1 Triliun Rupiah Abu Janda Somasi Facebook, Ini Kata Warganet Malang

Medsos menjadi alat sebar hoax, para pemilik adakan penutupan akun dan laman. (Ist)
Medsos menjadi alat sebar hoax, para pemilik adakan penutupan akun dan laman. (Ist)

JATIMTIMES, MALANG – Somasi Abu Janda atau yang bernama asli Permadi Arya terhadap  Facebook (FB) ancaman gugatan senilai Rp 1 triliun karena laman-nya dihapus dan dikaitkan dengan jaringan penyebar hoaks Saracen ditanggapi dingin.

Pihak FB melalui juru bicaranya menyampaikan secara singkat atas somasi dan ancaman gugatan dengan nilai fantastis yang dilontarkan Abu Janda. Seperti dilansir Tekno Liputan6.com, pihak FB menyampaikan prioritas mereka adalah meminimalisasi kekuatan grup Saracen untuk menggunakan akun, halaman, dan grup yang disusupi serta mencegah kemungkinan yang berbahaya.

"Kami juga sudah memberikan penjelasan tentang alasan  menghapus page milik Permadi Arya. Apabila pemilik sah dari akun, halaman, dan grup yang terdampak menghubungi kami, kami terbuka untuk menelaah dan mengkaji akun mereka kembali," ucap juru bicara FB yang didatangi Abu Janda.

Beberapa alasan pencabutan atau penghapusan laman FB, menurut Nathaniel Gleicher Head of Cybersecurity Policy Facebook, seperti dikutip dari Newsroom Facebook, dikarenakan akun maupun grup tersebut dianggap menyesatkan orang lain. Selain itu, semua  page, akun, dan grup tertaut dengan sindikat online Saracen.

Abu Janda sendiri menyomasi serta  mengancam menggugat Facebook karena akunnya dihapus dan merasa nama baiknya dicemarkan.  Dia tidak terima dituduh terlibat Saracen.  Abu Janda meminta  pihak Facebook cukup membuat rilis melalui Facebook News Room dan menegaskan Permadi Arya bukan bagian Saracen dan kemudian mengaktifkan kembali akunnya.

Tindakan somasi Abu Janda terhadap FB senilai Rp 1 triliun tersebut, menuai berbagai tanggapan dari  warganet Malang. Seperti yang disampaikan para facebooker di  grup Komunitas Peduli Malang.

Rusmin Syukur, misalnya,  secara berseloroh menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan orang seperti Abu Janda sekitar 5 ribu lagi. "Kami butuh sekitar 5.000 orang seperti abu janda..lumayan kalau menang gugatan utang Indonesia bisa langsung lunas," tulis Rusmin.

Senada dengan Rusmin, Awalludin Sukmana pun menyoroti dengan ekspresinya atas somasi Abu Janda kepada FB. Dirinya lebih condong untuk melakukan kritik kepada aparat. "Mark itu udah level internasional menganggap abu g**** saracen, tetapi intel dan aparat kita diem diem saja tidak menindak abu g****. Kenapa ya?," tulisnya. 

Lepas dari pro kontra warganet atas somasi Abu Janda, FB memang sedang gencar-gencarnya melakukan screening akun. Bahkan Gleicher menyebutkan pihaknya telah  menghapus 207 laman (page), 800 akun individual, dan 546 grup yang berkaitan dengan penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten meresahkan lainnya.

Laman-laman yang dihapus FB, masih menurut Gleicher, memiliki pengikut sekitat 170 ribu. Bahkan ada satu akun Instagram mengantongi pengikut 65 ribu.

Bersih-bersih laman yang dilakukan pihak FB tidak lepas dari adanya survei yang dilakukan oleh DailySocial yang bekerja sama dengan Jakpat Mobile Survey Platform mengenai sebaran hoaks terbanyak yang ada di media sosial. Hasilnya, informasi hoaks paling banyak ditemukan di platform Facebook (82,25 persen), diikuti WhatsApp (56,55 persen), dan Instagram (29,48 persen). 

Maraknya hoaks di platform media sosial tersebut juga, masih menurut survei, dikarenakan sebagian besar responden (44,19 persen) tidak yakin memiliki kepiawaian dalam mendeteksi berita bohong tersebut. Sedangkan sisanya, 51,03 persen responden, memilih untuk berdiam diri  ketika menemui hoaks.

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top