Kasus Stunting Kota Malang 5,3 Persen, Bung Edi: Langkah Konkret Pemkot adalah Berikan Edukasi

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko di sela acara peringatan Hari Gizi Nasional. (Foto: Imarotul Izzah/Malang Times)
Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko di sela acara peringatan Hari Gizi Nasional. (Foto: Imarotul Izzah/Malang Times)

JATIMTIMES, MALANG – Saat ini, persentase kasus stunting yang ada di Kota Malang sejumlah 5,3 persen. Angka ini, menurut Wakil Wali Kota Malang Sofyan  Edi Jarwoko, masih jauh di bawah persentase provinsi (26,7 persen) dan persentase nasional (37,2 persen). Meski begitu, pria yang akrab disapa Bung Edi ini menegaskan, angka 5,3 persen tersebut harus ditekan sekecil mungkin.

"Ini adalah angka yang harus ditekan sekecil mungkin. Dan itu butuh kerja keras. Kita di angka 5. Bersyukur kita. Tapi masih ada pekerjaan, masih ada PR yang harus diselesaikan," ungkapnya saat ditemui di sela acara Seminar Kesehatan 'Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi' dalam rangka rangkaian peringatan Hari Gizi Nasional di Hotel Aria Gajayana Kamis tadi (28/2).

Peserta dalam peringatan Hari Gizi Nasional tersebut mulai dari perwakilan SD dan MI di kota malang, ahli gizi se-Kota Malang, beberapa pimpinan institusi kesehatan mulai dari Ub, Poltekkes Malang, RSSA, serta Rumah Sakit Swasta di Kota Malang yang ada ahli gizinya.

Nah, inilah langkah awal menekan angka tersebut. Yakni dengan memaksimalkan seluruh potensi yang ada di kota Malang. Maka dari itu perlu melibatkan seluruh kalangan, mulai dari kalangan akademisi, kalangan masyarakat, profesi tenaga ahli, termasuk pengusaha, dan pemerintah salah satunya untuk menggerakkan sadar gizi dengan makan sayur.

"Semua berperan serta bersatu-padu untuk menggerakan sadar gizi kampanye makan sayur. Kita kampanyekan untuk gemar makan sayur. Karena sayur ini adalah sumber gizi di samping ikan dan lain sebagainya," paparnya.

Nah, langkah konkret yang dilakukan Pemerintah Kota Malang sendiri adalah memberikan edukasi mengenai sadar gizi ini. "Langkah konkritnya adalah bagaimana kita memberikan edukasi kepada orang tua dan masyarakat bahwa gizi itu penting. Dan itu murah. Bisa diberikan dari lingkungan kita," terang Bung Edi.

Edukasi ini diberikan kepada semua kalangan dan seluruh potensi yang dimiliki, baik itu di kalangan pendidikan, sekolah-sekolah, termasuk ibu-ibu PKK, kelompok tahlil, posyandu, kelurahan. "Semuanya bergerak," tandasnya.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top