Kades Jubung Sukorambi, Bhisma Pradana SH (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

Kades Jubung Sukorambi, Bhisma Pradana SH (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)



Beredar video kepala Desa Jubung Kecamatan Sukorambi Jember Bhisma Pradana yang diinterogasi sejumlah petugas Perhutani.

Dalam video dengan durasi 3 menit 28 detik ini, Kades Jubung Bhisma Pradana yang berpakaian hem bermotif batik daun ini terlihat sedang ‘melindungi’ warganya dari interogasi sejumlah petugas Perhutani.

Video yang beredar di media sosial ini direkam menggunakan kamera ponsel.

Dalam rekaman tersebut Bhisma terlihat sedang berdebat dengan beberapa oknum Perhutani di sebuah ruang, dimana dalam percakapan tersebut, Bhisma hendak membawa pulang warganya namun dicegah oleh petugas dari Perhutani. 

Bahkan di akhir video juga terlihat sempat akan terjadi ‘gesekan’ antara kades Jubung.

“Memang benar di video itu, sempat terjadi perselisihan antara saya dengan beberapa petugas Perhutani, kejadiannya 3 hari yang lalu di rest area Jubung,” ujar Bhisma kepada sejumlah wartawan.

Bhisma menjelaskan, bahwa perselisihan tersebut bermula saat warganya yang bernama Choirul Anam hendak membuka warung yang semula kandang ayam di rest area Jubung, oleh petugas dari perhutani dihentikan.

Warganya disuruh membongkar kembali warung yang akan didirikan, bahkan yang bersangkutan dibawa ke ruang kantor rest area yang ada di lokasi.

 

 

“Saat itu saya mendengar ada warga saya yang dibawa pihak Perhutani, terus saya datangi. Di sini terjadi perdebatan, sebab warga saya disuruh membuat surat pernyataan bersalah, dan saya melarangnya, saat mau saya ajak pulang, oleh pihak Perhutani dilarang, sehingga sempat terjadi insiden kecil, namun tidak sampai fatal, dan warga saya juga sudah pulang,” ujar Bhisma.

Bhisma menyayangkan sikap Perhutani yang semena-mena mengelola rest area Jubung, menurut Bhisma, lokasi rest area yang ada di desanya, tidak memberikan dampak ekonomi bagi warganya, hal ini dikarenakan rata-rata penjual di lokasi tersebut bukan warga Jubung, tapi dari luar kota.

“Ada 64 stand di rest area ini, tapi hanya ada 8 yang warga saya, sedangkan warga saya yang akan mendirikan stand dipersulit, kalau warga luar kota justru di permudah,” beber Bhisma.

Padahal, menurut pria yang juga ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jember ini, keberadaan rest area oleh Pemkab Jember diperuntukan untuk mengangkat perekonomian warga sekitar yang orientasinya membantu ekonomi rakyat, tapi pihak Perhutani berorientasi pada profit.

“Rest area ini kan dikelola bersama antara Pemkab dan Perhutani, pihak Pemkab sudah orientasinya ekonomi kerakyatan, bagaimana ekonomi masyarakat di sini bisa terbantu dengan adanya rest area ini, tapi pihak Perhutani orientasinya justru profit oriented,” sesal Bhisma. (*)

Tag's Berita

End of content

No more pages to load