Gunakan Bahan Impor, Harga Shuttlecock Produksi Kota Malang Ini Terjangkau

Proses penjemuran shuttlecock setelah diberi lem
Proses penjemuran shuttlecock setelah diberi lem

JATIMTIMES, MALANG – Tahu nggak shuttlecock atau yang banyak beredar di berbagai pelosok negeri ini diproduksi dari Malang? Salah satunya yakni shuttlecock atau yang biasa disebut kok dengan merek Prospek. Ternyata kok Prospek itu diproduksi di tempat usaha milik Jumadin di jalan Ki Ageng Gribig, Lesanpuro gang II Kota Malang.

Bersama sekitar 25 karyawannya, ia memproduksi shuttlecock yang diberi merek Prospek. Usaha yang ia dirikan sejak 25 tahun lalu ini, kini sudah berkembang besar dan sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia.

proses pemasangan bulu (Luqmanul Hakim/Malang Times)

Dalam sebulan, ia mampu membuat sekitar 7.500 hingga 8.000 slop . Setiap slop nya  berisi 12 biji shuttlecock. Ia mengklaim shuttlecock miliknya berbeda dengan buatan Indonesia lainnya. Sebab, kok buatannya tersebut lebih bagus dan dibuat dengan lebih teliti, serta masih dengan pengerjaan secara manual. Sehingga menghasilkan kok dengan kualitas yang bagus setara dengan kualitas internasional. "Pengerjaannya lebih bagus dan lebih teliti, soalnya pengerjaannya manual," ujar Jumadin.

caption, Proses Control shuttlecock sebelum di Lem

Untuk bahan yang digunakan, Jumadin mengaku bahan yang ia gunakan bulu angsa yang diimpor langsung dari China. Bahan baku itu  ia beli dari agen di Surabaya. Shuttlecock bikinan Jumadin ini sudah sering digunakan di kejuaraan bulutangkis tingkat provinsi. "Dipakai di regional, seperti kejurprov, Jatim Open, Bontang Open itu juga pernah," ujarnya. 

Tak perlu khawatir, meskipun sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia, harga shuttlecock ini masih sangat terjangkau. Setiap slopnya hanya dihargai antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribuan sesuai kualitas dari bulu yang digunakan.

Shuttlecock yang siap di keringkan setelah di beri lem

Semua proses pembuatan dari awal hingga packing dilakukan di tempat usahanya ini. Mulai dari proses pengovenan bulu, hingga pengeleman serta proses packing yang masih manual. "Prosesnya itu, pertama bulu yang datang itu di oven, terus dipilah, terus diplong. Kemudian diikat kemudian masuk ke proses kontrol, terus dilem, baru di-packing," jelas Jumadin

Tak hanya itu, ia menuturkan bahwa tempat usahanya ini sering didatangi oleh para mahasiswa yang melakukan penelitian di tempat ini. Biasanya dari jurusan managenen perindustrian. 

 

Pewarta : Luqmanul Hakim
Editor : A Yahya
Publisher :
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top