6 Pelatih Legendaris Arema dengan Segudang Cerita

Para pelatih yang pernah menukangi Arema
Para pelatih yang pernah menukangi Arema

JATIMTIMES, MALANG – Arema FC Malang punya segudang cerita naik turun di persepak bolaan nasional. Namun di balik itu semua, ada tangan dingin pelatih yang berjasa membawa timnya berprestasi.

MalangTIMES mengulas  enam pelatih yang pernah menangani Arema dan membawa Arema disegani. ika kalian Aremania, pasti tidak asing dengan nama-nama ini. 

1. Sebastian Sinyo Aliandoe 

Lahir di Larantuka, Flores Timur, 1 Juli 1940, Sinyo Aliandoe adalah seorang mantan pemain dan pelatih nasional sepak bola Indonesia. Dia meninggal dunia di Jakarta pada 18 November 2015.

Dia terjun ke dunia pelatih pada awal tahun 70-an, setelah mengalami cedera parah. Yakni patah tulang pergelangan kakinya.

Sebagai pelatih, Sinyo lebih mengutamakan hitungan-hitungan teknis di lapangan ketimbang menyandarkan diri dalam ungkapan keberuntungan. Dia menghitung benar setiap kemampuan para pemain dalam proses mencetak gol. Sinyo dikenal memiliki kemampuan mengubah pola permainan pasukannya seketika, hanya dengan memanfaatkan pergantian pemain.

Secara profesional Sinyo  hanya dua musim melatih Arema Malang sepanjang 1987-1989. Ketika menakhodai Arema selama dua musim, 1987-1989, Sinyo memang belum bisa memberikan gelar prestise untuk tim berjuluk Singo Edanbitu. Tapi, filosofi permainan yang ia tanamnkan untuk klub asal Malang tersebut selalu dikenang sampai sekarang.

Sinyo sendiri dinilai jadi sosok penting yang membangun karakter Arema dengan modal pemain terbatas. "Beliau punya filosofi yang sederhana tapi berkarakter. Rebut bola dari lawan, lindungi bola dari lawan. Itu saja," ungkap Eko Subekti, mantan pengurus Arema.

"Tapi, filosofi itu hidup sampai sekarang dan membuat karakter Arema sebagai tim yang keras dan ngotot di lapangan. Baik saat merebut bola ataupun menguasai bola," tambah Eko yang juga tokoh pendiri Arema itu.

 

2. Muhammad Basri

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 5 Oktober 1942 , Muhammad Basri adalah mantan pemain sepak bola nasional Indonesia dan pelatih  beberapa klub sepak bola di Indonesia.

Saat kans untuk meraih gelar juara Galatama 1993 (sebelum merger dengan perserikatan dan jadi Liga Indonesia) ada di depan mata, Arema justru ditinggal  Basri. Dia memutuskan pergi ke Mitra Surabaya dengan alasan ingin lebih dekat dengan keluarganya.

Kepergian Basri sempat menimbulkan kekhawatiran dari arek Malang yang terlanjur menggantungkan harapan juara kepadanya. Namun kekhawatiran yang sempat muncul itu pun tak berbuah nyata. Arema tetap melaju di bawah arahan Gusnul Yakin hingga akhirnya merengkuh gelar juara di akhir kompetisi.

Gelar juara yang diraih Arema kala itu terbilang dramatis. Dalam perburuan gelar juara, Arema bersaing sengit dengan PKT Bontang. Di tabel klasemen, perolehan poin kedua kesebelasan berselisih tipis.

Arema akhirnya memastikan gelar juara setelah PKT kalah 0-1 dari Barito Putera pada 29 Juli 1993. Kekalahan PKT membuat perolehan poin Arema tidak lagi bisa dikejar walau kompetisi saat itu masih menyisakan satu pertandingan.

Gelar juara Galatama 1992/93 tak dimungkiri melambungkan nama Arema di pentas sepak bola nasional. Khususnya bagi publik Malang, prestasi tersebut menjadi sebuah kebanggaan yang tak ternilai. Bagaimana tidak. Setelah berpuluh tahun masyarakat Malang merasakan dahaga prestasi, Arema pun datang untuk menuntaskannya.

Sebagai pelatih, Basri dikenal keras dan tegas. Ia selalu menegakkan disiplin tinggi pada tiap tim yang diasuhnya. Hingga kini, Basri bisa dikatakan sebagai pelatih lokal paling senior yang masih beredar di kancah sepak bola nasional Indonesia.

3. Benny Selvianus Dollo 

Lahir di Manado, Sulawesi Utara, 22 September 1950, Benny Dollo adalah seorang pelatih sepak bola asal Indonesia yang pernah melatih Timnas Indonesia dalam dua periode. Kariernya sebagai pelatih timnas tidak begitu cemerlang dengan catatan prestasi yang biasa.

Dari tahun 2004 hingga 2006 ia melatih Arema Malang di Divisi Utama Liga Indonesia. Selama di Arema, ia telah membawa klub tersebut menjuarai Divisi Satu (2004) dan dua kali Piala Indonesia dengan titel Copa Dji Sam Soe (2005, 2006). Sebelumnya Benny juga pernah cukup sukses melatih Persita Tangerang.

Benny memang dikenal sebagai pelatih yang keras dalam mendidik pemainnya. Akan tetapi, hal itu membuat tim lebih baik dan berprestasi.

