Awas Jangan Sampai Kena Denda, Pengguna Tol Mapan Harus Tahu Tentang Ini

Bukti denda serta kartu e-toll milik akun Imam sar yang diupload di group FB (Ist)
Bukti denda serta kartu e-toll milik akun Imam sar yang diupload di group FB (Ist)

JATIMTIMES, MALANG – Bagi Anda pengguna jalan tol, khususnya warga Kabupaten Malang dan sekitarnya yang terbiasa mempergunakan jalan tol Malang-Pandaan (Mapan) saat akan menuju Surabaya, perlu mengetahui aturan yang berlaku di jalan tol tersebut.
Terutama mengenai pemakaian kartu e-tol atau uang elektronik yang telah dijadikan alat pembayaran pengendara saat akan masuk pintu tol.
Pasalnya, ketidaktahuan mengenai hal tersebut bisa membuat Anda harus merogoh kocek lebih dalam dibandingkan tarif masuk tol itu sendiri. Hal ini terjadi pada Imam Sar, anggota group Facebook Komunitas Peduli Malang (Asli Malang) yang memposting pengalaman terkena denda di jalan tol dikarenakan ketidaktahuannya atas peraturan pemakaian kartu e-tol.
Dalam laman group FB tersebut, Imam Sar membagikan pengalamannya sebagai berikut (teks sesuai aslinya, red).
"Berbagi pengalaman buat semuanya. Hari minggu 3 februari 2019 saya melakukan perjalanan Malang, Pandaan, Sidoarjo, Surabaya, yg seharian keluar masuk pintu TOL. Mohon untuk semuanya jangan sampai melanggar kejadian seperti yang saya perbuat di pintu TOL (tapi bila memang itu saya melanggar) krn baru kali ini mengalami hal seperti ini. Kronologinya begini. Sejak awal perjalanan saya memakai kartu tol A dan alhamdulillah selama perjalanan berjalan lancar dan ketika pas kembali pulang di pintu TOL terakhir pandaan pas mau keluar saya merasa krn saldo kartu A sudah menipis saya ambil kartu B untuk saya tempelkan pada mesin otomatis di pintu TOL dan palang pintu tidak terbuka. Kemudian dibantu petugas dan dia berkata "bapak punya kartu yang lain" saya jawab punya dua dan kedua duanya di coba dan masih ada saldolnya tapi palang pintu tetap tidak bisa terbuka dan akhirnya petugas berkata :
"bapak kena denda dua kali seperti putar balik" dan saya bertanya "berapa pak?" Petugas menjawab "sembilan puluh lima ribu pak".
Dan saya kaget yang awalnya tarif sebenarnya keluar TOL Pandaan Rp. 19.500 jadi Rp. 95.000. Dan antrian mobilpun semakin panjang karena ulah saya tadi. Dan petugas berkata "bapak bayar denda dulu baru palang pintu bisa kebuka" krn saya penasaran dan agak heran petugas saya tanya tentang peraturan dan undang-undangnya bagaimana akhirnya saya diajak kekantor untuk menemui staf yg ada saat itu. 
Saya di dalam kantor sempat debat yang panjang dan lebar karena baru kali ini saya tau peraturan seperti ini. Kalau dilihat dari kesalahan saya tidak ada satupun kartu saya yang rusak dan hilang dan saya bisa menunjukan bukti kartu saya. Dan menurut orang staf kantor td berkata :
"kalau bapak masuk pakai kartu A keluar juga harus pakai kartu A" saya kembali bertanya "kalau kartu A saya habis saldonya trus saya pakai kartu B knp tidak bisa?" Jawabanya "krn ini sistem" buat apa kok banyak instansi yg bikin kartu E-TOL kl tdk bisa digunakan...".
Begitulah protes Imam atas denda yang harus dibayarnya karena ketidaktahuan mengenai sistem palang pintu yang dipakai di jalan tol.
Postingan tersebut mendapat reaksi sangat banyak dari warga facebooker di group Komunitas Peduli Malang (Asli Malang). Di satu sisi, warganet tersebut menyayangkan aturan dan sistem yang dipakai di jalan tol. Di sebelah lainnya memberikan pemahaman atas  hal teknis penggunaan e-tol tersebut.
