Menjawab Polemik Istilah Kafir dan Non Muslim, Begini Penjelasan Ahli Tafsir Quraish Shihab

Foto istimewa (screenshot YouTube)
Foto istimewa (screenshot YouTube)

JATIMTIMES, MALANG – Belakangan ini, publik ramai memperbincangkan soal kafir. 

Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab menyatakan sebaiknya kita tidak mudah menuduh orang lain sebagai kafir. 

Hal ini dikatakan mantan Menteri Agama tersebut dalam video ShihabNShihab episode Kafir yang kembali diunggah akun Instagram @matanajwa.

Video fullnya bisa ditemukan di akun Youtube Najwa Shihab. 

Dengan tegas Quraish Shihab menyatakan, menuduh orang kafir sanksinya sangat berat dan yang menuduh itulah yang kemudian dinilai Tuhan sebagai kafir.

"Nabi bersabda, siapa yang menuduh orang lain kafir dalam arti kata keluar dari agama, padahal dia tidak keluar dari agama, maka dialah yang menuduh itu yang dinilai Tuhan kafir. Itu sangat berat sanksinya," ujarnya.

Lebih lanjut ia menyatakan bahwa yang buruk itu adalah mencap seseorang dengan kekufuran sebelum terkumpul hampir semua bukti tentang kekufurannya. Ia kemudian mengutip Imam Ghazali.

"Kalau ada satu orang melakukan pelanggaran agama dan sudah terbukti 99 persen dia melanggar agama, jangan dulu cap dia sebagai kafir sebelum sempurna 100 persen," katanya.

Nah, saat ini, beberapa orang yang mengartikan kafir sebagai non muslim dan karena itu tidak apa-apa diperangi. Dengan tegas Quraish Shihab menyatakan hal itu salah besar.

Al Quran bahkan menyatakan bahwa apabila ada seorang muslim yang datang meminta perlindungan maka muslim harus melindungi dia agar dia bisa mendengar ayat-ayat Allah. 

Setelah dia mendengar, kalau pun dia tidak mau menerima Islam dan meninggalkan maka seorang muslim harus mengantarkannya ke tempat tujuannya sampai dia merasa aman.

"Jadi tidak ada istilah kalau kamu kafir lantas bisa dianiaya, bisa ditipu, disiksa, apalagi dibunuh. Tidak!" tegasnya.

Lebih lanjut Abi menjelaskan, Allah tidak melarang seorang muslim untuk berbuat baik, untuk memberi sebagian harta, apalagi untuk memperlakukan adil terhadap orang-orang yang tidak beragama Islam selama dia tidak memerangi muslim, selama dia tidak memusuhi, dan mengusirnya dari negerinya.

"Jadi orang tinggal di negeri kita, tamu dari luar, atau orang yang di dalam negeri, mereka itu adalah saudara-saudara kita kemanusiaan walaupun tidak seagama," tandasnya.

Kafir sendiri dari segi bahasa diambil dari kata kafarah yang berarti menutup. Nah, dari segi agama, kafir memiliki makna bermacam-macam.

Pertama, kafir yang berarti menutupi kebenaran dan keesaan Allah tentang kebenaran agama padahal dia tahu.

"Ini yang paling keras," imbuh Quraish Shihab.

Kedua, ada kafir yang menutupi kebenaran karena sebenarnya dia tidak memiliki informasi yang. 

Ketiga, kafir yang dia percaya pada Allah, percaya pada ajaran agama, tapi tidak melaksanakannya sehingga dia menutupi pelaksanaannya itu. 

Orang kikir pun bisa disebut kafir karena menutupi hartanya dengan kekikirannya.

https://youtu.be/E-pAlfBDzos

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : Heryanto
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top