Plt Wali Kota Blitar Santoso saat memberikan sambutan di acara seminar penyakit tidak menular 'Hipertensi dengan deteksi dini'.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Plt Wali Kota Blitar Santoso saat memberikan sambutan di acara seminar penyakit tidak menular 'Hipertensi dengan deteksi dini'.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)



Dalam dunia kesehatan, hipertensi dikenal dengan istilah the silent killer atau pembunuh diam-diam. Hal ini dikarenakan gejalanya sering tidak disadari dan setelah komplikasi baru disadari. Penyakit ini bisa menyerang hampir setiap gender dan tidak mengenal usia.

Melihat kondisi itu, Pemerintah Kota Blitar melalui Dinas Kesehatan menggelar seminar penyakit tidak menular ‘Hipertensi dengan Deteksi Dini’, Kamis (26/9/2019) di Ruang Sasana Praja, Kantor Wali Kota Blitar.

Seminar ini menghadirkan narasumber dr Rofika Hanifah dari RSUD Mardi WaluyoKota Blitar, sementara peserta terdiri dari TP PKK, Dharma Wanita, Persit Kodim 0808/Blitar dan Batalyon Inf 511//DY, Bhayangkari Polres Blitar Kota, Dharma Yukti Karini, Muslimat NU, Aisyiyah, Salimar, IIDI dan pengelola program Puskesmas se Kota Blitar.

Dalam laporan kegiatannya, Kepala Dinkes Kota Blitar, M.Muchlis, mengatakan penyakit tidak menular harus dikendalikan untuk mencegah masyarakat yang sehat agar tidak jatuh ke fase beresiko atau menjadi sakit berkomplikasi. Upaya itu dilakukan dengan membangun kesadaran dan komitmen yang tinggi dari berbagai pihak.

“Penyakit tidak menular dewasa ini menjadi ancaman serius dalam pembangunan di bidang kesehatan. Perubahan demografi, urbanisasi dan kemajuan teknologi, serta globalisasi perdagangan dan peningkatan progresif dalam pola hidup tidak sehat di masyarakat, berdampak terhadap peningkatan prevalensi penyakit tidak menular di masyarakat,” ungkap Muchlis.

Dikatakannya, penyakit tidak menular yang saat ini menjadi masalah serius adalah hipertensi. Sesuai data, jumlah penduduk Kota Blitar di tahun 2018 untuk usia 15-59 tahun sejumlah 91.240 jiwa dengan prevalensi hipertensi  30,3% (target nasional 32.679). Dari jumlah itu, penduduk yang diperiksa berjumlah 11.047 jiwa dengan diagnose hipertensi sejumlah 3.733 jiwa (33,8% dari target nasional).

“Pada tahun 2019 prevalensi hipertensi naik menjadi 40.7% (target nasional 44.793 jiwa). Harapan dari kemenkes kita bisa menemukan orang hipertensi sebanyak 44 ribuan. Sementara jumlah penduduk yang kita periksa dan emukan hipertensi di semester 1 tahun 2019 baru sekitar 17.070 jiwa (38,1%). Maka masih kurang banyak, kurang sekitar 25 ribuan,” paparnya.

Muchlis mengaku, belum optimalnya kinerja dinkes dalam menemukan penderita hipertensi disebabkan masih kurangnya tenaga dan sarana dan prasarana. Disamping itu ada kecenderungan, orang yang datang ke Puskesmas rata-rata didominasi orang yang sudah sakit atau mengidap penyakit hipertensi.

“Orang yang sehat tidak mau berkunjung ke Puskesmas untuk periksa. Lha kalau masyarakat pro aktif, minimal periksa tensi sebulan sekali, maka kita akan bisa dapat banyak (penderita hipertensi),” paparnya.

Lebih dalam Muchlis berharap para peserta yang diundang dalam seminar ini dapat menggerakkan masyarakat dan kelompoknya untuk aktif mengajak masyarakat yang sehat untuk periksa ke Puskesmas.

"Kami berharap kegiatan ini bisa ditindaklanjuti, peserta yang ikut seminar ini bisa menjadi motor menggerakkan masyarakat untuk aktif periksa ke Puskesmas,” tandasnya.

Sementara itu Plt Wali Kota Blitar, Santoso, mengapresiasi dinas kesehatan yang menggelar seminar ini. Menurut Santoso, seminar ini sangat penting untuk menciptakan pola hidup sehat bagi masyarakat Kota Blitar. serta mencegah penyakit hipertensi yang dikenal sebagai pembunuh diam-diam atau silent killer.

“Deteksi dini harus digalakkan, karena kecenderungan yang terjadi orang jaman sekarang baru periksa ketika kondisinya sudah sakit. Itu termasuk pola yang tidak benar, karena yang benar sejak dini penyakit itu harus segera dideteksi. Karena kalau tidak, seringkali orang akhirnya mati mendadak karena penyakitnya tidak terdeteksi sebelumnya,” ungkap Santoso.

Lebih lanjut Plt wali kota menghimbau kepada masyarakat untuk tidak perlu takut periksa rutin sebagai bentuk pencegahan penyakit. “Dengan cepat diketahui, maka penyakitnya bisa segera diterapi dan disembuhkan oleh ahlinya, sehingga bisa menjadi sehat kembali. Penyakit tidak menular ini penting bagi saya, harus diperhatikan agar tetap sehat,” tandasnya.(*)


End of content

No more pages to load