Putut saat mengecat barongan yang dibuatnya sebelum dikirim ke pemesan (foto:  Joko Pramono/Jatim Times)
Putut saat mengecat barongan yang dibuatnya sebelum dikirim ke pemesan (foto: Joko Pramono/Jatim Times)

Seni jaranan selalu lekat dengan sosok perwujudan ular besar yang dilakonkan dengan topeng besar. Topeng itu di kenal dengan barongan. 

Seiring perkembangan zaman,seni jaranan kian tergusur dengan seni modern. 

Hal itu berdampak pada pengrajin barongan. 

Salah satu pengrajin yang masih bertahan adalah Putut Hari Laksono (26),  warga Desa Bangoan Kecamatan Kedungwaru. 

Putut sudah menekuni kerajinan mengukir sejak SMP. 

Awalnya dirinya mengukir wayang kulit dengan belajar pada pembuat wayang kulit, Mbah marsam. 

Setelah bisa mengukir, Putut mulai membuat barongan secara otodidak pada usia SMA.

"Sejak SMA mulai buat barongan dengan modal awal 1-1,5 juta," ujar Putut. 

Pengerjaan satu barongan memakan waktu hingga hingga 2 bulan. 

Barongan dari kayu waru yang dibuatnya dijual dengan harga 4,5 - 6 juta,  tergantung ukuran dan tingkat kerumitan barongan itu. 

"Pembeli biasanya dari Tulungagung dan Kediri," tutut Putut. 

Permintaan barongan mulai meningkat sejak 2 tahun lalu. 

Pemesan lebih didominasi oleh pemuda. Pertahun dirinya bisa memproduksi 3-5 barongan. 

Kayu waru dipakai lantaran kayunya yang ulet, ringan dan awet. Putut biasanya mendapat bahan kayu untuk baronganya dari warga sekitar. 

Satu batang kayu dibeli dengan harga 500-600 ribu. 
Sementara bahan untuk jamang atau hiasan kepala barongan yang terbuat dari kulit didapatnya dari pengusaha krupuk rambak di daerah sembung dengan harga 150-200 ribu per kilo.

Biasanya dirinya menggunakan kulit kerbau karena lebih kencang dan awet. 

"Satu jamang rata-rata butuh hingga 2 kilo kulit," terangnya. 

Barongan buatanya merupakan barongan khas Tulungagung,  yang mempunyai ciri dahi tinggi,  bibir tebal dan monyong, kelopak mata yang tebal dan panjang sekitar 22-23 cm.