Batik Tulis Celaket Tembus Pasar Internasional

Proses pewarnaan Batik Tulis Celaket bermotif Apel
Proses pewarnaan Batik Tulis Celaket bermotif Apel

JATIMTIMES, MALANG – Batik merupakan warisan dunia yang ditetapkan oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2009 silam. Berbagai macam motif batik yang  sudah dibuat oleh warga Indonesia khususnya para pengrajin batik. Batik tersebut, dapat dibuat dengan beberapa cara, di antaranya dengan ditulis (decanting), dicap, dan saat ini sudah ada yang diprint.

Namun, untuk pengrajin tulis sendiri saat ini sudah jarang yang mempertahankannya. Hal tersebut dikarenakan tingkat kerumitan dan ketelitian serta kesabaran untuk proses pembuatan batik tulis. Sehingga, tak sedikit orang yang mencoba belajar membuat batik tulis tersebut sering kali gagal atau tidak berhasil dalam pelukisan lilinnya di atas kain. Tak seperti batik cap dan print yang lebih mudah dipelajari proses pembuatannya.

Batik Tulis Celaket (BTC), merupakan salah satu sentra pembuat batik tulis di Kota Malang yang masih bertahan hingga saat ini. Batik Tulis Celaket yang berlokasi di Jalan Jaksa Agung Suprapto no 2 Kota Malang tersebut hanya membuat batik tulis dan batik cap saja. Batik tulis ini milik Hanan Jalil yang dirintisnya sejak tahun 2000. Ia menuturkan usahanya tersebut sempat mengalami jatuh bangun ketika tahun 2003 lalu ia harus gulung tikar lantaran perekonomian dalam negeri dan tidak berpihaknya pemerintah terhadap kelangsungan bisnis.

“Sempat jatuh bangun dari tahun 2003 sampai akhirnya kita bangkit lagi sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia” papar Hanan kepada Malangtimes.com

Dari pengalaman tersebut, ia menuturkan bahwa setiap usaha pasti pernah mengalami proses dimana akan merasakan jatuh dan akan merasakan saat bangkit kembali. Sebab, pengusaha yang sukses pasti pernah mengalami proses jatuh bangun selama merintis usahanya tersebut.

“Pengusaha itu harus pernah mengalami jatuh, dan ketika jatuh adalah pengalaman yang sangat berharga sehingga akan mencari cara agar bisa bangkit dan tidak jatuh lagi,” pungkasnya.

pembuatan batik cap motif topeng yang juga diproduksi di Batik Tulis Celaket

Batik buatannya tersebut saat ini sudah digunakan oleh seluruh jajaran pemerintahan Kota Malang. Batik buatannya sudah dipakai sejak era pemerintahan Peni Suparto sebagai Walikota Malang tahun 2006.

“Mayoritas kedinasan di Kota Malang menggunakan batik buatan sini. Mereka membeli langsung dan tidak melalui proses lelang. Awal digunakan itu sejak tahun 2006 di era Wali Kota pak Peni Suparto,” tegasnya.

Lanjutnya, tak hanya digunakan di pemerintahan Kota Malang saja, batik buatannya juga digunakan oleh sejak awal pemerintahan Bupati Malang Rendra Kresna. “Yang digunakan itu  batik motif bunga puring dan bunga teratai yang pertama kali digunakan di pemerintahan Kota Malang waktu itu,” jelas Hanan.

Adapun motif batik yang disajikan adalah batik motif Malangan. Di antaranya, motif topeng, singa dan bunga teratai serta bunga puring yang menjadi khas Kota Malang. Kemudian, batik topeng ia buat dengan melihat kesenian khas Malangan yang kental dengan kesenian topeng di Malang.

Sementara itu, ia menuturkan untuk selembar batik tulis dengan ukuran 250 cm x 115 cm mampu dibuatnya paling cepat selama lima hari saja. Tergantung dengan tingkat kerumitan dari desain yang dikerjakan. “Rata – rata dalam sebulan satu anak mampu membuat sepuluh lembar batik yang sudah siap” ujar Hanan

Saat ini, ia mempekerjakan sekitar 40 orang pembatik yang kesemuanya kalangan remaja warga sekitar tempat usahanya. Untuk pemasarannya ia sudah memasarkan melalui gerainya yang tersebar di Solo, Bandung, Jakarta dan Bali. Selain itu, ia juga sudah mengekspor batik buatannya ke mancanegara seperti Asia, Eropa dan Australia. Motif singa, teratai dan topeng yang saat ini paling banyak dipesan.

Untuk bahan yang digunakannya sendiri ia menggunakan bahan dari Solo. Sebab, menurutnya bahan dari Solo merupakan bahan yang bagus dan pas untuk proses pembuatan kain batik.

“Spesifikasi bahan yang ada di Jatim ini kurang pas untuk membuat batik. Lilinnya itu tidak untuk batik, lebih mudah pecah jika digunakan untuk membatik. Kemudian untuk kainnya juga memiliki tingkat kerapatannya benangnya yang kurang pas untuk membatik,” jelasnya.

Untuk harganya, batik tulis celaket ini dibandrol mulai dari harga Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah untuk setiap helainya. Tergantung tingkat kerumitan dari desain yang dibuat.

Pewarta : Luqmanul Hakim
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top