Bayangkan saja, saat dua insan capres ini menangis bersama dan saling memeluk dalam dekapan Roy Kiyoshi (Ist)

Bayangkan saja, saat dua insan capres ini menangis bersama dan saling memeluk dalam dekapan Roy Kiyoshi (Ist)


Pewarta

Editor

Redaksi


* dd nana

Karena dunia nyata dan dunia maya semakin menghablur, semakin tipis. Maka saya ajak Anda untuk masuk dalam area bayang-bayang. 

Bayang-bayang bukan sesuatu yang misterius atau mistik dalam konteks klenik saja. Tapi adalah rumusan matematika yang bukan hanya sekedar bilangan tambahan, pengurangan, pengalian dan seterus-terusnya. Lo kok bayang-bayang jadi masuk ke soal matematika segala ?. Lupakan.

Lupakan saja. Saya tidak ingin berdebat dan berpanjang-panjang tentang hal tersebut. Intinya, yuk kita sebentar masuk untuk menyusun skenario yang tidak mungkin juga ada di benak para timses capres yang memiliki motto, "Tak sedetik pun waktu kubuang, demi memenangkan jagoan kita. Maka mari kita rayakan segala alat untuk menjadi alat perang,".

Skenario ini adalah mengenai tiga orang. Kalau cuma dua, tahu sendiri gaduhnya suasana. Laki-laki semua lagi. Beda kalau dua orang beda jenis kelamin, pasti sukanya yang anteng dan sepi-sepi.

Satu bapak Jokowi, dua bapak Prabowo yang kini saling berebut kursi. Dan yang ketiga (tentunya bukan penggoda seperti dalam setiap pameo, "Hati-hati berduaan, karena ketiganya adalah setan") adalah anak indigo bernama Roy Kiyoshi.

Dua lelaki yang dipersonifikasi berbeda kasta oleh para pengikut setia (?) nya dan dinegasikan dengan ningrat dan rahayat ini. Kita bayangkan tidak berdebat di podium yang hiruk pikuk serta cahaya yang spektakuler. Sampai-sampai rambut abang-abang e Anisha Dasuki sang moderator pun semakin kemilau di mata warganet. Tapi, kedua calon presiden RI ini berdebat di meja bundarnya Roy Kiyoshi yang disebutnya meja kejujuran.

Kalau Anda tidak kenal Roy Kiyoshi kebangetan deh. 

Lo, emangnya penting kenal die ?

Penting banget disaat akal sehat diikat. Saat yang benar diotak-atik, yang salah-salah dipermak ala kendaraan atau wajah dan dijadikan imam.

Absurd !

Daripada cebong atau kampret.

Sudahlah..Intinya bayangkan saja Roy Kiyoshi ada di tengah kedua capres kita ini. Menggantikan Anisa atau Tommy. Dalam sebuah debat (entah siapa yang pertama pakai redaksi ini. De-Bat, teringat BAT, BAT lain. Seperti BATMAN, BATIK, BATU etc). Definisi yang mengarah personifikasi atau ciri-ciri yang misterius, berwajah dua (Batman), rumit (Batik), kaku dan keras (Batu).

Jokowi dan Prabowo berhadap-hadapan di meja bundar kejujuran dipandu Roy Kiyoshi yang dianggap memiliki hidung dan mata yang bisa menembus dimensi lain. Apa tidak keren tuh ?

Dimana dalam debat tersebut tidak ada ucapan, "Maaf Bapak waktu habis, waktu habis...". Atau tidak ada yang lagi ramai di medsos tentang paslon 01 berbohong dengan data. Atau tentang lo ngomong e pasal 33 UUD 1945 tapi punya lahan ribuan hektar.

Karena semua itu bisa langsung didedah di meja kejujuran secara langsung, seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya oleh Roy Kiyoshi yang meramal siapapun yang jadi presidennya di tahun para cebong dan kampret menunjukkan eksistensinya, akan masih banyak bencana yang melanda Indonesia ini. 

Musyrik loe, percaya hal-hal gono'on...

Berisik ah loe, ini ruang gue. Terserah ngomong apa gue...

Roy akan langsung meng-cut kalau tercium kebohongan dari dua paslon ini. Sehingga keduanya akan benar-benar bicara di meja kejujuran Roy, tentang apa sih sebenarnya diharapkan dari kursi presiden itu.

