Kepala bidang (Kabid) Bina Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang, Rahmat Hidayat (Hendra Saputra)

Kepala bidang (Kabid) Bina Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang, Rahmat Hidayat (Hendra Saputra)



Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang akan mempertemukan 50 daerah yang mengikuti Lomba Kampung Bersinar dengan perguruan tinggi dan pelaku usaha di 'Bhumi Arema' untuk membicarakan kelanjutan perubahan yang dilakukan masyarakat terhadap lingkungannya.

Lomba Kampung Bersinar yang diadakan oleh DLH Kota Malang saat ini sudah masuk 50 besar dalam penilaian.

Dengan perubahan besar yang dilakukan oleh masyarakat kepada lingkungannya, membuat DLH Kota Malang merasa harus ada kelanjutan agar masyarakat bisa melanjutkan langkahnya.

Rencananya, akhir Oktober DLH Kota Malang akan kumpulkan kurang lebih 220 orang yang terdiri dari peserta Lomba Kampung Bersinar, perguruan tinggi dan pelaku usaha di Kota Malang.

"Karena partisipasi masyarakat ini butuh kelanjutan, nah ini butuh fasilitasi dari pemerintah kota dengan mengadakan pertemuan bersama kampus yang ada di Kota Malang dan pelaku usaha. Nanti semua itu dikumpulkan bersama 50 RW yang kampungnya sudah berbenah itu supaya memikirkan kedepannya mereka bagaimana setelah melakukan perubahan di wilayahnya masing-masing," ujar Kepala bidang (Kabid) Bina Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan DLH Kota Malang, Rahmat Hidayat kepada MalangTIMES.

Hal ini menurut Rahmat dilakukan supaya menjadi habbit atau kebiasaan menciptakan lingkungan bersih dan sehat untuk masyarakat. Karena para pelaku usaha memang ada program yakni Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM). Selain itu juga keterlibatan mahasiswa KKN biasanya berpengaruh kepada masyarakat.

"Nah mereka ini kan berkecimpung di Kota Malang, harapannya itu bagaimana mereka berperan ikut aktif mengelola lingkungan sekitarnya, terutama di kampungnya. Kalau secara kota kan sudah mempunyai APBD, dalam hal ini sudah ada dinasnya yang menangani, tapi kalau kampung kan memang terbatas anggaran, makanya butuh keterlibatan pihak lain dalam hal ini pelaku usaha," katanya.

"Untuk perguruan tinggi ini dalam hal pembinaan dan sebagainya, lalu untuk pelaku usahanya sendiri itu seperti CSR semisal nambah gerobak atau bagaimana itu tergantung daerah dan kesepakatannya," imbuhnya.

Jadi dengan adanya keterlibatan pelaku usaha dan perguruan tinggi, masyarakat bisa merasakan kehadiran untuk membangun kota bersama-sama. "Harapannya juga setelah itu kan ada kemitraan dan kerjasama, kami sebagai dinas ini memfasilitasi atau menjembatani. Ini juga bisa terkait dengan program DLH sendiri seperti kualitas air, kualitas udara, pengelolaan sampah," pungkas nya.


End of content

No more pages to load