Melalui Program Kotaku, Sutiaji Sampaikan Kampung Kumuh Turun Drastis

Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

JATIMTIMES, MALANG – Melalui program Kotaku yang digelontorkan melalui Kementerian PUPR, Wali Kota Malang Sutiaji menyampaikan jika kawasan dan kampung kumuh di Kota Malang saat ini sudah mulai mengalami penurunan yang lumayan bagus.

Dia menjelaskan, dari total sekitar 600 hektare lahan kawasan kumuh, saat ini sudah ada sekitar 200 hektare lebih yang menarik diri sebagai kampung kumuh. Secara perlahan, dia pun optimis kampung kumuh yang kini coba untuk dientaskan itu akan terus berkurang.

"Kesadaran masyarakat dan mindset mulai berubah, sehingga membuat kampung yang dulu kumuh sudah tak lagi kumuh," jelasnya pada wartawan belum lama ini.

Pria berkacamata itu menjelaskan, berkurangnya kampung kumuh tersebut bukan semata ketika lahan perkampungan dihilangkan atau digusur. Melainkan melalui sederet program yang kini memang tengah trend di kalangan masyarakat.

Salah satunya seperti program kampung tematik. Di mana untuk mengentaskan stigma kumuh, sederet kampung yang notabene kumuh disulap dengan konsep seperti Kampung Warna-Warni dan Kampung Tridi. Sehingga, pertumbuhan perekonomian masyarakat juga lebih kuat.

"Salah satunya seperti warga yang tinggal di sepadan atau pinggir sungai yang jumlahnya mencapai ribuan. Kita tidak bisa langsung menggusur begitu saja, mau ditempatkan di mana mereka. Tapi melalui edukasi dan cara baru, kampung kumuh sekarang tak lagi kumuh," tambahnya.

Namun meski begitu, ia menjelaskan jika kawasan sepadan sungai secara perlahan akan dibersihkan dari pemukiman. Namun tidak serta merta dengan melakukan penggusuran. Pemerintah Kota Malang pun memilih untuk mempersiapkan lahan yang benar-benar bisa ditinggali.

Karena bagaimana pun juga, lanjutnya, kawasan Sungai Brantas merupakan area strategis. Di mana selalu terjadi banjir dalam kurun waktu 50 tahun sekali, dan itu pasti akan mengeruk kawasan yang ada di pinggir sungai.

"25 meter dari sepadan sungai itu bisa habis. Maka kalau bisa memang harus ada upaya untuk membersihkan, tapi tidak langsung begitu saja. Sekarang mindset masyarakat diubah secara perlahan," pungkas Sutiaji. 

Pewarta : Pipit Anggraeni
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top