Ekses Tol Mapan, Pedagang Hewan Singosari Protes

Pasar hewan Singosari yang lama dan terbilang memiliki fasilitas bagi pedagang (Saka Doci)
Pasar hewan Singosari yang lama dan terbilang memiliki fasilitas bagi pedagang (Saka Doci)

JATIMTIMES, MALANG – Ekses pembangunan jalan tol Malang-Pandaan (Mapan) kembali disoal. Setelah warga sekitar wilayah Pakis, Singosari dan Lawang beberapa bulan lalu melakukan protes karena jalanan rusak disebabkan kendaraan pengangkut material tol, kini bagian para pedagang hewan Singosari yang melakukan protes.

Pasalnya, lokasi pasar hewan yang semula di Desa Dengkol, Kecamatan Singosari dan terkena dampak pembangunan tol Mapan direlokasi ke Desa Blandit, Kecamatan Singosari. Di lokasi baru inilah, para pedagang hewan merasa lokasi berdagang tidak representatif seperti di pasar hewan lama yang tergerus pembangunan jalan tol Mapan. 

Mencoba untuk bertahan sampai sekitar 11 bulan, akhirnya para pedagang hewan pun tidak kuat lagi. Merekapun melakukan protes dengan kondisi pasar yang semula dijanjikan akan memiliki fasilitas sama dengan pasar lama. “Pasar ini merupakan tukar guling dari pasar lama yang terkena proyek jalan tol. Kami dijanjikan jika fasilitasnya akan dilengkapi seperti yang ada di pasar lama. Tapi hingga hampir 11 bulan ini belum ada tindak lanjutnya. Kami sudah dua kali mengirimkan surat,” kata Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Hewan Singosari, Yunus Fauzan, kepada malangtimes.com Jumat (15/03/2019).

Fasilitas minimum yang dimaksud para pedagang adalah tiang dan atap pasar hewan. Sedangkan lainnya adalah kondisi pasar yang sampai saat terlihat masih berantakan. Seperti yang diucapkan juga oleh Rosidi (50) salah satu pedagang di pasar hewan. "Pasarnya berantakan sekali. Tidak ada tempat untuk mengikat ternak dan atap. Jadi kalau hujan buyar sudah negosiasi kita dengan pembeli," ujarnya. 

Dampaknya adalah terjadinya kelesuan jual beli. Baik dengan adanya penurunan pedagang yang mencapai 50 persen maupun para pembeli. Dikarenakan selain lokasi yang belum terlalu familiar dibandingkan pasar lama, juga kurang lengkapnya fasilitas di pasar hewan tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan para pedagang melakukan aksi protes terhadap kondisi yang mereka alami selama berbulan-bulan lamanya ini terhadap PT Jasa Marga yang terkait dengan proses tersebut. 

Persoalan inipun akhirnya dicoba untuk diselesaikan dengan fasilitasi DPRD Kabupaten Malang. Hadi Mustofa anggota DPRD Kabupaten Malang, meminta kepada pihak PT Jasa Marga untuk segera bertindak terkait aspirasi para pedagang hewan Singosari tersebut. “Saya berharap pihak Jasa Marga merespons aspirasi para pedagang untuk segera membangun fasilitas pelengkap di pasar ini. Ini kondisinya merugikan masyarakat dan pedagang,” ujar Hadi Mustofa.

Dia juga menyatakan persoalan tersebut nantinya akan dibahas dalam rapat komisi. "Kita panggil pihak-pihak terkait sehingga hal ini terjadi dan membuat para pedagang hewan seperti ini," imbuhnya.

Di kesempatan berbeda, Camat Singosari Eko Margianto pun angkat bicara terkait persoalan tersebut. Dirinya menjelaskan pihak kecamatan tentunya akan juga melakukan berbagai penanganan terkait protes pedagang tersebut. "Pasar hewan ini memang belum dibangun sesuai perencanaan. Kita nanti akan mengakomodir keluhan pedagang," ujar Eko.

Seperti diketahui, pasar hewan Singosari saat belum dilakukan relokasi buka setiap dua kali dalam seminggu. Yakni di hari Senin dan Jumat dengan kapasitas luas pasar bisa menampung 1.000 lebih pedagang hewan. Fasilitas pun terbilang lengkap bagi pedagang hewan. Sayangnya adanya relokasi malah membuat pedagang hewan dirugikan dengan lokasi dan fasilitas yang tidak sama dan dijanjikan oleh pihak PT Jasa Marga.

Pewarta : Dede nana
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top