untuk keluarga," pungkas Putut.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top