Atlesta (Foto: Atlesta)

Atlesta (Foto: Atlesta)



Kultur sosial yang tidak sehat di era digital saat ini mendapat perhatian dari musisi Malang Atlesta. Atlesta menyoroti segala hal yang serba 'wah' yang ditampilkan di media sosial oleh para selebgram, beauty vlogger, dan youtuber yang telah membuat sebagian besar anak muda silau.

Kesempurnaan yang terpampang di media sosial ini kemudian menjadikan sebagian besar anak muda membanding-bandingkan diri mereka dengan sosok-sosok yang mereka lihat di sosial media. Mereka lantas berusaha keras mengikuti gaya hidup yang mereka lihat di media sosial.

Ada yang kemudian merasa tidak percaya diri karena merasa dirinya banyak kekurangan, kemudian menjadi depresi, bahkan beberapa kasus ada yang sampai bunuh diri.

Padahal, apa yang ditampilkan oleh sosok-sosok yang mereka lihat di media sosial kebanyakan hanyalah pencitraan. Hidup mereka tidaklah sesempurna yang terlihat di media sosial.

Fenomena ini menjadi salah satu inspirasi Atlesta membuat lagu berjudul "Living the Rumour". Hari ini (15/3), ia merilis single dan video klip “Living The Rumour” tersebut. Lagu terbaru soloist electro-pop ini mulai hari ini sudah bisa dinikmati secara digital.

Fifan, sosok di balik nama Atlesta,  menyatakan bahwa kali ini ia ingin lebih peduli dengan isu-isu sosial yang ada. "Saya inginnya sekarang lebih peduli pada hal-hal seperti itu. Setidaknya Atlesta memberikan positif energi untuk anak muda yang dengerin Atlesta. Karena depresi, being lonely itu capek banget. Dan itu kadang berakhir dengan bunuh diri yang mana itu jadi problem besar," ujarnya kepada awak media saat acara konferensi pers belum lama ini.

Ia kemudian menjelaskan kebiasaan anak muda yang selalu membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Banyak anak muda yang merasa minder karena melihat hal-hal yang ditampilkan orang lain di media sosial.

"Banyak anak muda sekarang yang terobsesi banget lihat youtuber, beauty vlogger, atau terobsesi banget jadi kayak selebgram, mati-matian menjadi kayak pribadi yang dia lihat. Padahal sejatinya menurut saya sekalipun kalian tidak menirukan siapa pun yang kalian anggap sebagai ikon di media sosial kalian tetap orang yang sempurna," jelasnya.

Fifan menyatakan, banyak hal di media sosial yang bisa menjadi destruktif. Karena itulah, dalam lagu ini, Atlesta menghadirkan narator yang bercerita tentang bagaimana orang-orang yang mempercayai citra atau gambaran tentang seseorang dalam persepsi mereka sendiri. Padahal, citra tersebut bisa saja sangat berbeda dan benar-benar mengaburkan fakta-fakta yang sebenarnya tentang individu tersebut.

Trek dengan balutan electro-pop khas Atlesta ini akan masuk dalam sebuah rilisan EP (extended play) Atlesta yang rencananya akan dirilis pertengahan tahun ini. “Pokoknya EP ini akan menjadi semacam konklusi dari 3 album yang sudah saya rilis,” tandas Fifan.

Sebagai salah satu musisi kawakan yang masih bertahan di tengah timbul dan tenggelamnya musisi-musisi dalam industri musik Kota Malang ini, Fifan menyatakan bahwa kunci untuk bertahan adalah komitmen dan fokus.

"Yang penting komitmen dan stay focus. Tapi Malang akhir-akhir ini oke banget sih menurut saya. Banyak rilisan-rilisan menarik dari temen-temen yang gila-gilaan. Dan saya yakin pertengahan tahun ini (kancah musik) Malang akan sama dengan Jakarta," pungkasnya.

Tag's Berita

End of content

No more pages to load