KITAB INGATAN 44

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

JATIMTIMES, MALANG
Bunyi Sembunyi, Senja Menepi Di Kepala

*dd nana

Aku mahir menyembunyikan bunyi
Sebelum senja menepi di pangkuan ku dan meminta
Bunyi untuk saling bercerita. Walau terdengar patah-patah dan asing di telinga dan mata indah mu itu.
Maafkan aku.

1/ Perempuan yang mendaraskan sastrajendra di dadaku. aku rindu.
Dan kau tahu, rindu adalah kaki kuda yang meminta bunyi
Keluar. Riuh menuju tubuh mu yang sembunyi
Pada sunyi yang tidak bisa aku puisikan saat ini.

2/ Menujumu yang kini membatu, aku tidak ingin menyerah dan terbawa alun bisu ini.
Walau raga ternyata hanya mampu mengenangmu dan rindu kehilangan jalan menujumu.

3/ Mengenangmu serupa merekonstruksi puisi yang tak jadi-jadi.
Kau pasti bisa membayangkannya. Lelaki berkepala batu yang tersedu karena kehilangan aroma tubuhmu. Yang tak bisa menuliskan sebait pun puisi yang mampu membuat matamu kembali bercahaya. Seperti dulu.

4/ Punggung yang senyap. Jangan tanya dadaku, puan. Semesta menghardikku dengan keras.

5/ Kau tak pernah tahu, setiap hela nafasku adalah kamu. Dzikir yang mengembun dalam keringnya waktu; ragaku.

Senja menggiring sebuah ingatan. Purba dan tidak pernah aku sukai. Karena aku masih ingin menjadi pecinta yang keras kepala.

6/ Ukurlah jarak dengan bijak, dengan segala yang tak mudah retak. Setelahnya kau akan mengerti rasa lelah yang sunyi itu.

7/ Tuhan mencipta gelap agar cahaya belajar. Ruang-ruang yang dicipta tidak sepenuhnya milik terang.

Dan ragaku semakin malam. Dan puisi ku tak bisa menziarahi mu kembali. 

8/ Padahal, aku selalu menziarahimu lewat nafas puisi yang mungkin tak kau kenali lagi.

Tapi, aku akan mencintaimu. Walau puisi telah lama mati.

9/ Ada yang terluka, tentunya. tapi bukankah hidup adalah perjalanan antara nyeri.

10/ Kewajaran hidup adalah terluka. Nyeri sepi adalah do'a para lelaki yang akan mengantarmu pada piksel-piksel cahaya; menguatkan dan menenangkan.

Nasehat itu lagi yang datang. Padahal luka ku masih nyeri. Basah dan telanjang di mata senja yang berbinar. 

Biarkan aku sembunyikan bunyi. Agar raga ku dibungkus sunyi.

11/ Sejauh apakah kau mampu menegakkan punggung, untuk terus melawan segala ingatan yang terus dihilangkan.

12/ Raga mu cadas yang mengendapkan rindu begitu keras. Tapi ingatan tak bisa kau kunci dalam kepala. Selalu ada yang ingin dipulangkan, tuan.

13/ Kelak, disuatu ruang, ingatan menepi dengan tenang. Menempatkan segala kenangan dengan tepat. 

Jangan kau bunyikan. Kalau kau tak percaya.

14/ Sunyiku lebih panjang dari dugaanmu.
Bunyikan air mata. Biar kepala mu menjadi punya warna. Serupa senja.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top