Kubur Rutinitas, Komunitas Ini Bumikan Giat Sosial

Cindy Intan Co Founder Maju 58 Comunity saat menyampaikan aksi sosialnya (Maju 58 for MalangTIMES)
Cindy Intan Co Founder Maju 58 Comunity saat menyampaikan aksi sosialnya (Maju 58 for MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Peran komunitas menjadi keniscayaan dalam mewujudkan berbagai asa mengurangi kemiskinan maupun kesehatan. 

Tanpa mengecilkan peran pemerintahan yang kerap terjebak dengan politik kebijakan keuangan maupun skala prioritas kegiatan serta alur birokrasi. 

Situasi dimana program kegiatan dalam persoalan kemiskinan dan kesehatan, terjatuh pada rutinitas, serta hanya melahirkan angka-angka saja.

Kondisi tersebut yang membuat peran komunitas menjadi penyeimbang dalam berbagai persoalan birokrasi di tubuh pemerintahan. 

Seperti yang dilakukan oleh Maju 58 Community, sebuah komunitas pemuda yang berada di Dusun Kebonsari, Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung.

Komunitas yang lahir dalam upaya menyerap dan menyatukan energi pemuda untuk sebuah tujuan besar dalam ikut serta melakukan pembangunan di wilayahnya. 

Pembangunan yang berangkat dari persoalan yang tumbuh dan hidup di wilayah Maju 58 Comunity lahir.

"Komunitas ini terbentuk untuk ikut serta terlibat langsung dengan persoalan yang ada di masyarakat. Berusaha memberikan bantuan-bantuan secara kontinyu dalam berbagai kegiatan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat," kata Cindy Intan Co Founder Maju 58 Comunity, Minggu (24/02/2019) kepada MalangTIMES dalam acara pasar sembako murah di Kebonsari, Ngebruk.

Cindy melanjutkan, berbagai kegiatan yang selama ini dilaksanakan dengan melibatkan berbagai unsur juga sebagai antitesa. 

Dari banyaknya kegiatan sosial yang kerap banyak terjebak pada rutinitas dan seremonial saja.

Kegiatan-kegiatan sosial yang berhubungan dengan masyarakat, biasanya marak pada moment-moment tertentu saja.

"Hal ini yang coba Maju 58 Community kubur. Kita tidak terikat dengan berbagai moment. Kita adakan kegiatan dalam upaya bersama warga untuk meminimalisir persoalan klasik yang hidup. Seperti kemiskinan maupun kesehatan yang juga jadi persoalan sehari-hari masyarakat. Tidak muluk-muluk, kita hanya ingin terus adakan kegiatan yang berguna dan bisa dirasakan manfaatnya oleh warga," urai perempuan berhijab ini.

Untuk lebih menguatkan aksi sosial tersebut Maju 58 Comunity yang sejak kemarin menggelar pengobatan gratis dengan melibatkan pemerintah desa. 

Komunitas ini menggelar pasar sembako murah sebanyak 300 paket bagi warga desa Ngebruk.

Kegiatan ini menggandeng berbagai pihak lain sebagai bagian sinergitas dalam membantu berbagai program pemerintah daerah. 

AKUMANDIRI dan Arthagraha Peduli pun digandengnya dalam upaya membumikan aksi sosial bagi masyarakat. 

Selain juga sebagai bentuk pembelajaran bagi Maju 58 Comunity yang mengusung kegiatan sosial bukan sekedar seremonial, untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak.

Dodit Sugiarto, Ketua AKUMANDIRI Kabupaten Malang, menyampaikan di acaravpasar sembako murah, sangat mendukung sepenuhnya berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan  yang diselenggarakan oleh Maju 58 Community. 

"Ini kegiatan positif yang harus kita dukung penuh. Kami pikir dengan bergeraknya semua elemen akan semakin membumikan aksi sosial yang bisa meringankan beban masyarakat. Ini  tanggungjawab kita semua, bukan hanya pemerintah," ujarnya. 

Dodit pun menyampaikan dalam acara pasar sembako murah, ada sebanyak 300 paket yang disediakan. 

Tidak dibagi secara gratis, tapi warga juga diberi pemahaman mengenai bantuan sosial tersebut.

Bahwa, saatnya aksi sosial tidak memposisikan masyarakat sebagai subjek yang 'lumpuh permanen' secara sosial ekonomi.

Anton Wibisono dari Arthagraha Peduli Surabaya (kiri) menyaksikan pasar sembako murah (Maju 58 for MalangTIMES)

"Kita posisikan sebagai pribadi-pribadi yang mampu. Harapannya akan lahir mental-mental pekerja keras dari masyarakat. Kami tidak memberi ikan secara langsung tapi kail untuk mendapatkan ikan," urai Dodit yang mengatakan per paket sembako murah dari harga normal pasaran Rp 50 ribu hanya ditukar dengan harga Rp 25 ribu.

Senada dengan Dodit, Anton Wibisono dari Arthagraha Peduli Surabaya, mengatakan, keterlibatannya dalam aksi sosial tanpa memposisikan masyarakat sebagai subjek yang benar-benar 'lumpuh permanen' sosial ekonominya. Telah menjadi bagian dari organisasinya selama hampir 20 tahun lebih. 

Sembako bersubsidi yang telah lama dijadikan kegiatannya bersama organisasi lain, seperti AKUMANDIRI memang diperuntukkan dalam upaya meringankan masyarakat dalam persoalan primer sehari-hari. 

"Kita tidak menutup mata dengan adanya persoalan tersebut. Karenanya kita aktif dalam mendukung berbagai kegiatan komunitas yang ada. Bukan sebagai pahlawan tapi sebagai bagian dalam persoalan yang dihadapi masyarakat. Karenanya kita tidak sekedar bagi-bagi sembako gratis saja, tapi ada juga nilai-nilai lain dalam setiap event," urai Anton yang juga secara langsung terjun di lokasi kegiatan. 

Pola kegiatan sosial Maju 58 Comunity bersama AKUMANDIRI dan Arthagraha Peduli, ternyata lebih diapresiasi oleh masyarakat Kebonsari, Ngebruk. 

Seperti yang disampaikan salah satu warga bernama Endang. Dirinya menyampaikan, kegiatan-kegiatan tersebut sangat membantunya terutama dalam memenuhi kebutuhan sembako.

"Yang lebih penting lagi kegiatan ini lahir dari para pemuda desa sendiri. Kita  senang dan bersyukur dengan adanya kegiatan yang diselenggarakan ini," ucapnya di sela acara pasar sembako murah.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top