Benarkah semua kegaduhan lima tahunan ini semuanya untuk rahayat Indonesia (bukan rahayat pengikut paslon atau partai politik yang belum apa-apa sudah menyusun skenario jatah menteri, misalnya). Benarkah keduanya adalah calon-calon terbaik yang dimiliki negara kepulauan yang diduga sebagian kalangan adalah tinggalannya kerajaan Atlantis itu. 

Serta atau-atau lainnya yang menyebabkan kolam dan hutan-hutan hanya diisi dan dikuasai oleh dua makhluk saja.

Padahal, tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Padahal Tuhan tidak hanya menciptakan makhluk cebong dan kampret saja. Makhluk yang halus-halus juga diciptakan dan yang menjadi awal segala peristiwa seperti dicatat kitab-kitab.

Dengan kepolosan gaya bicaranya Roy akan membedah segala yang disembunyikan dan tersembunyi dalam dua kepala capres tersebut. Serta mungkin, seperti dalam acaranya yang tayang sampai di atas pukul 24.00 WIB di tivi swasta. Roy akan mendedahkan makhluk lainnya yang ada di kedua insan yang "dipilih" atau terpilih untuk berduel ini.

"Saya melihat ada penampakan makhluk astral di belakang anda berdua. Baunya...hmmm...Anda bawa sesuatu ? Silahkan ambil dulu. Saya ingin melihatnya. Tolong penonton tetap fokus, fokus, fokus..." Begitulah mungkin yang akan diucapkan Roy.

Itu hanya ada dalam bayangan saya saja. Kalau terlintas dibayangan Anda juga, ya syukurlah, kita satu frekuensi.

Saat tidak ada ruang untuk saling melempar hal yang dianggap dan kadung disebut kebenaran dan kebohongan oleh para hamba dimedsos. Saya bayangkan kedua insan yang jenis kelaminnya sama ini akan saling bertatapan. Seperkian detik atau menit, lahirlah air mata, serupa Adam dan Hawa dalam masa hijrah dari surga Tuhan ke surga lain yang masih begitu purba dan disebut dunia.

Bayangan saya, keduanya menahan isak. Bahu mereka yang berbeda terguncang lembut. Giliran Roy yang bicara, "Lepaskan saja..biarkan mengalir. Agar proses pembersihan ini berjalan lancar. Lepaskan saja..." ucapnya.

Akhirnya keduanya menangis serupa kanak-kanak. Ini indah bukan? Daripada saling berteriak dengan nama rahayat. Lantas, keduanya saling mendekati dan saling berpelukan. Tanpa cipika-cipiki yang semakin ngetrend di berbagai tayangan tivi. Mau kelamin sama maupun berbeda.

Roy pun duduk. Meja bundar kejujuran lenggang. Hanya coretan-coretan dan gambar Roy yang tergurat di sana. Penonton ikut hanyut. Ada yang ikut terisak menahan tangis, ada yang menunduk ada yang memejamkan mata.

Jokowi dan Prabowo pun saling bicara. Bukan tentang program kerja yang tentunya masih harus tarik ulur kepentingan. Karena pemerintahan kita bukan hanya ada presiden saja. Mereka curhat-curhatan sebagai manusia. Ekspresi wajah mereka sangat manusiawi dan tidak ada ruang untuk diterjemahkan macam-macam oleh para pengikutnya maupun masyarakat. 

"Kini, saatnya para bapak untuk mulai hidup yang baru. Perbanyak amalan dan jauhi yang pernah menjadi bibit-bibit permusuhan. Serta sampaikan pada para pengikut bapak-bapak, ayok berlomba-lomba memberi saja yang terbaik bagi semua manusia," tutur Roy yang tidak perlu membuka bukunya sambil menyampaikan ulang nama, tanggal lahir dan nomor rumah Jokowi dan Prabowo.

Terus habis itu apa?

Tak ngopi dulu friend...

Aku masukkan handphone dalam tas hitam bergambar kepala buring hantu. Yang kata anakku, lebih mirip wajah tuyul.

*Penikmat kopi lokal saja

Tag's Berita

End of content

No more pages to load