Di Jember, NU Ditulis Organisasi Radikal di Dua Buku Pelajaran

Halaman 45 pada buku tema 7 yang kontroversial. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)
Halaman 45 pada buku tema 7 yang kontroversial. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

JATIMTIMES, JEMBER – Tulisan Nahdlatul Ulama (NU) bagian dari organisasi radikal  beredar tidak hanya di satu buku pelajaran. Di Jember, selain di buku panduan SD Tematik Tema 7 kelas V  saja, tulisan itu muncul di buku pendamping Tematik Terpadu Tema 7.

Bedanya, buku Pendamping Tematik Terpadu yang ada di halaman 14 ini menjelaskan jika masa awal radikal yang terjadi pada tahun 1920-1927-an adalah di zaman Pemerintahan Hindia Belanda.

“Saya terkejut saat mendampingi anak saya yang kelas lima mengerjakan PR. Di situ ada penjelasan tentang organisasi radikal. Ketika saya jelaskan kalau radikal organisasi terlarang. Dia juga sempat tanya nama-nama organisasi. Akhirnya saya harus menjelaskan banyak kalau itu di pemerintahan Hindia Belanda. Tapi tetap saja ini susah menjelaskannya kepada anak seusianya,” ujar Vivin, salah satu wali murid yang juga mantan guru, kepada media ini Jumat (8/2/2019).

Vivin menilai, buku tematik ini memang harus dilakukan revisi, penjelasan kepada anak kadang juga susah kalau anak-anak tidak memahami, terlebih buku tersebut beredar di seluruh daerah, tentu kemampuan orang tua dalam menjelaskan kepada anak-anaknya terkait materi ini tidak sama.

“Buku ini harus menjadi koreksi, bila perlu ada revisi, materi secara keseluruhan pada buku sudah bagus, hanya pada satu lembar halaman yang menimbulkan pro dan kontra, ya di sini tidak masalah ketika orang tua bisa menjelaskan kepada anaknya, kalau orang tua lainnya, karena kemampuan menjelaskan kepada anak-anaknya soal radikal pada buku pelajaran pasti tidak sama, ini yang harus menjadi catatan,” tambah Vivin.

Vivin juga mengatakan, yang dikhawatirkan pada buku panduan SD yang menulis NU sebagai organisasi radikal ketika diajarkan di daerah yang selama ini sering disinggahi kelompok radikal maupun yang anti-NU. Tentu buku panduan ini akan dijadikan kesempatan untuk memberikan pemahaman yang salah kepada anak didiknya.

“Ya mungkin kalau di Jember, saya sebagai orang tua akan berusaha menjelaskan kepada anak saya. Tapi bagaimana dengan daerah lain. Di daerah yang mayoritas bukan NU dan tidak suka dengan NU, tentu buku panduan ini bisa dijadikan kesempatan untuk merusak nama NU. Ini yang harus di waspadai,” ujarnya.

Samian, waka kurikulum Madrasah Ibtidaiyah Maarif KH. Shidiq Jember, saat ditemui sejumlah wartawan mengatakan bahwa dirinya baru mengetahui secara pasti dalam buku Tema 7 yang menulis NU sebagai organisasi radikal setelah sejumlah wartawan melakukan liputan. Sebelumnya dirinya hanya mendapat info dari grup Whatsapp antar-guru.

“Saya sudah tahu info ini dari sejak 3 hari lalu dari grup Whatsapp. Kalau di sekolah kami ada, justru saya tahunya dari wali murid. Tapi setelah saya pelajari, penulisan tentang NU sebagai organisasi radikal dalam buku pelajaran memang multitafsir. Di sini sudah dijelaskan masa radikal pada saat pemerintahan Hindia Belanda dan memang saat itu NU paling menentang. Di sinilah akhirnya NU dianggap radikal,” ujar Samian.

Namun, Samian masih menunggu keputusan dari kementerian. Sedangkan mengenai bagaimana menjelaskan kepada siswa didiknya, pihaknya yakin guru-guru di lembaganya akan hati-hati dan secara maksimal memberikan penjelasan kepada siswa.

“Insya Allah kami akan menyampaikan kepada guru-guru untuk hati-hati dan memberikan penjelasan yang benar saat materi ini diajarkan nanti. Kebetulan di sekolah kami materi pelajarannya belum sampai di sini. Tapi memang materi ini diajarkan di bulan Februari ini,” ujar Samian.

Sementara Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember Drs Edy B. Susilo saat dikonfirmasi media ini mengatakan bahwa pihaknya belum menerima laporan dari sekolah ataupun wali murid. Namun karena buku tersebut diterbitkan oleh kementerian, pihaknya akan menunggu langkah apa yang akan diambil.

“Saya belum tahu bukunya, tapi buku itu di terbitkan oleh Kementerian Pendidikan, kami selaku di daerah tidak bisa berbuat banyak. Ya menunggu hasil keputusan pusat dulu. Sebagai kaki tangan, di daerah kami sifatnya menunggu,” ujar dia. 

Pewarta : Moh. Ali Mahrus
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Jember TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top