Tumpukan ratusan kompor gas yang masih tersimpan di Balai Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Tumpukan ratusan kompor gas yang masih tersimpan di Balai Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Bertempat di ruang bagian belakang atau tepatnya ruangan mirip dapur di Balai desa Kalibatur, tumpukan kardus berisi kompor gas di taruh. 

Ratusan paket kompor dengan merk yang sama sudah sekitar sepuluh tahun berada ditempat itu.

Dari informasi yang dihimpun, terjadi dugaan penggelapan paket kompor gas dari kompensasi konversi minyak tanah ke gas elpiji yang dilakukan pihak distributor.

"Kompor-kompor ini berada di gudang kantor desa ini sejak tahun 2009, hingga kini tak pernah dibagikan ke warga," kata salah satu informan yang enggan disebutkan namanya.

Saat awak awak media mendatangi lokasi penyimpanan, ratusan kompor yang tidak dilengkapi dengan paket tabung gas melon 3 kilogram, selang dan regulator teronggok dengan sebagian masih berbubgkus kardus dan sebagian lagi sudah tidak berbubgkus.

Menurut anggota BPD Desa Kalibatur, Sukardi, saat itu ada kiriman paket lengkap dan sudah dibagikan.

“Waktu itu ada sekitar 500 paket kompor, selang, regulator dan tabungnya. Sudah habis semua dibagikan,” tutur Sukardi Rabu (19/06) siang

Kemudian datang paket lagi sekitar 600 kompor tanpa dilengkapi selang, regulator dan tabung gas. Dengan alasan tidak lengkap, perangkat saat itu menyimpan di gudang kantor desa.

"Kekurangan selang, regulator dan tabung gas itu diharapkan lekas dikirim, tapi ternyata tabung gas dan lain-lain tidak pernah dikirim. Kami menduga sengaja digelapkan,” sambung Kardi.

Perangkat tidak berani membagikan lantaran takut jika ada resiko baik dari warga dan juga pihak berwajib. 

Akhirnya, perangkat  berusaha menanyakan kekurangan paket ini ke distributor, namun tidak pernah ada jawaban.

"Bahkan saat itu, warga yang tidak menerima paket kompor gas dari pemerintah juga melakukan protes," tambahnya.

Warga curiga, justru para perangkat yang menggelapkan paket dari pemerintah itu, namun warga menyadari ternyata memang dari distributor tidak pernah dikirim kekurangan yang dimaksud.

“Akhirnya kompornya disimpan di gudang sampai sekarang. Kepala desanya ganti, barangnya masih di gudang,” ucap Kardi.

Karena tidak mendapatkan pembagian kompor, warga saat itu mengandalkan kayu bakar.

Kebetulan desa ini berada di wilayah pegunungan dan dekat area hutan.

Sementara pelan-pelan minyak tanah dicabut dan diganti gas elpiji.

Karena tidak mungkin terus menerus menggunakan kayu bakar, warga akhirnya membeli kompor gas dan tabung gas secara mandiri.

“Kami mau protes, protesnya juga kemana? Kami di desa, tidak tahu apa harus dilakukan saat itu,” keluh Kardi.

Seingat Kardi, saat itu tidak ada peran Pemkab maupun Pertamina untuk mengusut paket kompor gas yang tidak lengkap ini.

Sebelumnya hal yang nyaris sama terjadi di Desa Jabalsari, Kecamatan Sumbergempol. 

Dugaan penggelapan paket kompor gas dari pemerintah pusat juga terjadi dan Modusnya serupa yakni desa hanya menerima 500 paket kompor gas, tabung, selang dan regulator. 

Kekurangan 1500 dari 2000 paket yang seharusnya diterima tak pernah sampai ke warga lantaran diduga digelapkan distributor.