Kasi P2P Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka tunjukan HBIG (foto : Joko Pramono/JatimTIMES)

Kasi P2P Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka tunjukan HBIG (foto : Joko Pramono/JatimTIMES)



Pemerintah menargetkan pada tahun 2030, bayi yang baru lahir terbebas dari 3 penyakit berbahaya. Penyakit itu antara lain HIV, Sifilis dan Hepatitis B. Upaya ini dilakukan dengan berbagai cara, antara lain dengan pemeriksaan ibu hamil secara intensif di Puskesmas dan Rumah sakit.

Khusus untuk kasus ibu hamil yang menderita Hepatitis B, dalam kurun waktu tahun 2018-2019, ditemukan sekitar 94 ibu hamil terkena penyakit mematikan ini. Dari 94 ibu hamil yang menderita hepatitis B itu sebagian telah melahirkan.

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita Hepatitis B rentan tertular dan membutuhkan penanganan khusus selambatnya 24 jam pasca dilahirkan.

“Apabila ibunya tertular Hepatitis B. yang kita siapkan vitamin K, vaksinasni HB nol dan HBIG yang harus di injeksikan pada bayi 12 jam setelah kelahiran,” ujar Kasi Penyakit Menular Dinkes Tulungagung, Didik Eka, Rabu (9/10/19).

12 jam merupakan merupakan masa paling efektif untuk memberikan vaksin hepatitis B, meskipun bisa diberikan selambatnya 24 jam pasca dilahirkan. Seluruh obat itu diberikan secara gratis oleh pemerintah.

Sekedar informasi, vaksin HBIG untuk hepatitis B harganya dipasaran sekitar 2,5 juta rupiah.

Hepatitis B kegananasan virusnya 100 kali lebih berbahya dibandingkan HIV. Seringkali penderita penyakit ini tidak mengetahui jika telah tertular penyakit yang menggerogoti hati ini. 70 persen orang baru mengtahui setelah menjadi kronis.

Setelah kronis, gejala umum yang terjadi kulit menjadi kuning, mual, mudah lelah dan terakhir organ hatinya terkena sirosis yang mebuat fungsi hati berkurang.

Jika HIV bisa mematikan penderitanya dalam kurun waktu sekitar 10 tahun sejak terinfeksi, hepatitis B hanya 2-3 tahun bisa menyebabkan penderitanya meninggal. Penularanya juga hampir sama dengan HIV.

“Melalui hubungan seksual, tranfusi darah, jarum suntik, samalah dengan penularan HIV/AIDS,” terangnya.

Uniknya, dunia kesehatan telah menemukan vaksin untuk penyakit ini, namun obat untuk menyembuhkanya belum ada. Untuk menekan berkembangnya virus hepatitis B dalam tubuh, penderita diwajibkan minum obat yang hanya berfungsi menahan berkembangnya virus, seperti halnya penderita HIV/AIDS.

 


End of content

No more pages to load