Bawaslu Probolinggo Belum Punya Kantor Baru

Shelter di Jalan Panglima Sudirman sudah tidak ditempati oleh Dinsos.  (Agus Salam/Jatim TIMES)
Shelter di Jalan Panglima Sudirman sudah tidak ditempati oleh Dinsos. (Agus Salam/Jatim TIMES)

JATIMTIMES, PROBOLINGGO –  Tarik ulur soal kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Probolinggo hingga kini belum tuntas.

 Pemkot memberi pinjaman shelter Dinas Sosial (Dinsos) di Jalan Raya Panglima Sudirman, namun ditolak Bawaslu. Alasannya, bekas kantor Kelurahan Wiroborang tersebut tidak nyaman. Dengan demikian, Bawaslu hingga kini masih menempati kantor lama di Jalan Mayjen Panjaitan.

Tarik-ulur tersebut diungkap Ketua Bawaslu Azam Fikri, Minggu (10/2) siang. Disebutkan, Bawaslu pindah kantor karena rumah yang dikontraknya akan dijual oleh pemiliknya. Lantaran belum memiliki kantor, pihaknya meminta ke pemilik rumah untuk sewa bulanan.

Dan pemilik rumah menyetujui dengan harga sewa Rp 5 juta setiap bulan. Jika sewaktu-waktu lahan tersebut laku, Bawaslu mau tidak harus pindah. Karena itu, Desember tahun lalu pihaknya mencoba bersurat ke pemkot. “Ada dua kantor yang ditawarkan ke kami. Shelter Dinas Sosial (Dinsos)  di Jalan Mastrip dan bekas pabrik air kemasan Ganesha,” ungkapnya.

Tapi sampai kini, lanjut pria yang akrab disapa Azam itu, belum ada titik temu. Padahal, pihaknya sudah memilih shelter Dinsos di Jalan Mastrip. Bawaslu  tidak memilih bekas pabrik Ganesha di Jalan Soekerno-Hatta, Kelurahan Curahgrinting, Kecamatan Kanigaran, karena akan dipakai Dinas Koperasi Usaha Mikro Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP). ”Katanya mau dipakai UKM. Akhirnya kami memilih shelter,” tandasnya.

Hanya, hingga kini belum ada ujung pangkalnya. Informasi yang didapat Bawaslu, penyerahan menunggu penyerahan kunci dari kejaksaan Negeri (Kejari) Probolinggo.  Mengingat, shelter di barat jalan tersebut sebelumnya dipinjamkan ke kejari karena kantor kejari direnovasi. “Belum ada kabar. Tiba-tiba kami ditawari shelter Dinsos di Jalan Panglima Sudirman. Baratnya KPU,” tambah Azam.

Tentu saja, tawaran tersebut ditolak oleh Bawaslu. Sebab,  selain terlalu sempit, di tempat itu tidak ada lahan parkir. Walaupun di barat shelter ada lahan parkelir, namun milik masjid. Pihaknya tidak ingin mengganggu aktivitas Nasjid Baitul Muttaqin. 

“Selain tidak nyaman, kami disuruh menempati shelter dekat kantor KPU itu. Keputusan sepihak asisten pemerintahan. Ya, keputusan Asisten Pak Gogol,” ungkapnya.

Dan lagi, keputusan menempati shelter bekas kantor Kelurahan Wiroborang tersebut keputusan wali kota sebelumnya, Hj Rukmini. Padahal saat ini, Wali Kota baru Habib Hadi Zainal Avidin sudah dilantik bahkan sudah sertijab. “Kami masih mau menghadap Habib Hadi. Belum tahu kapan waktunya,” kata Azam.

Hasil pantauan di lapangan, shelter di barat kantor KPU itu ditutup dan kondisi kotor. Jumadi, petugas parkir Masjid Baitul Muttaqin. mengatakan shelter tersebut sudah tidak ditempati. “Nggak tahu kok tidak ditempati. Sudah dua hari pindah ke shelter Mastrip,” ujar Jumadi sambil tangannya menunjuk ke arah selatan.

Terpisah, Jepala Dinsos Zainullah mengatakan, pihaknya pindah ke shelter Mastrip karena shelter di Jalan Panglima Sudirman akan ditempati Bawaslu sesuai hasil rapat kooordinasi dengan asisten pemerintahan, kesbangpolinmas dan Bawaslu di ruangan asisten. “Disposisi Wali Kota (lama) Hj Rikmini seperti itu. Makanya kami pindah ke shelter Mastrip,” ungkapnya.

Zainullah berterus terang, Bawaslu sempat ditawari shelter Mastrip saat rakor di kantor kesbanglinmas. Hanya saja, pihaknya tidak setuju kalau shelter dipinjamkan ke Bawaslu seluruhnya. Ia meminta sebagian kantor shelter dipakai Dinsos untuk kegiatan Tagana (Taruna Siaga Bencana). 

“Karena shelter Panglima Sudirman sempit. Kunci dari kejari sudah diserahkan ke kami. Makanya, kami tempati ,” pungkasnya.

 

 

Pewarta : Agus Salam
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Yogi Iqbal
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top