Ilustrasi (istimewa)

Ilustrasi (istimewa)



Kenaikan tarif cukai rokok belum ditentukan. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) Tipe Madya Malang masih menungguu PMK (Peraturan Menteri Keuangan). Setelah ada kepastian, maka besaran tarif cukai rokok akan segera dapat direalisasikan.

Kepala KPPBC Tipe Madya Malang Rudy Hery Kurniawan menyampaikan, kenaikan cukai merupakan salah satu kebijakan dari pemerintah pusat. Setiap tahun, kenaikan cukai selalu menjadi hal yang tak bisa dihindari dan memang sudah banyak diketahui oleh para pengusaha rokok.

"Setiap tahun tarif cukai memang hampir selalu mengalami kenaikan. Dan para pengusaha mengetahui itu," katanya kepada wartawan, Kamis (3/9/2019).

Rudy menjelaskan, kenaikan cukai sudah terjadi enam kali, terhitung sejak 2001, 2003, 2004, 2008, 2014 dan yang terakhir 2018. Rata-rata kenaiakan adalah sebesar delapan persen dan terbesar di 2012 sebesar 14 persen. Setelah itu, kenaikan berada di kisaran delapan hingga 11 persen.

Sementara untuk 2020, kenaikan tarif cukai direncanakan sebesar 23 persen. Namun meski begitu, Bea Cukai Malang masih belum mengetahui dengan pasti penetapan tarif nantinya. Sebab,  sejauh ini masih menunggu PMK. Ketika PMK telah keluar, maka akan dapat ditentukan berapa besaran cukai yang akan digunakan.

"Tahun depan kenaikannya memang cukup besar,dan ini menjadi sebuah risiko agar tak semua bisa membeli produk bercukai. Sebab, tujuannya memang untuk mengurangi konsumsi produk bercukai," jelasnya.

Sementara itu, di Malang sendiri saat ini tercatat kurang lebih terdapat 150 pabrik rokok yang beroperasi. Kenaikan cukai pun selalu disosialisaikan kepada semua pengusaha rokok. Karena setelah aturan turun dan diterapkan, maka Bea Cukai Malang akan menerapkan aturan yang telah disepakati tersebut.

 


End of content

No more pages to load