Situs Sekaran Sengaja Dirusak, Peneliti Masih Cari Karbon Dating

Struktur situs sekaran desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang (Luqmanul Hakim/Malang Times)
Struktur situs sekaran desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang (Luqmanul Hakim/Malang Times)

JATIMTIMES, MALANG – Balai Arkeologi (balar) Daerah Istimewa Yogyakarta hari ini, Senin (15/4/2019) hentikan proses penelitian di situs sekaran yang sudah berlangsung sejak Kamis (11/4/2019). Dari hasil penelitian lanjutan yang sudah dilakukan oleh tim arkeolog dari Balar Yogyakarta tersebut menyimpulkan bahwa situs tersebut sudah mengalami kerusakan.

Sedangkan situs sekaran sendiri sudah mengalami 4 fase. Fase pertama situs tersebut difungsikan sebagai tempat suci. Fase kedua situs tersebut ditinggalkan. Fase ketiga situs tersebut terjadi pengerusakan masif yang dilakukan oleh manusia dengan pembuatan semen merah serta sebagai bahan bangunan untuk bata tersebut, dan juga digunakan untuk pengolahan lahan. Kemudian fase keempat ditemukan kembali.

Kerusakan tersebut disebutkan Hery Priswanto Ketua Tim Arkeolog Yogyakarta kepada Malangtimes.com akibat dari aktivitas manusia yang merusaknya. "Itu kerusakan akibat dari manusia, bukan dari alam," jelasnya.

Sedangkan untuk hasil temuan sendiri dikatakannya ia mendapati struktur bangunan situs yang ditemukan tersebut meruoakan sebuah pondasi dari tempat peribadatan di masa lampau yang berlokasi paling tinggi dan paling sakral. "Temuan itu merupakan tempat suci kuno yang berupa sisa pondasi yang hanya meninggalkan 4-5 lapis bata dan berada di lokasi tertinggi dan yang paling sakral" jelasnya.

Lanjutnya, ia mengatakan bahwa pihaknya sudah menyusun laporan sementara terkait situs Sekaran akan ada beberapa pihak yang segera bekerja. "Ada pihak Balar terkait penelitian lanjutan, BPCB terkait pelestarian dan pengamanan, Disparbud Kabupaten Malang terkait pengembangan lokasi, jasa marga dan oihak desa," paparnya.

Namun, ia menjelaskan bahwa selama penelitian berlangsung, ia dan timnya masih belum menemukan adanya karbon atau arang. Sehingga, penelitian terkait karbon dating masih belum bisa dilakukan karena lokasinya sudah terganggu dengan aktivitas manusia terhadap situs selama ini. "Ada satu tugas yang belum bisa dilakukan terkait karbon dating. Sebab lokasinya sudah disturb, karena sudah terganggu," ujarnya.

Lanjutnya, ia mengatakan bahwa ia sudah mengusulkan untuk adanya penelitian lebih lanjut dari Balai Arkeolog untuk situs sekaran tersebut. Pasalnya, waktu ideal untuk sebuah penelitian dikatakannya membutuhkan waktu minimal 20 hari. Sehingga nantinya pihak BPCB trowulan bisa menindak lanjuti situs tersebut untuk upaya penyelamatan, pelestarian dan nantinya akan dilakukan pemugaran terhadap situs tersebut. "Area ini sangat potensial. Idealnya penelitian itu minimal 20 hari," pungkasnya. 

Pewarta : Luqmanul Hakim
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top