KITAB INGATAN 45

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Hampir 24.00 Di Tubuhku
- dd nana*


Terlalu pagi, kesedihan seharusnya kita jerang di kuali
Untuk memandikan biji kopi.

1/ Selamat pagi, mari kita kuliti mimpi
Yang tersesat dan menghuni rambut kita. Lantas menerobos ingatan-ingatan yang tak seharusnya terbuka.
Bahkan sunyi memahami hal itu. 
Karena ingatan yang terlarang
Terlalu pedih untuk kita hidangkan di meja makan.
Pagi, seharusnya tidak kita usik dengan segala perih.

2/ Secangkir kopi yang baik hati telah menunggu
Untuk kita seduh dalam tubuh kita yang tak ingin terberai.
Saling melilit, bertukar lidah, menyelam ke berbagai lekuk paling rahasia.
Rindu yang menyatu, memang kerap menyamarkan perih, sayang.
Padahal, secangkir kopi yang baik hati telah lama menunggu kita.
Tadi malam dirinya sendirian menyulam cahaya dari tubuh kita yang saling belit dan menyatu.
"Kalian itu rapuh, maka terus meminta penyatuan. Aku yang menguatkan," bisik kopi yang kita tinggal sendirian.
Rindu memang kerap melupakan tubuh fana kita, sayang.

3/ Demi langit yang mengandung hujan
Kau tahu apa yang paling kutakuti.
Ketika hatimu mekar, tapi aku terkubur sunyi di dalamnya.
"Entah kenapa aku mengingat penyair yang menuliskan kalimat nyeri itu."

4/ Sujudlah, karena pengetahuanmu tak ada artinya
Pada mata cinta yang dilindungi lapisan-lapisan 'kun'.
Bahkan dikelopak daun rindu, kita kerap terkapar
Dikubur air mata sendiri. Dan puisi-puisi meninggalkan aksaranya sendiri.
Ragamu fana, tuan.

5/ Celana, kamu dan secangkir kopi arabika
Tanggalkan saja, untuk apa kau sembunyikan dosa manis ini.
Biarkan aku hidu sepuasnya. Bukankah pertemuan itu serupa aroma, sayang.
Hanya sesaat merekahkan pori-pori tubuh dan mengaliri penat
Setelahnya adalah perih sedu sedan.
Tanggalkan saja. Besok, kalender kembali berangka hitam.
Maka aku tinggalkan celana dan membiarkan kopi arabika sendirian
Kamu adalah pintu kepulanganku yang sebentar lagi terkunci.
Serupa aroma, serupa aroma.

6/ Pagi dan rasa cemas yang tak ingin aku ingat
Di sisiku hanya ada aroma yang perlahan hilang. 
Setelahnya kau tahu, akar-akar runcing rindu menghujam
Mataku. Menghukumku berulang-ulang.
Kau menghilang.
-Terlalu pagi, kesedihan seharusnya kita jerang di kuali
Untuk memandikan biji kopi-
Mungkin ingatan mau berbaik hati
Menyulam cahaya dari tubuh kunang-kunang
Dan meminjamkannya kepadaku yang menggigil merindu aromamu.

 

*Hanya penikmat kopi

 

Pewarta : Dede Nana
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top