Syafiiur Riizaal, misalnya, menuliskan, "Pada intinya sama2 bayar aja dibuat rumit begitu, sebenere hal kayak gini bukan soal logika keluar masuk harus pakek kunci yang sama, ini jalanan umum bukan rumah sendiri. Padahal tol dari rakyat untuk rakyat masih aja dibikin bisa denda," ujarnya mengomentari persoalan tersebut.
Senada dengan yang diucapkan Rully Prasetyo. Dirinya mengatakan, "seharusnya keluarkan kebijakan untuk dibebaskan dr denda lah, krn sistemnya belum sempurna dan bukan salah penggunanya," tulisnya di group tersebut.
Persoalan Imam, juga pernah dialami oleh beberapa pengendara lainnya saat mengendarai kendaraannya melalui jalan tol.
Anne Zairinadhif menceritakan kasus yang mirip dengan Imam, seperti yang dituliskannya dalam percakapan group. "Laaah sama. Kmaren E-tol sya hbs waktu di tol waru apa gtu namanya. Trs ada petugas, trs dibenerin dan saya ditarik 200rb (emoticon kaget). Kok bnyak bgt yaaa. Saya sm suami bingung, Tnyata gmn  bener peraturannya?" cerita Anne. 
Disusul dengan Terry Tan yang juga mengalami hal sama, tapi dengan perlakuan berbeda dari petugas tol seperti yang dialami Imam dan Anne. "kemarin aku juga begitu tp gak di denda cuma byr yg harus di bayar," tulis Terry.
Curhatan Terry tersebut mendapat balasan dari komentar Rully yang menyampaikan, "Nah... Untung ibu ketemu petugas yg pengertian, krn msh byk masyarakat yg blm paham dgn sistem yg baru. Sebagian masyarakat tahunya masuk bayar, keluar jg byr,".
Lantas seperti apakah sebenarnya cara pemakaian e-tol agar tidak kena denda petugas. Beberapa akun FB di group Komunitas Peduli Malang ini menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan memasuki jalan tol.
Mahmud Ali, menuliskan bahwa e-toll itu kaitannya dengan database. Dan identitas pengguna jalan tol, ada pada e-toll yang dipakai. "Kartu e-toll itu, dipakai sebagai primary key dalam database nya e toll tsb. Jika masuk pakai etoll A, dan keluar pakai etoll B. Maka, etoll B gak ada dalam sistem, sehingga sistem gak tahu anda masuk dari gerbang toll mana? Sehingga, anda kena denda sekian. Denda ini, serupa dgn masa dulu karena kartu tol hilang (ketika masih pakai kartu tol)," tulis Mahmud menjelaskan persoalan yang menimpa para pengendara yang kena denda di jalan tol.
Basiron Akbar Khusaini pun memberikan penjelasan serupa dengan berbagai contoh, seperti naik KRL dan busway. "Contoh seperti naik KRL. Masuk dengan kartu A keluar jg dengan kartu A. Naik busway jg sama masuk dengan kartu B keluar jg dengan Kartu B.  Soal nya knp ???.. Karena kartu kita sudah terkoneksi dengan Gate masuk. Dan klo kita keluar dengan kartu yg lain. Otomatis kartu yg lain itu memang gk akan kebaca oleh sistem," tulisnya.
Basiron melanjutkan, "Untuk masalah denda. Memang sama. Denda Untuk KRL sendiri jg lumayan. Sekitar 50rb untuk pinalti nya.. (saldo kurang bayar saat out gate)/ kartu yg d pakai tdk sama. Contoh lain untuk gate BUSWAY. Saya Pakai kartu A tp kondisi kartu saya saldo nya kurang.. otomatis di TAB gate nya dengan kartu petugas.. dan kartu kita di tempel gandeng dengan kartu petugas.. jd kita tetep bisa keluar di GATE OUT. Pake kartu A. Semoga bisa meng edukasi.... " lanjutnya.
Lepas dari berbagai penjelasan tersebut, bagi Fahrir Ajwa hal tersebut tetap membuat bingung masyarakat. "Pertanyaan e...nek pancen ribet e koyok ngunu OPO.o Yoh e-toll di terbitno berbagai macem???kok g sak jenis AE koyok e-KTP....opo butuh Duwet tilangan Yoh Ben Ndang kesauran duwit e mbangun toll," tulisnya diakhiri emoticon tertawa.
Sama dengan yang dituliskan Bangkiak ae,"...saiki sembarang kok kyk serba ribet eo, sakno seng wong deso awam kyk q iki,".

Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top