Sejak ditukangi Benny Dollo, Arema dapat merengkuh tiga piala dalam tiga tahun berturut-turut. Pada 2004, Singo Edan kembali ke Divisi Utama karena bisa menjadi juara Divisi Satu Liga Indonesia.

Ketika dinakhodai Benny Dollo, nama-nama pemain seperti I Putu Gede, Aris Budi Prasetyo, Franco Hitta, Emalue Serge, Firman Utina, Claudio Jesus, Sunar Sulaiman, dan masih banyak lagi bisa membawa nama Arema  melambung tinggi di Indonesia.

4. Robert Rene Alberts 

lahir di Amsterdam, Belanda, 14 November 1954, Robert Alberts adalah seorang pelatih yang pernah membawa Arema Indonesia (kala itu) menjuarai kompetisi Indonesia Super League 2009-2010.

Dia adalah mantan pelatih klub Sarawak FA Malaysia. Pada 2007, dia juga melatih Tim Nasional Malaysia U-19 pada turnamen 2007 Champions Youth Cup yang juga disertai klub-klub Eropa U-19 seperti Chelsea dan Barcelona.

Saat ini ia melatih PSM Makassar. Rene merupakan mantan pemain sepak bola saat aktif sebagai pemain adalah alumnus akademi sepak bola Ajax Amsterdam.

Selain itu, Robert sempat merumput di klub Prancis, Amerika Serikat, dan Swedia.

Karier kepelatihan Robert juga panjang. Pada 2002, Robert menjadi direktur kepelatihan di Korea Selatan. Dia juga menjabat pelatih kepala Timnas U-17 Korsel hingga 2004.

Pada 2005-2008, Robert menjadi direktur teknik FAM (PSSI-nya Malaysia). Selama memegang klub di Malaysia dan Singapura, Robert membuat timnya mempunyai rekor sebagai yang tak terkalahkan.

Di Liga Malaysia 4 tahun, dan di Liga Singapura 6 tahun ia menangi semua titel kompetisi.

Pertama melatih di Kompetisi Indonesia, ia sukses membawa Arema Indonesia juara Liga Super Indonesia 2009-10 dan runner up Piala Indonesia 2010. Robert mampu menguasai bahasa Belanda, Blbahasa Swedia, bahasa Inggris, bahasa Jerman, bahasa Prancis, dan sedikit bahasa Indonesia.

Saat menukangi Arema, Robert sangat kalem dalam melatih. Terlihat, pemain beringas seperti Noh Alam Shah bisa dibawanya menjadi striker berbahaya di Indonesia kala itu.

Kemenangan demi kemenangan Arema saat ditukangi Robert Rene Albert ketika itu jarang dengan hasil besar. Walau menang tipis, Singo Edan bisa menjuarai Indonesia Super League 2009/2010.

Padahal saat itu, Arema banyak dihuni pemain muda dan bukan pemain berbintang satu di Indonesia. Namun karena tangan dingin Robert Rene Albert, akhirnya Arema bisa go internasional karena juara liga.

 

5. Gusnul Yakin 

Lahir di Malang, Jawa Timur, 17 Maret 1956, Gusnul Yakin adalah pelatih sepak bola berkewarganegaraan Indonesia.

Gusnul merupakan mantan pemain sepak bola.  Gusnul juga pernah melatih Persibo Bojonegoro dan berhasil membawa klub tersebut menjadi juara divisi Satu 2007 yang membuat Persibo berkompetisi di Divisi Utama musim 2008.

Saat menakhodai Arema, Gusnul Yakin tercatat adalah pelatih yang banyak duduk untuk mengatur strategi. Dalam catatan yang didapat MalangTIMES, Gusnul lima kali menukangi Arema, yakni pada tahun 1993-1994, 1995-1996, 1997-1998, 2003 dan 2008-2009. Sembilan tahun bukanlah waktu yang singkat bagi pelatih yang memang asli Malang itu.

Gusnul inilah yang membawa Arema meraih juara Galatama 1993. Namun, dia menggantikan posisi M. Basri yang pindah ke Mitra Surabaya. Arema yang berada di puncak saat ditangani Basri tetap di puncak dan bablas sebagai juara ketika dilanjutkan Gusnul.

6. Daniel Roekito

Pelatih kelahiran Rembang 19 Mei 1952 ini pernah menjadi bagian dari Arema pada tahun 2001 silam. Saat di Arema, pemain seperti Yanuar Hermansyah, Charis Yulianto, Kuncoro, Wawan Widiantoro, Agung Yudha, I Putu Gede, Han Young Kuk, Frank Bob Bamidele menghiasi skuat Singo Edan.

Tangan dingin Daniel berhasil membuat gabungan pemain berkualitas tersebut menjadi semakin ganas di atas lapangan.

Dari lini belakang saja bisa dilihat duet Charis Yulianto dan Aris Susanto menjadi benteng kuat Arema. Kemudian trio lini tengah I Putu Gede, Han Young Kuk dan Kuncoro menyuplai bola untuk gelandang sayap cepat Nanang Supriadi dan M. Ikhsan.

Kemudian striker yang sedang naik daun saat itu, Joko Susilo, yang diduetkan dengan Frank Bob Bamidele begitu ganasnya di lini belakang lawan.

Saat itu, Arema dikenal sebagai tim yang selalu bermain lugas. Tidak memerlukan skill tinggi namun kekompakan selalu menjadi nomor satu.

Dan hal itu yang membuat Arema masuk ke babak 8 besar Liga Indonesia 2001 bersama tujuh tim terbaik di Indonesia.

Pewarta : Hendra Saputra
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top